Selasa, 01 September 2015

DPRD Ditinggal Dua Pimpinan

Redaksi     Selasa, September 01, 2015     ,
SuaraBojonegoro.com - Selama kurang lebih 40 hari, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro akan ditinggalkan ketua Mitroatin sekaligus wakil ketua 1 Sukur Priyanto Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro yang berangkat melakukan ibadah haji.

"Ya, dua pimpinan sudah mengajukan cuti mulai hari ini Selasa (1/9/15)," kata wakil ketu dua DPRD Bojonegoro, Suyuti.

Menurutnya sebagaimana yang diatur dalam PP 16 jika ketua berhalangan dalam hal ini yaitu melaksanakan ibadah haji maka kepemimpinan diserahkan kepada wakil ketua satu sedangkan jika wakil ketua satu juga berhalangan dalam hal ini juga akan melaksanakan ibadah haji maka kepemimpinan dibawah nakhoda wakil ketua dua.

"Semua tanggung jawab dari kinerja DPRD Bojonegoro selama dua pimpinan melaksanakan ibadah haji ada dibawah wakil ketua dua," ungkap wakil ketua dua, Suyuti.

Seperti yang diketahui dua pimpinan DPRD Bojonegoro yaitu ketua DPRD Bojonegoro dan wakil ketua satu DPRD Bojonegoro akan melaksanakan ibadah haji di tanah suci Makkah pada tanggal 03 September 2015.

Pantauan di lapangan dua pimpinan tersebut juga sudah absen dalam paripurna petetapan KUA PPAS tahun anggaran 2016, Senin (31/8) kemarin. (Ney)

Senin, 31 Agustus 2015

Pembayaran Ongkos Angkut Minyak Tradisional Kini, Tak Sesulit Dulu

Redaksi     Senin, Agustus 31, 2015     , ,
SuaraBojonegoro.com - Selama berjalan dua bulan ini pengelolaan sumur minyak tua dikelola langsung oleh paguyuban. Para penambang yang tergabung dalam paguyuban menilai jika pembayaran ongkos angkut minyak yang dilakukan Pertamina EP Asset 4 ini berjalan tanpa kendala.

Wakil Ketua Paguyuban Wonocolo, Suyitno, mengatakan, selama berjalan dua bulan ini komunikasi antara para penambang dan Pertamina jauh bisa terbuka.

Harga minyak yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat sekitar itu dinilai Rp 2.150 perliter, kemudian ongkos angkat-angkutnya Rp 2.725 perliter.

Pria yang akrab disapa Yosi itu menambahkan, sejak tahun 1988 hingga 2006, lokasi sumur tua seperti lahan tak bertuan.

Kemudian mulai tahun 2006, mulai banyak para penambang yang memanfaatkannya secara bebas dan ilegal.

Di tahun 2012, PT. Pertamina EP datang dan menunjuk pihak ke tiga (KUD) sebagai perantara untuk penjualan hingga memutus kontrak pada tanggal 15 Juni 2015 lalu.

"Pada saat dikelola oleh KUD, hak para penambang itu diabaikan. Mereka sudah seperti perusahaan sendiri dan penambang tidak bisa mengeluarkan ide-ide untuk lebih berkembang," ungkapnya, Senin (31/08/2015).

Dengan adanya kerjasama antara paguyuban dengan PT Pertamina EP, lanjut dia, komunikasi jauh bisa lebih terbuka dan segala aspirasi bisa langsung sampai ke pihak Pertamina.

Terkait dengan masalah keterlambatan pembayaran, Yosi mengaku sejak dulu memang sudah sering molor. Dia yang dulu juga pernah menjadi pelaku sering menalangi pembayaran 3 sampai 4 bulan.

"Kalau molor itu wajar dari dulu. Tapi sekarang dengan adanya kerjasama ini, justru lebih cepat cair. Jika yang sudah-sudah itu sampai 4 bulan, kali ini satu bulan sudah cair," jelas Yosi.

Dia berharap, ke depan hubungan antara PT. Pertamina EP dengan penambang semakin baik. Dengan terbukanya jalan komunikasi antara kedua belah pihak, apapun permasalahan bisa langsung dikomunikasikan.

