Advertise Here

Artikel & Opini

Jumat, 23 Februari 2018

Banjir Mulai Genangi Kelurahan Ledok

    Jumat, Februari 23, 2018   No comments
Reporter : Bima Rahmat     

SuaraBojonegoro.com - Luapan air Bengawan Solo mulai menggenangi sejumlah wilayah Kecamatan/Kota Bojonegoro, Jum'at (23/02/18). Diantaranya, mulai menggenangi Kelurahan Ledok kecamatan/kota setempat.

Akibat banjir tersebut, puluhan warga Ledok mulai mengungsi ke tempat yang tinggi dan aman. Banjir luapan Bengawan Solo tersebut mulai menggenangi pemukiman warga mulai malam tadi.

"Mulai tadi malam, air mulai datang," kata Yanto, salah satu warga setempat.

Selain itu, warga mulai cemas dengan datangnya banjir tersebut. Khususnya warga yang memiliki binatang ternak. Warga pun juga cemas dengan peralatan rumah tangganya.

"Sebagian warga sudah mengungsi di gedung Serbaguna, kami juga kawatir ternak dan isi rumah kami," ucapnya.

Data yang dihimpun media ini, ketinggian muka air sungai Bengawan Solo bersumber dari data Kantor  UPT PSDA wilayah Sungai Bengawan Solo menunjukkan pada poin 14.74 dengan posisi siaga dua dengan tren naik.

Yanto berharap, supaya banjir luapan Bengawan Solo surut. Sehingga, warga yang terdampak banjir dapat beraktifitas kembali. Saat ini, aktifitas warga setempat terganggu.

"Memang kalau musim penghujan ini wilayah kami selalu jadi langganan banjir, semoga ada solusi dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir ini," imbuh warga Ledok Kulon itu. (bim/yud)

Program Industri Rumahan untuk Ibu Rumah Tangga Untuk Peningkatan Ekonomi

    Jumat, Februari 23, 2018   No comments
Reporter: Monika

SuaraBojonegoro.com - Tak semua perempuan di Kabupaten  Bojonegoro menggeluti kegiatan industri rumahan, padahal usaha ini sangat membantu ekonomi keluarga.

Terbukti diantara kaum ibu yang menggeluti industri kecil tersebut, perekonomian keluarganya lebih baik. Bahkan, sampai ada yang meninggalkan  pekerjaan yang mapan demi profesi baru di rumah sendiri.

Seperti halnya apoteker,  Sri Utami (35), warga Desa Sukorejo. Ibu muda ini memilih menggeluti kerajinan tangan berbahan limbah kayu dari usaha mebel suaminya.

Pemilik UD Rumah Telur Meubel & Craft ini, melihat potensi limbah untuk dijadikan sovenir dan barang berharga lainnya. Selain itu dengan usaha di rumah, dia bisa mengikuti tumbuh kembang anaknya.

Kreativitas Mbak Utami, begitu dia akrab disapa,  memadukan limbah kayu dengan cangkang telur menjadi tas, kalung,  gantungan kunci, dan aneka sovenir lainnya.

 Pengerjaan limbah kayu menjadi barang jadi, diakui Mbak Utami, tidak mudah, dan butuh waktu lama. Usaha ini melibatkan warga dengan sistem borong kerja.

"Untuk satu tas yang pengerjaannya lebih  rumit apalagi pakai kulit telur, butuh waktu sampai empat hari," jelasnya.

Selain dipasarkan di Bojonegoro, kini produk usaha rumahan itu, mulai merambah pasar di tempat-tempat wisata di Jakarta, Bandung, Biak, Balikpapan, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, dan Tuban.

Untuk masalah pasar, dia dibantu Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker), dan Dinas Perdagangan setempat.
Biasanya melalui pameran, dan tempat-tempat pusat oleh-oleh Jatim dan Dekranasda.

"Ingin mengajak ibu-ibu sekitar yang masih nganggur biar tergerak hatinya untuk berkreasi juga. Biar tidak mengandalkan uang dari suami saja," pungkasnya.

Senada disampaikan Meirina Suminartyaningsih, pengrajin kraf asal Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro. Karena tuntutan sebagai ibu rumah tangga, dia  meninggalkan pekerjaan disebuah lembaga keuangan di Bojonegoro, kemudian menggeluti usaha kraf.

