Latest Post

PAN Bojonegoro Respon Usulan Menteri Kang Yoto

Editor : Bojonegoro, Sabtu, Agustus 30, 2014 13.06

SuaraBojonegoro - Masuknya Bupati Suyoto dalam usulan menteri di beberapa Media Sosial dan Portal yang pernah di lansir oleh suarabojonegoro.com,­ banyak mendapat tanggapan dari Masyarakat Bojonegoro, hak tersebut banyak dinilai oleh masyarakat sebagai bentuk fenomena demokrrasi yang ada.

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Bojonegoro menganggapi hal tersebut, bahwa fenomena politik apapun bisa terjadi,dan hal tersebut sebagai wacana, aspirasi, fenomena normal dalam demokrasi. Seperti yang di sampaikan Sekretaris DPD PAN Bojonegoro Lasuri, Sabtu (30/8/14).

"Saya kira kami bangga ada kader terbaik PAN yg masuk nominasi usulan menteri di pemerintahan Jokowi yg akan datang, terlepas nanti apakah betul betul terpilih atau tidak saya kira tidak lah menjadi masalah," Kata Pria yang juga anggota Legislatif tersebut.

Menurut Lasuri masuknya Nama Suyoto yang kini menjabat Bupati Bojonegoro, serta ketua DPW PAN Jatim adalah kebanggan partai, karena Suyotoo merupakan kader terbaik partai dengan segala prestasi selama menjabat sebagai Bupati.

"Ini juga membuktikan bahwa ketokohan dan keberhasilan kang Yoto (Suyoto.red) dalammemimpin Bojonegoro mendapat pengakuan dari masyarakat indonesia," Pungkas Lasuri. (Kurniawan)

Efek Samping Dari Mendengarkan Lagu-Lagu Galau.

Kalo lagi galau biasanya yang suka dilakuin sama orang yang lagi galau adalah nangis didepan jendela,  curhat sama temen, yang lebih ekstrim lagi nyilet-nyilet tangan, ada juga yang sambil dengerin lagu galau sampai ketiduran. Selain ketiduran kalo lagi denger lagu galau juga ada efek samping lain yaitu.....

1. Tambah Galau

 Tambah Galau adalah efek samping yang pasti dirasakan kalo lagi dengerin lagu galau. Biasanya, efek ini dirasakan karena terlau meresapi lirik lagu yang sama kayak yang lagi dirasain waktu lagi galau. Jadi, ya tambah galau pastinya.

2. Nangis
Ini juga, biasanya efek ini disebabkan karena berlebihannya kadar lirik-lirik lagu yang nusuk hati dari lagu galau yang didengerin. Jadinya terbawa suasana dan langsung nangis.

3. Bosan
Kalo kelamaan dengerin lagu galau ya pasti bosan juga. Apalagi kalo lagu galau yang didengerin yang itu-itu aja, pasti rasa bosannya jadi naik level menjadi Super Saiyan Bosan.

4. Ketiduran

Karena terlalu bosan gara-gara kelamaan dengerin lagu galau dan diulang-ulang terus, biasanya akan ngantuk dan langsung ketiduran. Terus masuk ke alam bawah sadar dan di mimpi, kemungkinan ketemu sama orang yang di galauin ada 30%. Terus 80%-nya lagi apa? Ya ngga sadar apa-apa lagi sih kayaknya.

Sumber: http://kautsarbiastafi.blogspot.com/2013/02/efek-samping-dari-mendengarkan-lagu.html

Juara 1 dan 2 Duta Lantas Direbut Stikes ICSADA

SuaraBojonegoro - Prestasi luar biasa ditorehkan wakil dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada (STIKES ICSADA) Bojonegoro. Sebab, pemilihan Duta Lantas Polres Bojonegoro Juara 1 dan 2, baik laki-laki maupun perempuan, dikuasai duta dari Kampus Ungu, sebutan Perguruan Tinggi (PT) di jalan dr. Wahidin Sudirohusodo.

Juara 1 Duta Lantas untuk laki-laki dimenangkan Ahmad Rofiq SSM dan Juara 1 perempuan Dyah renaning Tyas, keduanya mahasiswa STIKES ICSADA Bojonegoro. Untuk juara 2 laki-laki dan perempuan juga dari Kampus Ungu, yakni Ahmad Fandi Zwageri dan Sinta Ardila Pramitasari.