Sehingga, tidak ada kesalahpahaman dan kegiatan penambangan bisa berjalan dengan lancar, serta bisa meningkatkan produksi. (Lis/Windya)

Dua Petugas Satpol-PP Awasi Aktivitas Pasar Ilegal

Redaksi     Senin, Agustus 31, 2015     ,
SuaraBojonegoro.com - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro menyiapkan dua pasukan untuk mengawasi keberadaan pasar desa Ngampel yang saat ini tahap pengurukan. Hal tersebut dilakukan atas perintah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro yang menyatakan jika pasar desa tersebut belum memiliki ijin sehingga belum diperbolehkan dilakukan aktivitas baik pengurukan. Senin (31/8/15)

"Untuk sampai kapan tidak ada batas waktu, yang jelas sampai mereka (Pemdes) memiliki ijin mendirikan pasar desa," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol-PP) Pemkab Bojonegoro, Arwan.

Dirinya juga mengatakan jika ada tim kusus dari Satpol-PP yang ditugaskan untuk mengawasi pasar desa tersebut sehingga saat ada aktivitas Satpol-PP bisa langsung bergerak untuk menertibkan pekerjaan ilegal tersebut.

Seperti yang diketahui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro menghentikan paksa pembangunan pasar desa Ngampel yang akan berdiri diatas tanah kas desa (TKD) Ngampel Kecamatan Kapas Bojonegoro dikarenakan belum mengantongi ijin satupun dari beberapa ijin yang harus dilakukan. (Ney)

PKL Alun-Alun Akan Dipindah Di Terminal

Redaksi     Senin, Agustus 31, 2015     ,
suarabojonegoro.com - Setelah dilarang berjualan dan berdagang di bagian dalam alun-alun Bojonegoro, kini PKL (Pedagang Kaki Lima), kini bisa bernafas lega karena akan segera mendapatkan tempat baru, yaitu di Halaman Terminal Rajekwesi Bojonegoro.

Seperti yang disampaikan oleh Nurul Azizah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemkab Bojonegoro, bahwa sesuai hasil rapat antara SKPD Terkait dan juga perwakilan PKL dalam Alun-alun Bojonegoro, bahwa mulai besok tanggaln2 September 2015 akan diperbolehkan menempati halaman Terminal Rajekwesi.

"Mulai pindah tanggal 2 besok, yang terdiri dari penjual makanan dan minuman, serta pedagang jasa mainan," Kata Nurul Azizah melalui blackberry masagernya saat dihubungi wartawan suarabojonegoro.com, Senin (31/8/15). 

Diperkirakan para PKL dan juga pedagang sewa mainan anak anak ini jumlah totalnya ada 140 PKL dalam alun alun Bojonegoro, dan rencananya mereka diperbolehkan buka mulai pukul 16.00 hingga 24.00.

Sementara itu Kepala UPT Terminal Rajekwesi Bojonegoro Sentot, mengaku belum menerima informasi terkait hal tersebut dan belum mendapatkan intruksi dari pimpinan yaitu Kepala Dinas Perhubungan yerkait soal itu.

"Saya belum tahu, belum diinfokan dari pimpinan soal akan adanya PKL yang pindah ke halaman terminal," Katanya. (Nella)

3 Rumah & 1 Gudang Terbakar

Redaksi     Senin, Agustus 31, 2015     ,
suarabojonegoro.com - Kebakaran terjadi lagi, kali ini si jago merah melulu lantahkan 3 buah ruamh dan 1 gudang gabah milik kelompok tani di Dusun Tawar, Desa Napis RT. 51, RW. 11, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro Senin (31/8/15).

Paidin (55), Pemilik Rumah mengaku api mulai menyala pada pukul 08.00 WIB, dan terus merambat ke bagian sisi rumah lainnya, "Warga sini berusaha membantu memadamkam api dengan air dan alat seaadanya," Katanya.

Dari data yang dihimpun suarabojonegoro.com, di BPBD Bojonegoro, Selain 3 buah rumah miliknya, api yang diduga berasal dari pembakaran arang tersebut, juga 1 buah gudang milik kelompok tani yang berisi gabah berjumlah 1,5 ton milik pribadi. 