Kerajinan kraf dengan bahan baku kain perca  dilakoni, Mei, sapaan akrabnya, Meirina di sela- sela rutinitas mengurus anak-anak dan suaminya di rumah.

"Ada banyak hasil kerajinan yang saya buat, seperti anyaman, mainan anak-anak, tas, dompet, dan masih banyak lagi," imbuh Mei, sapaan akrabnya.

Kreatifitasnya makin berkembang dengan keeajinan Decoupage, kini banyak diminati masyarakat. Decoupage merupakan kerajinan atau bentuk seni berbahan potongan kertas, lalu ditempel pada objek dan dilapisi dengan pernis atau pelitur.

"Itu saya pelajari dari  internet," kata Mei.

Produknya pun dipasarkan melalui media sosial, seperti facebook dan instagram. Kebanyakan peminatnya dari luar Bojonegoro.

Dari hasil kerajinan itu  Mei mendapat pendapatan yang lumayan, untuk menopang ekonomi keluarga. Kini warga  Bojonegoro yang mulai mengenal hasil kerajinannya.

"Kesulitan saya ada di tekhnologi, saya ini termasuk gagap tekhnologi karena harus melalui media sosial, jadi harus sering belajar update sendiri," tandasnya seraya tersenyum.

Dia katakan, selama ini belum ada pelatihan atau pendampingan dari Pemkab Bojonegoro bagi pengusaha kecil. Begitu juga untuk bantuan modal maupun peralatan. Justru selama ini Mei yang kerap memberikan pelatihan dan pendampingan kepada ibu-ibu.

Dirinya berharap, Pemkab  kedepan dengan bupati yang baru bisa memperhatikan pengusaha kecil sepertinya. Perhatian tersebut tidak hanya berupa pemberian modal atau pendampingan saja, tetapi juga membantu memasarkan produk.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) Bojonegoro, Adi Witjaksono, mengaku selama ini telah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada ibu-ibu rumah tangga.

Kegiatannya   kebanyakan berupa pembuatan roti kering,  sesuai permintaan para ibu rumah tangga.  Termasuk juga pelatihan kepada istri kepala desa, agar dikembangkan kepada warga desanya.

Adi mengungkapkan,  kendala yang dialami adalah kurangnya minat masyarakat mendapatkan pelatihan  dalam mengembangkan usaha. Hanya orang-orang tertentu yang bertahan, dan benar-benar mendapatkan manfaat dari bantuan tersebut.

Menanggapi hal itu, salah satu Calon Waki Bupati (Cawabup) Bojonegoro, Mitroatin, menyatakan, kedepan akan memberdayakan kaum perempuan khususnya ibu-ibu rumah tangga agar mereka memiliki usaha yang dapat menopang ekonomi keluarga.

Sedangkan skemanya berupa, program ekonomi rumahan dengan meningkatkan kemampuan bisnis bagi usaha Ultra-Mikro.  Terutama bagi perempuan dan ibu rumah tangga, dalam mengembangkan bisnis berbasis rumah tangga  yang memanfaatkan teknologi informasi.

Untuk masalah permodalan, akan bersinergi dengan perbankan dan lembaga keuangan untuk memfasilitasi permodalan. Sekaligus mendampingi  pemasaran dari produk yang dihasilkan.

"Agar usaha yang digeluti dapat berjalan, dan berkembang sehingga dapat mewujudkan perekonomian yang tangguh," tegas Bu Mit yang berpasangan dengan Cabup Soehadi Moeljono di Pilkada Bojonegoro. (Nik/Lis)

Foto: Dok. SB

Kamis, 22 Februari 2018

Tiga Terdakwa Narkotika Divonis 2 Tahun

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter : Bima Rahmat

SuaraBojonegoro.com - Tiga terdakwa pengguna Narkotika dengan inisial SR, 18, warga Jalan KH Mas Mansyur, Kelurahan Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro. IK, 21, warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Trucuk Bojonegoro, dan FF, 27, warga Desa Seduri, Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto, mengikuti sidang putusan di pengadilan negeri setempat, Kamis (22/02/18).