Sementara itu untuk juara 3 laki-laki dan perempuan dimenangkan oleh kampus lain. Acara tersebut sudah berlangsung sejak beberapa Minggu lalu dan diseleksi ketat oleh Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bojonegoro.

"Kami sangat bersyukur dengan kemenangan ini, dan Duta Lantas adalah aktivitas mulia," kata Humas STIKES ICSADA Bojonegoro, Joko Yulianto.

Ditambahkan, jika wakil-wakil dari Kampus Ungu semoga bisa menjalankan amanah dengan baik sebagai Duta Lalu Lintas. Kedepan akan dilakukan serangkaian kegiatan bersama pihak Satlantas Polres Bojonegoro. Terutama untuk membuat generasi muda taat dan tertib pada lalu lintas.

"Ikut serta dalam kegiatan ini sudah sangat luar biasa, apalagi bisa memenangkan juara 1 dan 2 untuk kategori laki-laki dan perempuan," sambungnya. (S. Windya)

Mainan Kelereng Masih Diminati

SuaraBojonegoro - Keceriaan nampak menyelimuti wajah sekumpulan anak-anak yang sedang asyik bermain klereng, dii Desa Ngrapah Kecamatan Ngambon, mereka seolah tak menghiraukan hiruk-pikuk game digital yang saat ini lebih dipilih oleh anak-anak seusia mereka.

Miftahul (10) mengatakan, “nekeran itu asyik mas. Aku punya banyak sekali kelereng di rumah. Sebagian dapat dari beli, dan sebagian hasil menang nekeran sama teman-teman,” ungkapnya saat di temui SuaraBojonegoro.com Sabtu (29/8/14)

Ditanya tentang Play Station, Supri mengatakan, “Main PS emang enak juga mas, tapi bayare mahal dan gampang bosen aku. Nggak seru kayak nekeran rame – rame ini,” imbuhnya lugu sambil tertawa.

Dunia anak-anak terus berkembang sepanjang jaman. Permainan mereka pun tak henti “berevolusi”. Kendati game digital kini menjadi pilihan utama tapi sebagian besar anak-anak di Kabupaten Bojonegoro masih memainkan permainan tradisional. (Kurniawan)

Republik BBM

Ribut-ribut soal “kelangkaan” Bahan Bakar Minyak (BBM) saat ini, menggoda saya untuk ikut nimbrung. Padahal pengetahuan saya tentang permasalahan BBM sangat minim sekali. Saya hanyalah salah satu dari sekian juta konsumen atau pengguna BBM bersubsidi jenis Premium di wilayah DKI Jakarta. Seminggu sekali atau dua kali mampir ke SPBU, membayarnya, lalu melanjutkan aktivitas rutin saya. Sementara di daerah lain, khususnya di luar Jawa dari pemberitaan di mas media antrean panjang di berbagai SPBU menjadi pemandangan sehari-hari.

Banyak pula yang harus pulang dengan kecewa lantaran tidak kebagian BBM bersubsidi alias “Stock Habis” sebagaimana tulisan pada poster-poster yang saat ini marak menghiasi SPBU di hampir seluruh pelosok negeri. Uniknya, berita tentang BBM di wilayah Papua terkesan agak santai, “torang sudah biasa beli satu botol 50 ribu.” Harga setinggi itu mungkin saja bukan harga di SPBU, tapi dari penjual eceran di pinggir jalan karena di SPBU kehabisan stock.

Pemandangan itu sudah terjadi selama satu dua bulan terakhir ini, walupun pengaturan pembatasan BBM bersubsidi baru dikeluarkan Pertamina tanggal 18 Agustus 2014. Menurut penjelasan Menteri SDM, pembatasan quota setiap SPBU ini “terpaksa” dilakukan agar quotanya cukup hingga akhir tahun. Rupanya pada semester pertama pemakaian BBM bersubsidi kita telah melebihi quota, sehingga harus dilakukan pengetatan.