Dijelaskan pula bahwa Satu buah lumbung dusun, serta uang Rp. 7 juta milik kelompok tani, emas 12 gram, 2 lemari, 4 meja, 1 buah diesel, wire diesel milik kelompok tani, juga ikut terbakar.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian kebakaran tersebut, namun dapat diperkirakan kerugian materiil mencapai Rp. 120 juta. (Anggoro)

Foto: Ilustrasi

PNS Yang Masih Proses Hukum Tak Bisa Ajukan Pensiun

Redaksi     Senin, Agustus 31, 2015     , ,
suarabojonegoro.com - Badan Kepegawaian Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, melalui Kepalanya Zaenudin, mengatakan bahwa seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang tersandung kasus hukum tidak bisa mengajukan pensiun dini, Senin (31/8/15). 

"Kalau masih proses hukum dan masih berjalan tidak bisa mengajukan pensiun meskipun usia sudah bisa dilakukan untuk meminta pensiun dini," kata Zaenudin kepada suarabojonegoro.com

Zaenudin juga mengatakan bahwa seorang PNS harus menunggu proses hukumnya dulu jika mau melakukan proses pengajuan pensiun, namun juga dilihat dari ancaman hukumannya, atau tuntutan hukumnya apakah memperngaruhi dengan status PNSnya.

Hal ini disampaikan oleh Zaenudin terkait adanya Anggota PNS yang terlibat kasus hukum baru baru ini dan di tahan di Polres Bojonegoro guna mempertanggungjawabkan perbuatannya yang melakukan pelanggaran pidana. (Anggoro)

Daging Mahal, Bulog Dirasa Belum Perlu Lakukan Operasi Pasar

Redaksi     Senin, Agustus 31, 2015     , ,
Suarabojonegoro.com - Meski harga daging sapi di pasar Bojonegoro dirasa mahal mencapai Rp 95.000 sampai Rp 98.000 perkilogramnya, Bulog dirasa belum perlu melakukan Operasi Pasar (OP).

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Bulog Divre Jatim Witono. "Saya rasa di wilayah Jawa Timur harga daging sapi masih aman dan stabil," katanya saat ikut melakukan panen raya di Desa Dengok Kecamatan Padangan Bojonegoro (29/8) kemarin.

Menurutnya untuk Jawa Timur adalah sentra ternak bahkan ternak dari Jawa Timur di kirim ke DKI Jakarta untuk mencukupi kebutuhan daging disana (DKI Jakarta,"sehingga saat ini belum perlu melakukan operasi pasar," tambahnya.

Dirinya mengatakan jika stok daging Jawa Timur sebenarnya tidak mengalami kekurangan namun kendala yang membuat daging mahal adalah terkait distribusi. "Sehingga jika masalah pengawasan distribusi adalah tugas dari Dinas Perdagangan," tandasnya. 

Meski bukan wewenang pihaknya secara utuh, akan tetapi berharap sistem pendistribusian, serta peternakan sapi agar para peternak tidak menjualnya keluar kota, sehingga tidak akan mempengaruhi harga daging sapi dalam daerah. (Nella)

Merawat Demokrasi Dengan Karya (catatan ringan dari forum Buntwani Johanneaburg)

Redaksi     Senin, Agustus 31, 2015     , ,

By: Kang Yoto (Bupati Bojonegoro) 

suarabojonegoro.com - Mendapatkan undangan di Arfika Selatan mengundang rasa penasaran tersendiri. Pertama demokrasi Afsel hanya kurang lebih lima tahun lebih awal dari Indonesia dan kini tampak sudah matang.

Tentu menarik belajar pengalaman Afsel. Kedua, acara yang saya hadiri sendiri sungguh menarik, Buntwani “The Next Step in Innovation for Good Governance: Moving the dialogue forward from potential to impact” 25-26 August 2015 di Misty Hills Country Hotel, Johannesburg, South Africa. Kegiatan ini dilaksanakan kerja bareng: TechSoup Global, Open Institute and Making all Voices Count. Kegiatan berlangsung sangat dinamis dan difasilitatari oleh: Allen Gunn. Bagi saya mendapatkan pengetahuan dan jaringan untuk peningkatan kapasitas pemerintahan saya yakin sangat bermanfaat bagi Bojonegoro.