Ketiga terdakwa tersebut divonis dua tahun penjara dan denda Rp 8 juta supsider satu bulan kurungan. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut delapan tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan.

Sidang putusan dipimpin Hakim Ketua Paransis Sinaga, memberikan vonis lebih ringan. Memandang beberapa hal yang dianggap meringankan terdakwa. Diantaranya, alat bukti narkotika yang tergolong sedikit membuktikan bahwa ketiga terdakwa tersebut adalah pengguna, serta belum pernah ditahan, mengakui segala perbuatannya, dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.

Menaggapi putusan Hakim tersebut, Penasehat Hukum, Tri Astuti Handayani menyatakan, bahwa putusan yang diberikan Majelis Hakim sudah sesuai dengan harapannya. Pihaknya sebagai penasehat hkum mengaku menerima Putusan tersebut.

"Ini sudah susuai pembelaan kami dan majelis hakim sependapat dengan kami," kata wanita yang juga sebagai Wakil Rektor II, Universitas Bojonegoro (Unigoro) itu.

Sebelumnya, ketiga terdakwa tersebut ditangkap anggota Polres Bojonegoro di jalan untung Suropati, Kecamatan/Kota Bojonegoro, tepatnya di belakang mess Persibo. Dari tangan tersangka, polisi mengamankan alat hisab atau bong, serta sabu seberat 0,4173 gram yang disimpan ditempat rokok. (bim/yud).

Kini Giliran Kapas, Puluhan Rumah Tergenang Banjir

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter: Zamroni

SuaraBojonegoro.com - Banjir bandang yang sempat menggenang wilayah Bojonegoro selatan sejak malam tadi, dan juga menggenang di wilayah Desa Sumberrarum dan Desa Kunci serta pagi tadi juga menggenangi 6 Desa diwilayah Sokusewu sore ini banjir menggenangi puluhan rumah di Desa Kedaton kecamatan kapas,Kamis (22/2/18).

Menurut salah satu warga kedaton Abdul Manan banjir yang menggenangi di desa Kedaton merupakan kiriman banjir bandang dari kecamatan Sukosewu dan jalan akses menuju Kedaton sampai ke desa Kabunan tidak bisa di lalui kendaraan terutama sepeda motoer.

"Banyak yang macet saat beberapa warga nekat melintas jalur banjir, " Kata Abdul Manab.

Tidak sedikit warga yang akan pulang san melintas jalur banjir terpaksa harus menitipkan sepeda di rumah warga yang tidak tergenang air.

Sekitar 75 rumah yang terendam air berada di Dusun Setren, Dusun Babikan dan Dusun Daton. Untuk ketinggian air rata rata mencapai 30 cm didalam rumah warga.

Dengan kondisi demikian warga merasa resah karena beberapa sumur mereka kemasukan air banjir dan juga rumah mereka digenangi air sehingga harus mengamankan barang barang Rumah tangga mereka.

"Kami berharap banjir segera surut,  dan warga bisa beraktifitas kembali," Pungkas Abdul Manab.  (Zam/Red)




Koperasi Binaan Ademos Gelar Rapat Tahunan

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter: Abid Amrullah 

SuaraBojonegoro.com - Koperasi Produsen Syari'ah Industri kreatif binaan Ademos dan ExxonMobil Cepu Limited mengadakan RAT (rapat anggota tahunan) pada tanggal 22 Februari 2018 bertempat di panggon sinau bareng Ademos, jl Raya Purwosari - Ngambon Desa Dolokgede Kecamatan Tambakrejo Kabupaten Bojonegoro.

Acara tersebut dihadiri oleh para anggota, pengurus dan pengawas koperasi. Selain itu juga turut serta hadir perwakilan dari ExxonMobil Cepu Limited Ibu Rara, Bapak Mulyono dari Dekopinda Kabupaten Bojonegoro dan kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Elzadeba Agustina.

"Koperasi ini lahir dari kebutuhan komunitas perajin batik, sablon kaos dan konveksi akan bahan dan alat. Akhirnya mereka berdiskusi dan bersepakat bersama untuk penyediaan alat dan bahan tersebut dibuatkan wadah, sehingga nanti keuntungan akan kembali lagi pada kita," sambung Mohammad Kundori selaku Ketua Ademos, pendamping program.