Begitulah kondisi BBM kita saat ini, di negeri penghasil minyak ini. Padahal tanggal 18 Agustus 69 tahun yang lalu, ketika PPKI mengesahkan UUD 1945 menjadi konstitusi resmi negara Republik Indonesia, di dalamnya memuat tujuan nasional. Bahwa Pemerintahan Negara ini dibentuk untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum…dst. (lihat aliena IV Pembukaan UUD 1945). Sementara tanggal 18 Agustus 2014, Pertamina membuat negeri ini bergolak dari Sabang sampai Merauke lantaran BBM langka.

Begitu berpengaruhnya BBM bagi pencapaian kesejahteraan umum, maka setiap kali ‘kesejahteraan umum’ itu terganggu oleh naiknya harga BBM atau langkanya persediaan BBM, negeri ini langsung terguncang. Begitu pula ketika harga minyak di tingkat dunia meningkat, negeri ini ikut makmur. Sebalikhya ketika harga anjlok, terguncanglah keuangan kita. Mungkin agak berlebihan saya menyebut negeri ini dengan “Republik BBM”.

Karena siapapun yang memegang tampuk kekuasaan di Republik Indonesia tercinta ini, pengelolaan BBM menjadi tolok ukur keberhasilan pemerintahannya. Karena permasalahan BBM bersubsidi adalah permasalahan mayoritas masyarakat Indonesia, permasalahan rakyt kecil. Tak terkecuali Jokowi, apalagi sosok Jokowi sudah menjadi ‘icon’ wing cilik. Pertemuan ‘rahasia’ nya dengan Presiden SBY di Bali bebera hari lalu -yang katanya- juga membicarakan persoalan BBM seakan memperkuat predikat “Rebulik BBM” tadi. Jokowi bahkan rela ‘tidak populer’ jika nanti terpaksa harus menaikan harga BBM untuk menekan subsidi.

Ia menyadari betul bahwa menaikan harga BBM adalah sebuah kebijakan yang tidak populer. Tentu saja Jokowi sudah punya sejumlah skenario untuk membenahi persoalan BBM pasca menaikan harganya. Pembenahan mulai dari hulu hingga hilir sehingga rakyat tidak akan kecewa membayar lebih mahal, asalkan ada upaya pembenahan secara sungguh-sungguh soal politik BBM. Ya korupsinya, distribusinya, infrastrukturnya, suprastrukturnya, dan yang tak kalah penting… mafia-nya.***




Sumber: http://politik.kompasiana.com/2014/08/29/republik-bbm-671432.html

Tanah Kas Desa Untuk Bisnis Perumahan

SuaraBojonegoro - Tiga pemilik warung di Dusun Segaran Desa/Kec Sumberrejo memprotes tindakan kepala desa (kades) setempat, dikarenakan warung yang mereka miliki di atas lahan milik kas desa diminta oleh kades untuk tidak lagi berada disana. Direncanakan lahan berukuran 12 X 16 meter tersebut dipakai untuk akses jalan menuju lahan proyek perumahan seluas 1 hektar (Ha) milik H. Affandi warga Kalitidu.

Ketiga pemilik warung yang juga warga setempat itu Supono penjual nasi pecel, Rujiati penjual bakso dan Suyati penjual rujak. ”Jelas apa yang dilakukan kades tidak prosedural, kami mau pergi dari sini, apabila tanah dipakai untuk kepentingan desa, tapi tanah ini mau dipakai untuk pengusaha perumahan. Jelas kami protes, “ kata Supono, Kamis (29/8/14).

Dia mengetahui pengusaha perumahan memberikan uang kepada kades sebesar Rp 60 juta, untuk pembayaran tanah kas desa sebagai akses jalan. Pensiunan PNS Guru itu berharap kepada kades untuk tidak memihak kepada pengusaha, dikarenakan ketiga warung telah berdiri selama 20 tahun.

 “ Kami mengantongi ijin pemakaian tanah kas desa ini dari kades sebelumnya, tiba tiba tanpa ada sosialisasi kami diusir. Ini sama saja mematikan nafkah kami, mestinya kades tidak bertindak seperti ini, “ kata Rujiati sambil menunjukkan surat ijin yang diteken kades dua periode sebelumnya.