Saya sengaja datang dua hari sebelum dimulai, untuk mendapatkan kesempatan istirahat dan ada waktu sehari untuk melihat perkembangan Johannesburge. Saya memilih mengunjungi museum apartheid, dengan cara ini dapat lebih cepat memahami sejarah Arfika selatan. Terutama apa latar belakang politik apartheid dan proses demokratisasi yang melahirkan tokoh menonjol Nelson Mandela.

Di depan museum apartheid, pintu masuk untuk orang kulit putih dibedakan dangan non kulit putih (Robin Backer, kang Yoto dan Anna Seicicka (Techsoup Polandia) Sejak memerdekaan dari ingris, orang orang kulit putih yang umumnya keturunan ingris dan belanda, berjumlah kurang lebih 11 persen membentuk pemerintahan dan menyelenggarakan pemilu yang hanya diikuti laki-laki kulit putih.

Hampir dalam segala hal terdapat pembedaan dengan tegas dan pengestimewaan orang kulit putih, sistem inilah yang disebut dengan apartheid. Sistem ini berakar pada sejarah yang dimulai abad ke 1662 atau abad ke 17. Nenek moyang orang kulit putih dari Inggris dan Belanda datang untuk membuka pertambangan berlian, emas dan chrome. Mereka datang membawa pekerja dari asia. Penduduk asli terpinggirkan karena tidak memiliki kemampuan dan peralatan.

Pemerintah kolonial Inggris tentu saja memberikan dukungan militer. Dominasi ekonomi dan politik kulit putih memang membawa ekonomi Afrika Selatan paling maju diantara negara-negara Africa. Namun kesenjangan antara kaya miskin sangat tinggi. Penduduk non kulit putih yang mayoritas berkulit hitam lebih banyak hidup dalam kemiskinan, tidak memiliki hunian yang layak, tingkat pendidikan rendah dan mendapatkan fasilitas kesehatan yang kurang memadai.

Semua bentuk perlawanan terhadap rezim apartheid akan menyebabkan penjara bagi pelakunya, termasuk Nelson Mandela yang sempat menghuni penjara selama 27 tahun, dan baru dibebaskan oleh Presiden F.W. De Klerk tahun 1990. Proses negoisasi demokrasi memakan waktu hampir 3 tahun, hingga menghasilkan pemilu demokratis pertama tahun 1994 yang diikuti oleh seluruh penduduk usia 18 tahun ke atas laki maupun perempuan, apapun warna kulitnya, berdasar undang-undang baru yang dirancang untuk menghormati HAM.

Pemilu ini dimenangkan partainya Mandela dan mengantarkannya menjadi Presiden. Namun perjuangan Mandela setelah berkuasa tidak kalah beratnya dibanding dengan perjuangannya mendekam di penjara. Tantangan terberat Mandela adalah tuntutan balas dendam dan kehendak dominasi oleh kulit hitam. Namun Mandela menjawab dengan tegas: "tujuan membangun demokrasi bukanlah mengubah dominasi dari kulit putih ke kulit hitam.

Demokrasi itu untuk hidup berdampingan dengan saling respek dan menghargai". Mandela membentuk komisi kebenaran dan rekonsiliasi, dan salah satu kalimatnya yang terkenal: "masa lalu dapat dimaafkan walau tidak untuk dilupakan". Selama memerintah Mandela membangun 700.000 rumah layak untuk orang miskin, memberi fasilitas kesehatan gratis kepada anak-anak, dan melaksanakan wajib belajar 12 tahun. 

Tentu yang paling menonjol adalah keberhasilan Mandela dalam menyembuhkan luka masa lalu dan menyatukan rakyat Afsel apapun kulit dan keyakinannya. Saat ini pergi kemanapun di kota besar akan bertemu orang berlalu lalang, berbeda warna kulit dan keyakinan dalam damai. Sepanjang perjalanan kembali ke Indonesia penulis tiba-tiba berpikir bahwa demokrasi Indonesia tidak kalah hebat. Mandela membangun demokrasi dengan musuh yang secara simbolik sangat jelas: apartheid/kulit putih.

Kita membangun demokrasi melawan watak dan sikap otoriter, radikal, ingin benar dan menang sendiri justru dari sesama saudara, yang kulit dan agamanya sama. Siapa yang dilawan sebenarnya tidak jelas. Tugas transformasi membangun terwujudnya bhineka tunggal ika, penghargaan terhadap kemanusian dan keadilan, moralitas atas dasar ketuhanan dan permusyawaratan yang dipimpin dengan hikmat kebijaksanaan memerlukan usaha keras dan panjang.