Sementara itu Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro kabupaten Bojonegoro Elzadeba. Agustina menyampaikan apresiasi kepada para pengurus karena telah berhasil menyelenggarakan RAT, bila menbutuhkan penambahan modal nanti bisa kita bantu fasilitasi. Produk-produk perajin bisa dipamerkan ditempat kami, imbuhnya.

Perwakilan dari EMCL Rara menyampaikan bahwa pihaknya terus mendukung program pengembangan ekonomi masyarakat salah satunya adalah industri kreatif batik jonegaran kerjasama dengan Ademos.

"Kami sangat senang melihat progres peningkatan SHU terus bertambah, semoga mampu membantu menyejahterakan anggota, amin," katanya. (Bid/Lis)

BEM Fakultas Hukum Universitas Bojonegoro Gelar Seminar Pendidikan Moral

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter: Monika


SuaraBojonegoro.com - Maraknya peredaran narkoba dan pergaulan bebas dikalangan remaja saat ini menjadi perhatian cukup serius oleh berbagai pihak.

Universitas Bojonegoro melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum hari ini (22/2) menyelenggarakan kegiatan seminar pendidikan moral, untuk membahas permasalahan remaja tersebut.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Mayor Sogo, Kampus Universitas Bojonegoro tersebut mengambil tema "Selamatkan Generasi Anak Bangsa dari Narkoba dan Pergaulan Bebas agar Menjadi Generasi yang Tangguh dan Cerdas", dengan diikuti oleh 120 peserta dari siswa SMP, SMA, SMK dan Mahasiswa.

Dalam seminar tersebut menghadirkan dua narasumber dari Polres Bojonegoro dan RSUD Sososdoro Djatikoesoemo dan dihadiri Dekan Fakultas Hukum, Rektor Unigoro, Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro dan dosen Unigoro.

Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro, Arief Januwarso S.Sos, M.Si dalam sambutannya mengatakan, generasi muda di Bojonegoro saat ini adalah cerminan pemimpin di masa mendatang, dan jika mereka ingin menjadi orang besar di masa depan harus memulai untuk mempersiapkan diri mulai sekarang.

Persiapan tersebut salah satunya adalah dengan mampu merevolusi mental mereka, agar tidak mudah terbawa arus mengikuti pergaulan bebas dan narkoba.

"Tentu generasi saat ini adalah generasi yang diuntungkan dengan kemajuan teknologi, dibutuhkan sikap gotong royong di antara mereka untuk saling mengingatkan bahaya narkoba bagi masa depan mereka sendiri. Jika generasi sekarang ingin jadi orang besar, mulai sekarang harus rajin," ujarnya.

Ia juga berharap generasi muda saat ini mampu menjadi pemimpin Bojonegoro di masa depan.

Sementara itu, Sekertaris BEM Fakultas Hukum Unigoro, Muhammad Sobirin menjelaskan bahwa dengan adanya seminar ini diharapkan akan memberikan edukasi bagi para peserta yang merupakan generasi muda agar dapat menjaga diri dari pergaulan bebas dan narkoba.

"Kami dari BEM Fakultas Hukum menyelenggarakan kegiatan ini tentunya dengan tujuan agar para peserta yang ikut seminar bisa paham akan bahaya narkoba dan pergaulan bebas, nantinya kami harapkan mereka akan mampu menjaga diri dan lingkungan sekitarnya agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif tersebut," ungkapnya.

Kegiatan seminar pendidikan moral tersebut mendapat cukup banyak antusias, dan jumlah peserta yang hadir melebihi kuota yang telah disiapkan panitia. (Nik/Lis)

Ini Desa Di Lima Kecamatan Yang Terdampak Banjir Bandang

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter : Bima Rahmat

SuaraBojonegoro.com - Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo, menyatakan bahwa sampai saat ini ada lima Kecamatan yang terkena Banjir Bandang, akibat hujan deras di wilayah selatan, bahkan sampai saat ini masih ada beberapa Desa yang masih tergenang air akibat banjir bandang tersebut.