Dikonfirmasi terpisah Kades Sumberrejo Siswanto melalui Kepala Dusun Segaran Lukman Fanani membenarkan adanya pemakaian tanah kas desa untuk akses jalan perumahan. “Saya sendiri belum tahu tentang tanah kas desa ini, apalagi soal pembayarannya, sebab setahu saya belum ada rembug desa tentang pemakaian tanah kas desa ini, “ katanya (Ren/ang)

Bupati Gunung Mas Lihat kinerja PKK Bojonegoro

Editor : Sasmito Anggoro, Jumat, Agustus 29, 2014 18.08

SuaraBojonegoro - Bupati Gunung Mas Propinsi Kalimantan tengah, Drs. Arthon S Dohong berserta dengan beberapa pejabat dilingkup Pemerintah Kabupaten Gunung Mas diantaranya Asisten II Kabupaten Gunung Mas Drs. Yansiteron, Kepala Bappeda Margori Limin, SE, Drs Ambo Jabar kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset, jum’at (29/8) pagi tadi melakukan kunjungan di Kantor Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro yang berada satu kompleks dengan Sekretariat Kabupaten Bojonegoro.

Pejabat lain yang hadir dari Kabupaten Gunung Mas adalah Ir. Calvin Sahay Kepala Dinas Pertambangan dan energi, Ir Emanuel Joko Kepala Dinas Kehutanan dan Suprapto Sungan kepala badan Pemberdayaan Masyarakat dan pemerintahan desa Kabupaten gunung mas. Arthon S. Dohong diterima oleh Anggota Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro mulai sekretaris, kelompok kerja (pokja) I, II, III dan IV. Mengawali kunjungannya Arthon melihat dari dekat kondisi panti PKK Kabupaten yang bersebelahan dengan rumah dinas Bupati Bojonegoro.

Arthon menyampaikan bahwa kunjungan ini untuk melihat kinerja dan apa yang dilakukan oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro. Namun esensi yang terpenting adalah melihat kiprah tim penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro dalam rangka menunjang kesuksesan pembangunan sekaligus kegiatan dalam rangka pemberdayaan keluarga dan kader PKK.

Seusai meninjau setiap ruangan yang barada di panti PKK dan kinerja serta program kerja yang dilakukan PKK, Bupati Gunung Mas mengakui takjub melihat yang dilakukan oleh Ketua Tim Penggerak PKK dan anggota Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Hal penting lainnya adalah kerjasama antar instansi yang dilakukan PKK guna menunjang dan bersinergi dengan program yang dilakukan pemerintah. Arthon dengan tegas menyampaikan bahwa Tim Penggerak PKK Gunung Mas untuk melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Bojonegoro. (S. Widya)

Peninggalan Sejarah Kurang Dapat Perhatian

Suarabojonegoro- Banyaknya peninggalan bersejarah  seperti tugu yang ada di kecamatan trucuk dan Rumah Pengungsian Residen yang ada Di Desa Deling Kecamatan Sekar  kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang sudah terjual , dimana peninggalan tesebut  kurang di perhatikan oleh Pemerintah  Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.

Melihat hal tersebut  banyak pemerhati sejarah yang ada Di Bojonegoro  meneriakan  suaranya agar pemerintah setempat lebih  memperhatikan peninggalan bersejarah tersebut, Sebab dengan menjaga benda benda tersebut adalah sebuah bentuk partisipasi kepada pelaku sejarah yang sudah menghadpa kesang ilahi lebih dulu, Seperti yang di sampaikan JFX. Hoery , Jum'at( 29/08/14).

JFX. Hoery, salah satu pemerhati sejarah di Bojonegoro menjelaskan  bahwa,  pemerintah seharusnya  lebih  memperhatikan peninggalan tersebut, sebab banyak peninggalan yang tidak terawat dan bahkan banyak yang rusak.

“ Banyak yang rusak  sebab  pemerintah daerah tidak memperhatikan  dengan adanya peninggalan sejarah tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, para pemerhati sejarah Bojonegoro akan segera mendesak  pemerintah setempat untuk  memperhatikan benda benda bersejarah.

Terpisah Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, melalui  Kasi Pemberdayaan Budaya Tradisional Supardi  menampik  anggapan jika pemerintah setempat tidak memperhatikan peninggalan bersejarah.