Namun baik Afsel maupun Indonesia (baca: Bojonegoro) saat ini sama sama menghadapi tantangan bagaimana merawat demokrasi dan menjadikannya efektif untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, keadilan dan kemajuan berkelanjutan. Demokrasi dimana Pemerintah hadir atas semua masalah rakyat, pemimpin nyambung dengan yang dipimpin, dan penggunaan kekuasaan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk lnilah pertemuan Buntwani terasa sangat relevan.

Pertemuan dihadiri 60an orang dari berbagai dunia terutama Afrika, eropa, asia dan Usa, dengan latar belakang: pemerintah, CSO baca LSM, dan lembaga donor. Semangat sama bagaimana mematangkan demokrasi. Pertemuan ini percaya bahwa keterbukaan data dan inovasi penggunakan teknologi informasi akan memperkuat efektifitas akuntabilitas publik, lahirnya berbagai terobosan yang mampu meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Workshop yang saya ikuti kali berbeda dari biasanya, tidak ada pembicara, tidak ada paper dan tidak ada presentasi. Masing-masing dapat menawarkan pengalaman dan usulan lalu berdusi kecil sesuai minatnya. Peserta yang datang adalah orang-orang terpilih yang sangat kompeten dibidangnya dan telah memiliki karya. 

Usai acara: David (vice Presiden Techsoup afsel) kang yoto, Alen (fasilitator) Imran dan Ali (Pakistan) Saya sendiri tertarik dengan pengalaman Bank Dunia dalam membanguan management banjir berbasis masyarakat dan peta drone, disamping open data berbasis masyarakat di Kenya. Apa yang dilakukan mirip dengan di Bojonegoro, bedanya penggunagaan IT sudah lebih dahulu. Kepada Edward Charles Anderson, senior ICT Policy Specialist (kantor Tanzania) saya menyatakan tertarik dan dia menyanggupi memberikannya secara cuma-cuma.

Ptatfom ushahidi, perusahaan non profit di Nairobi juga sangat menarik. Selain membuka open source secara gratis, Daudi Were, salah seorang pendirinya membuat terobosan yang luar biasa, berbisnis tanpa harus memulainya dengan uang dan dia buktikan lewat Ushahidi. Secara berantai saya bercerita soal pembangunan demokrasi di Bojonegoro, juga bagaimana penggunaan teknologi informatika. Awalnya saya hanya bercerita kepada seorang peserta dari Belanda soal: saya memberikan nomor hand phone kepada rakyat Bojonegoro, dialog publik hari jumat dan LAPOR sebagai upaya membangun hubungan horizontal dengan publik. 

Publikasi data-data pemerintah di web dan open data Indonesia. Penggunaan WA untuk group kepala satker dan group diskusi untuk pengembangan beberapa agenda. Demokrasi di Bojonegoro dibangun bersama-sama, tidak hanya oleh pemimpinnya, tapi juga rakkyat dan seluruh stake holder. Kawan Belanda ini menceritakan kepada yang lain, lalu berturut mendatangi saya Dr George Mukundi, Lucia dari making all voice account, Jeb dari usa, Ketie Benner, kawan jeb dari new york times.

Daudi dari ushahidi bahkan meminta saya menyampaikannya kembali dalam ngobrol kecil. Saya malu ketika di sesi penutupan peserta dari Muzambique merasa sangat terinspirasi soal Bojonegoro dan akan membawa kisahnya ke negerinya. Dr George Mukundi African United Council berbicara agak panjang di sesi penutupan hanya untuk mengatakan trimakasihnya atas pencerahan demokrasi model Bojonegoro. Di perjalanan pulang ia kirim pesan lewat wa kepada saya: "many thanks Mayor, You were my greatest inspiration this entire meeting and hope keep in touch and invite you to our experiences sharing and hope some day will see you...".