Hingga saat pihak BPBD belum dapat mengalkulasi kerugian yang ditimbulkan akibat banjir bandang yang menerjang lima Kecamatan di Kabupaten Bojongoro. Kamis (22/02/18).

Andi Sudjarwo masih berfokus memberikan bantuan bagi para korban yang terdampak banjir. Namun demikian pihaknya memastikan bawa besok akan dapat diketahui berapa total kerugian tersebut.

“sampai saat ini BPBD masih melakukan pendataan dan fokus memberi bantuan. Bosok mungkin baru bisa diketahui kerugian serta juga desa-desa yang membutuhkan bantuan”, katanya

Dari data yang dihimpun terdapat lima Kecamatan yang terdampak banjir bandang diantaranya adalah

1. Kecamatan dander
     1. Desa sumberarum : tergenang 90 Kk
          Dengan ketinggian air 40 cm
     2. Desa kunci
          Dengan ketinggian air 60 cm
2. Kecamatan Temayang
     1. Desa kedungsumber
     2. Desa soko
     3. Desa jono
     4. Desa pancur
      Dengan ketinggian air 10 sd 40 cm
3. Kecamatan balen
     1. Desa ngadiluhur
     2. Desa kabunan
     3. Desa sidobandung
        Dengan ketinggian air 10 sd 50 cm
4. Kecamatan bubulan
    1. Desa ngorogunung
    2. Desa sumberbendo
5. Kecamatan sukosewu
    1. Desa semawot
    2. Desa kalicilik
    3. Desa sukosewu
    4. Desa klepek
 Dengan ketinggian air 20 sd 40 cm.

Sementara itu di kabarkan di Desa Kedaton Kecamatan Kapas juga tergenang air banjir yang berasal dari aliran air di wilayah Sukosewu. Namun belum dipastikan betapa jumlah rumah yang tergenang ait. (Bim/red).

Pencairan Dana Proyek Terkendala Kurangnya Berkas dan Pejabat Belum Ber SK

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter: Sasmito Anggoro

SuaraBojonegoro.com - Kepala Dinas PU Bina Marga dan Penataan Ruang Bojonegoro, Andik Tjandra, menanggapi adanya  keterlambatan pembayaran pekerjaan proyek oleh rekanan kontraktor karena adanya prosedure administrasi yang belum selesai, termasuk pergantian pejabat yang tidak dilengkapi dengan SK.

Kepada awak media Andi Tjandra mengatakan bahwa ada sekitar 80 rekanan yang belum menyerahkan berkas pencairan sama sekali ke PU sehingga tidak dapat diproses, dan semua berkas hasil cheklist sudah diserahkan kerekanan untuk dipenuhi.

"Nilai total utang yang belum terbayar ada Rp. 42,5 Milyar tersebut dengan jumlah kontraktor sebanyak 32 rekanan," kata Andi.

Dinas PU sudah siap membayar saat ini juga jika semua persyratan administrasi (pencairan) sudah dilengkapi. Ditambahkan juga pada hari ini sudah ada 3 LPJ yang siap dicairkan, karena datanya sudah lengkap.

"Ada yang belum melengkapi data pencairan, dan saya menjamin akhir februari audah bisa dicairkan," Kata Andi.

Andi juga memerintahkan kepada semua pejabat yang berhubungan dengan data dan oencairan agar aktif dan tidak kemana mana dahulu,  dan lebih fokus pada soal pencairan.

Sebelumnya beberapa rekanan datang di kantor PU dengan meminta agar segera dilakukan pembayaran kepada rekanan oleh Dinas PU, namun karena ada beberapa kendala administrasi yang belum diselesaikan sehingga Kepala DPU Bina Marga meminta agar ada penyelesaian bagi rekanan yang belum memberikan data pencairan.

Sebelumnya, dikabarkan terdapat kendala pembayaran uang proyek. Lantaran adanya pejabat PU yang dimutasi dan digantikan oleh pejabat lain, namun setelah beberapa hari menjabat nampaknya pejabat tersebut belum juga diberi SK oleh bupati.

Ali Huda selaku ketua
ketua DPD Gapensinas Jawa timur,menganggap aneh adanya penjabat yang sudah menjabat namun belum mempunyai SK.