“Siapa bilang mas kami dari pemerintah setempat  selalu memperhatikan benda bersejarah tersebut,” pungksnya.(Moedy)

foto: antara.com

Perbaikan RSI Rp 36 M, Kontraktor Masuk Daftar Hitam

SuaraBojonegoro - Proyek perbaikan rumah sakit internasional (RSI) Bojonegoro senilai Rp. 36 miliar (M) dari APBD Bojonegoro berhembus dua persoalan yang tak sedap. Pantuan Suarabojonegoro.com, Kamis (29/8/14) menyebutkan proyek itu dikerjakan oleh PT Relis Sapindo Utama Jakarta dan diteken dimulai pekerjaannya di Bulan Mei 2014 lalu.

Diduga Pemkab Bojonegoro tidak bisa memutus kontrak perbaikan RSI, meskipun kontraktor yang bersangkutan masuk daftar hitam yang dikeluarkan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

“Pemkab tidak bisa memutus kontrak, sebab PT Relis Sapindo Utama Jakarta, selaku kontraktor perbaikan RSI menandatangani kontrak proyek RSI, Mei, “ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemkab Bojonegoro Andi Tjandra.

Dia menjelaskan pemutusan kontrak proyek bisa dilakukan kalau kontraktor masuk daftar hitam, sebagaimana yang di atur di dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa. Dalam pasal 124 Perpres No.70 tahun 2012 itu mengenai pemutusan kontrak proyek tidak bisa berlaku surut.

Menurutnya, LKPP memberikan masukan agar pemkab melakukan pengawasan kepada PT Relis Sapindo Utama dalam mengerjakan proyek perbaikan RSI.“Sesuai kontrak perbaikan RSI dijadwalkan pertengahan Desember harus sudah selesai, “ ucapnya.

Mengenai pelaksanaan pengerjaan proyek perbaikan RSI, lanjut Andy kurang bisa berjalan dengan normal, karena bangunan RSI yang selesai dibangun 2005 lalu dengan biaya Rp110 miliar dari APBD, di sejumlah lokasi banyak yang mengalami kerusakan. (ang)

Memanfaatkan Pekarangan Rumah Dengan Menanam Jahe

SuaraBojonegoro - Melihat lahan pekarangan rumah yang tidak terpakai membuat Badri Warga Desa Sumberarum Kecamatan Dander, Memanfaatkan lahan pekarangannya dengan menanam jahe, Setelah tiga tahun alhasi tanaman jahe yang di tanamnya membuat ia menjadi petani jahe yang sukses,Jumaat (29/08/14).

Dalam penanaman jahe badri menjelaskan bahwa, Menanam jahe tidak perlu lahan yang luas di pekarangan rumah juga sudah dapat di pakai menanam jahe, Namun harus memakai alat bantu karung agar lebih meminimalisir lahan.

“ kan banyak pekarangan rumah yang tidak terpai jadi saya berinisiatif untuk menanam jahe dengan karung sak,” jelasnya pada Suarabojonegoro.Com

Selain tidak membutuhkan lahan yang cukup luas tanaman jahe juga tidak membutuhkan pupukkimia, Namun hanya memakai pupuk Organic yang di hasilkan dari limbah sekitar rumah.

Sementara itu untuk penjualan jahe yang sudah di panen ia sudah membuat semacam organisasi petani jahe. Dimana dalam oraganisisi tersebut berdiri sebuah koprasi yang siap membeli jahe hasil panen para petani.

Untuk harga jahe sendiri cukup donminan muai dari harga 18000 hingga 20000 perkelonya, sedangankan untuk satu bibitnya dapat menghasilkan jahe sebanyak 20 kg setiap bibitnya jika di tanam dengan benar.

“ Untuk hasil panennya bisa mencapai 20 kg setiap satu bibitnya,” lanjutny. 

Kepala Desa Sumberarum Sugeng menjelaskan bahwa, dengan keberhasilan ini kami berharap desa kami menjadi desa percontohan dalam memanfaatkan pekarangan rumah.

“ Harapan saya desa kami menjadi desa percontohan pemanfaatan pekarangan rumah untuk desa desa lainnya,” pungkasnya.(moedy)
 
Suara Bojonegoro : About Us | Redaksi | Karir | Info Iklan
Copyright © SuaraBojonegoro.Com - All Rights Reserved

Design by Al Qowiy