Sambil menunggu jemputan, di lobby misty hotel (bukalah di internet soal hotel ini, sebuah hotel di bukit yang sangat menyatu dengan alam) terdengar lirih suara Michael Jackson: we are not alone... Dunia benar-benar flat, horizontal dan tidak berjarak. Bojonegoro bagian dari dunia, lilin kecil yang kita nyalakan untuk merawat dan menggunakan demokrasi untuk membuat hidup bersama lebih baik terlihat oleh dunia. Nyanyian kecil wujudkan masa depan nan jaya, ...saling mencinta senafas dan sejiwa terdengar juga dari sudut kecil Afrika Selatan. Mari kita rawat lilin itu dan biarkan nyanyian kecil itu terus terdengar. Di antara Johannesburg - 

Doha Qatar, 27 Agustus 2015

Pertamina EP Sudah Bayar Ongkos Angkut Minyak Tua

Redaksi     Senin, Agustus 31, 2015     , ,
Suarabojonegoro.com - Pertamina EP Asset 4 menegaskan telah melakukan pembayaran ongkos angkat angkut pada paguyuban penambang tradisional yang mengelola sumur tua di Desa Wonocolo, Kedewan, Bojonegoro. “Pembayaran ongkos angkat angkut pada paguyuban penambang sudah dilakukan. Sesudah administrasi tagihan lengkap, Pertamina EP langsung memproses pembayaran,” kata Cepu Field Manager, Wresniwiro kepada wartawan, Minggu (30/8/2015).

Penegasan itu disampaikan Wiro untuk menepis informasi yang mengatakan, Pertamina EP Asset 4 belum membayar ongkos angkat angkut yang menjadi hak penambang. “Informasi itu salah. Kami sudah membayar ongkos angkat angkut yang menjadi hak penambang,” katanya. Wiro menegaskan, sebagai bagian dari KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama), Pertamina EP Asset 4 harus bisa mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang dikeluarkan sebagaimana bagian dari komitmen menegakkan good corporate governance (GCG).

“Ini menyangkut cost recovery. Jadi semua persyaratan administrasinya harus bisa dipertanggungjawabkan. Meski ini menyangkut biaya ongkos angkat angkut, tetapi karena berkait dengan minyak milik negara, proses pembayaran harus acountable. Kita tidak ingin ada masalah hukum dikemudian hari hanya gara-gara kesalahan admintrasi,” tegas Wiro.

Proses administrasi yang harus cermat dan acountable itulah, kata Wresniwiro yang acap kali belum bisa dipenuhi oleh penambang saat mengajukan tagihan. Karena adminstrasinya belum sesuai ketentuan, tentu saja butuh perbaikan .

“Ini yang agak memakan waktu . Penambang yang tergabung dalam paguyuban bisa memahami permasalahan ini karena Pertamina EP bisa membuktikan asal dokumen lengkap, kita akan proses pembayarannya,” katanya.

Di sisi lain, setelah 2 bulan pengambilan alih lapangan sumur tua oleh Pertamina EP Asset 4 dan menjalin kerjasama dengan penambang di paguyuban, Wiro optimistis kondisi sumur tua akan berjalan semakin membaik.

"Kerjasama sudah membaik dan jalur komunikasi kini sudah terbuka lebar. Ke depan, komunikasi bisa lebih ditingkatkan, dan jika ada salah bisa langsung dikomunikasikan," jelas Wresniwiro.

Seperti yang diberitakan, sejak tanggal 15 Juni 2015 memutus pejanjian dengan KUD Sumber Pangan dan KUD Usaha Jaya Bersama dalam pengelolaan sumur minyak tua. Kemudian sumur tua dikelola secara swakelola antara Pertamina dengan penambang yang tergabung dalam paguyuban. (Ril/Widya)

Minggu, 30 Agustus 2015

TKI Asal Bojonegoro Meninggal Di Masjidil Haram

Redaksi     Minggu, Agustus 30, 2015     ,
suarabojonegoro.com - Meninggalnya TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Negara Saudi Arabia, Dikabarkan oleh rekannya Nurman sesama TKI Asal Lamongan dan juga Lucki asal Bojonegoro melalui Watshappnya yang mengatakan bahwa Awang TKI Asal Bojonegoro tepatnya Warga Desa Pejok, Kecamatan Kepohbaru telah meninggal Dunia Sabtu (29/8/15) setelah sholat Ashar. 