"Harusnya sudah punya SK, sudah menjabat kog tidak punya SK," Kata Ali Huda.

Persoalan SK tersebut Andi Tjandra mengatakan meskipun belum ada SK namun pihaknya sudah mempunyai nomor SK sehingga kendala adminiatrasi bisa diaelesaikan. (Sas*)

750 Nasi Bungkus Untuk Warga Terdampak Banjir Bandang

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter: Monika


SuaraBojonegoro.com - Sebanyak 758 Nasi bungkus dipersiapkan oleh Badan Penanggualang Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, untuk membantu warga yang terkena atau menjadi korban Banjir Bandang di beberapa wilayah Bojonegoro.

Tindakan cepat ini dilakukan oleh BPBD karena korban yang terkena Banjir Bandang tidak bisa melakukan aktifitas memasak dikarena sibuk akibat banjir bandang,  seperti yang disampaikan Kepala BPBD Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo. Kamis ( 22/2/18).

"Sebanyak 750 nasi bungkus untuk korban banjir di Desa Kunci dan Sumberarum Kecamatan Dander, serta Desa Kedungsumber Kecamatan Temayang," Kata Andi Sudjarwo.

Selain itu juga ratusan makanan  siap saji yang berisi nasi goreng, nasi opor, nasi rendang, nasi semur dan nasi kare dalam bentuk kalengan juga dikirim untuk 200 keluarga di Kecamatan Bubulan, dan semuanya dibagi diberbagai wilayah yang terkena dampak Banjir bandang.

"Untuk Kecamatan Dander tadi minta 250 bungkus nasi, Desa Kedungsumber Kecamatan Temayang minta 500 bungkus nasi," terang Andik Sudjarwo.

Disampaikan oleh kepala BPBD bahwa bantuan ini diberikan sebelumnya masuk laporan dari pemerintah Desa dan kecamatan yang terkena banjir bandang, selain itu juga mengirimkan air bersih dan juga air minum.

Adapun untuk mengantisipasi dan juga memperbaiki kerusakan tanggul pihak BPBD bekerja sama dengan pihak TNI dan Polri melakukan kerja bakti, serta dibantu warga setempat. "Kami sudah kirim anggota BPBD untuk membantu memperbaiki tanggul yang longsor di Sukosewu," Terang Andi.

Sementara itu untuk data jumlah kerugian warha akibat banjir bandang masih dalam penghitungan oleh pihak BPBD dibantu pemerintahan Desa. (Nik/Sas)

Bersama EMCL, LSM Pattiro Gelar Pelatihan Usaha Bagi Kader Posyandu

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter: Monika


SuaraBojonegoro.com - Operator Lapangan minyak dan gas bumi Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Pattiro melaksanakan pelatihan pengelolaan usaha bagi puluhan kader posyandu se-Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro, pada Kamis (22/2/2018). Para kader dari 12 desa di Kecamatan tersebut sudah mendirikan 35 unit usaha untuk menopang kegiatan posyandu di masing-masing desa.

“Kegiatan ini merupakan lanjutan dari pelatihan dan pendampingan sebelumnya,” ucap Manajer Program dari Pattiro, Wiwik Nurwidyanti.

Wiwik menjelaskan, unit usah ini dibentuk sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas dan keberlangsungan pelayanan posyandu di setiap pos pada masing-masing desa.

Pendampingan dan pelatihan diberikan agar usahanya bisa menguntungkan dan bisa memberikan tambahan dana untuk kegiatan posyandu. “Untuk memulai usaha, mereka kita kasih dana stimulan, dan kini usaha mereka sudah berkembang,” imbuhnya.

Pada pelatihan kali ini, jelas Wiwik, para kader diajari pencatatan dan administrasi usaha. Tujuannya, agar usaha yang dijalankan dilakukan secara transparan dan bisa dipertanggungjawabkan kepada pengurus PKK desa setempat.

“Sejak diberi stimulan pada Juli lalu, Desa Gayam sudah berhasil mengembangkan omsetnya hingga 25 persen,” tuturnya.

Camat Gayam, Akhmad Yusuf, menyambut baik program ini. Menurutnya, kegiatan usaha tersebut wujud semangat kemandirian ibu-ibu kader posyandu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dia mendorong agar para ibu terus bersemangat memajukan usahanya. Dia pun berbagi pengalaman tentang kisah sukses usaha keripik di Kecamatan Sekar. “Kegigihan, inovasi, dan semangat untuk mandiri seperti ini harus kita tiru,” katanya.

Perwakilan EMCL, Galih Tiara mengapresiasi kemajuan yang ditunjukkan para kader. Dia mengatakan, keberhasilan sebuah program adalah keberlanjutan dan kebermanfaatannya. “Ini hasil yang positif yang kita harapkan, dan bisa menginspirasi serta memotivasi yang lain,” tuturnya kepada para kader.

Program yang sudah berlangsung sejak 2015 ini, kata dia, telah menjangkau lebih dari 175 kader posyandu di Kecamatan Gayam. Galih berharap, sinergi ini terus berlangsung demi peningkatan taraf hidup masyarakat yang lebih baik.

“Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat yang telah mendukung kesuksesan proyek negara di Lapangan Banyu Urip,” pungkas gadis asal Bojonegoro ini. (Nik/Lis)

Akibat Banjir, Aktivitas Warga Semen Kidul Lumpuh

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter : Abid Amrullah

SuaraBojonegoro.com - Banjir bandang akibat luapan air kali pacal di Kecamatan Sukosewu, menyebabkan aktifitas warga setempat lumpuh, Kamis (22/02/18).

Data yang dihimpun suarabojonegoro.com, banjir bandang ini merupakan kiriman dari bendungan waduk Pacal yang semalam terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Sehingga airnya meluber dan sampai ke desa-desa sekitar.

Dini hari tadi, air mulai meninggi. Sekitar pukul 06:00 WIB, banjir bandang mulai menerjang permukiman warga dan juga persawahan.

Maksum, salah seorang warga Desa Semen Kidul mengaku, tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Sebab, banjir kali ini mengakibatkan aktifitas lumpuh total.

Sementara itu, Mukit, salah seorang petani mengaku, mengalami penurunan hasil panen. Sebab, banjir bandang mengakibatkan tanaman padinya rusak.

"Alhamdulillah, masih bisa panen tapi hasilnya kurang baik," ucapnya.

Banjir di desa setempat jarang terjadi. Tiga tahun silam terjadi banjir di Desa Semen Kidul. "Jarang terjadi banjir di daerah kami ini," kata Toni, salah seorang warga Desa Semen Kidul.

Ia berharap, seluruh warga yang terdampak banjir diberi ketabahan. "Semoga banjir kali ini cepat surut agar aktifitas warga bisa normal kembali," harapnya. (bid/yud)

Siapkan BUMDes Sebagai Motor Ekonomi Desa

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter: Monika

SuaraBojonegoro.com - Pengembangan potensi desa tidak sekadar mengangkat eksistensi desa, sumber pemasukan juga dibutuhkan agar masyarakatnya mandiri. Diantara penopang ekonomi desa adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Diantara BUMDes di Kabupaten Bojonegoro yang sudah menggeliat adalah di Desa Rendeng, Kecamatan Malo. Unit usaha ini berhasil menangkap peluang usaha di bidang kerajinan gerabah yang merupakan potensi di desa tersebut.

 Ketua BUMDesa Rendeng, Mujtaba,  mengatakan, gerabah merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat sekitar, sehingga menjadi daya tarik wisata edukasi.

 “Kita kerja sama dengan karang taruna mengelola produksi gerabah menjadi edukasi wisata," ujarnya kepada wartawan, Rabu (21/2/2018).

 Destinasi itu BUMDes mampu menggerakan perekonomian masyarakat, dan menyumbang pendapatan desa. Beberapa kegiatan usahanya diantaranya, menjual produk gerabah, souvenir, dan membuat event.

 Kerjasama yang baik antara BUMDes dengan masyarakat selama ini sangat baik, juga didukung Pemda setempat. Misalnya, dari Bappeda, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker), maupun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

 "Bentuk dukungannya seperti pelatihan maupun pembangunan infrastruktur,” ungkap Mujtaba.