Korban yang diketahui bernama Awang ini, dikatakan jatuh dari atas tiang setinggi 15 meter atau berada di lantai tiga saat mengerjakan perbaikan tiang Masjidil Haram Di Saudi Arabia, dan langsung meninggal ditempat dia jatuh. 

"Diperkirakan korban ini lupa memasang tali pengaman dan kunci pengait, sehingga dia jatuh," Kata Lucki TKI asal Bojonegoro melalui Masangernya, Minggu (39/8/15).

Dia juga menceritakan bahwa Awang sudah bekerja lama di Saudi Arabia sebagai Tukang besi, awalnya dia sedang mengerjakan perbaikan tiang Masjidil Haram,  yang tingginya sama dengan 3 lantai, dan korban ini sebenarnya sudah memakai pengaman kerja, dan dimungkinkan lupa tidak dipasangkan ke besi.

Sementara itu rekan kerja korban, Nurman TKI asal Lamongan mengatakan bahwa dia sempat memotret korban dengan telepon genggamnya, namun tak sempat mengambil indentitasnya. 

"Jenasah korban langsung diamankan Polisi sini sama petugas keamanan, karena jika ada kecelakaan kerja di tutup tutupi oleh pihak sini," Kata Nurman kepada suarabojonegoro.com melalui wathsapp nya. 

Belun ada kejelasan terkait kapan Jenasah akan dipulangkan ke Indonesia untuk dikembalikan kepada Keluarganya di Desa Pejok, Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro, Jawa Timur. (Anggoro)

Maghrib Tiba, Korban Tenggelam Di Air Terjun Nglirip Ketemu

Redaksi     Minggu, Agustus 30, 2015     , , ,
Tuban (suarabojonegoro.com) –Setelah hampir 7 jam dilakukan pencarian oleh Tim SAR BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan juga dari Brimob Bojonegoro dan juga Kapolres Tuban AKBP Guruh Arif yang turut langsung melakukan pemcarian, akhirnya korban Tenggelam yaitu Eva Tri Suryana (15) yang beralamatkan Jl. Sunan Giri, Kabupaten gresik, di perairan wisata air terjun nglirip, dapat ditemukan saat magrib tiba. Minggu (30/8/15).

Kapolres Tuban AKBP Guruh Arif mengatakan bahwa setelah dilakukan pencarian hingga kedalam dasar air akhirnya korban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia, "Alkhamdulillah sudah kita ketemukan mayat korban, selanjutnya kita bawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya," Katanya.

Kapolres Tuban juga menyampaikan ungkapan terima kasih kepada semua pihak atas usahanya dalam pencarian jasad korban, serta memperingatkan agar masyarakat lebih berhati hati dalam kegiatan apapun dan apalagi dilokasi yang belum dikenal, karena kerawanan bahaya bisa mengancam kapan saja.

Sebelumnya pencarian korban tenggelam diperairan air terjun Nglirip, Dengan di bantu Tim SAR dari Polres Tuban yang dipimpin langsung AKBP Guruh Arif, Kapolres Tuban, Pencarian dengan melibatkan tim selam dari SAR BPBD Kabupaten Tuban ini Beberapa kali tim penyelam melakukan penyelaman.

Sebelumnya diberitakan bahwa nasib Apes  dialami Seorang gadis remaja, yang dikabarkan tewas tenggelam di lokasi air terjun Nglirip, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan.

Hingga kini masih dalam pencarian sejumlah warga dibantu petugas. Korban diketahui bernama Eva Tri Suryana (15) asal Kabupaten Gresik. Kejadian berawal ketikaa korban bersama rekan-rekannya karang taruna setempat.

Berliburan di Nglirip. Dari data yang diperoleh suarabojonegoro.com, awalnya korban bersama rekanya datang dilokasi, mereka berselfie secara ramai ramai, tanpa disadari dari keempat remaja ini ada satu diantaranya yang jatuh.

Salah satu yang terjatuh kedalam pemandian, kemudian melihat temanya ada yang jatuh, korban menjebur dengan niatan hendak menolong temanya justru korban tidak muncul dan malah hilang. kejadiannya tersebut terjadi pukul  11.30 WIB. (Anggoro)

       

Copyright © SuaraBojonegoro.com. Designed by Bloggertheme9.