Saat ini BUMDes Rendeng bersama pemerintah desa menggelar  Festival Gerabah, sebagai ajang promosi Desa Rendeng sebagai  desa wisata gerabah.

Secara terpisah Ketua BUMDes Muji Rahayu Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Edi Suparmin, mengatakan, keberadaan BUMDes  dapat memperkuat lembaga-lembaga ekonomi desa. Sekaligus  menjadi alat pendayagunaan ekonomi lokal sesuai potensi desa.

 "Melalui BUMDes kita bisa saling sinergi, bergotong royong, dan menggalang kekuatan ekonomi demi mewujudkan kemakmuran masyarakat desa,” tegas Edi Suparmin.

 BUMDes Muji Rahayu saat ini bermitra dengan kelompok peternak mengembangkan usaha peternakan. Sistemnya bagi hasil antara kelompok peternak dari Mojodelik dengan BUMDes.

 "Jika rintisan usaha ini sukses, kita akan mengelola usaha lainnya," tegas Parmin.

 Diakuinya, sejak berdiri pada Juli 2017  hingga saat ini belum ada bantuan dari Pemerintah Desa Mojodelik, maupun Pemkab Bojonegoro. Padahal apabila BUMDes diberi modal, maka dapat mengembangkan usaha dan membantu mempercepat kesejahteraan masyarakat desa.

 “Karena itu, kami sangat berharap, Bupati Bojonegoro yang baru nanti benar-benar memperhatikan BUMDes. Memberikan pendampingan, pelatihan dan membantu permodalan,” harapnya.

Sedangkan warga Mojodelik, Gunawan, menilai, keberadaan BUMDes penting karena dapat memfasilitasi usaha-usaha kecil di desa, agar berkembang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 “Misalnya usaha air bersih melalui HIPPAM, usaha bisnis penyewaan melalui usaha alat transportasi, perkakas pesta, dan masih banyak lagi peluang usaha yang bisa ditangkap," sambung Gunawan.

 Data dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Bojonegoro menyebut, dari 419 desa saat ini sudah terbentuk 223 BUMDes, dan sekitar 100 diantaranya masih aktif.

 DPMD terus mendorong semua pemerintah desa membentuk BUMDes untuk menambah Pendapatan Asli Desa (PADes). Sekaligus  sebagai lembaga ekonomi untuk menyejahterakan masyarakat desa.

 "Sirkulasi ekonomi dan keuangan tidak keluar dari desa. Pemerintah desa juga bisa melakukan penyertaan modal kepada BUMDesa," sambung Kasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa, DPMD Bojonegoro,  Ajir, saat dikonfirmasi wartawan secara terpisah.

Dengan pembentukan BUMDes ini dapat memanfaatkan potensi desa, baik dari segi peternakan, penjualan, pariwisata, pembayaran listrik, pulsa, simpan pinjam, pengelolaan bank sampah, maupun lembaga sosial masyarakat. Unit usaha desa ini bisa kerjasama dengan perbankan.

 Dia mencontohkan, BUMDes Maju Bersama di Kecamatan Sugihwaras, gabungan dari BUMDes dari Desa Bulu, Panunggalan, dan Desa Siwalan. Mereka  mengembangkan usaha simpan pinjam, maupun bidang pertanian.

"Perkembangan BUMDesa ini tergantung pemerintah desa, pemerintah kabupaten sifatnya memfasilitasi dan mendorong," jelasnya.

 Dia mengakui yang masih menjadi kendala BUMDes saat ini adalah segi sumber daya manusia (SDM), dan modal usaha.

Saat diminta tanggapan terkait kondisi BUMDes,  salah satu Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, mengatakan, sebenarnya dia bersama pasangannya Cawabup Mitroatin, telah menyiapkan program khusus untuk  pengembangan BUMDes.

Diantaranya, akan didampingi program pelatihan bidang manajerial, kelembagaan, dan bisnis agar seluruh BUMDes makin matang. Apabila BUMDes bisa menjadi motor penggerak perekonomian desa, maka kesejahteraan warga bisa tercapai.

 “Ini sangat penting agar BUMDes lebih professional dalam mengelola usahanya. Sehingga investor atau mitra yang digandeng akan lebih percaya untuk berinvestasi,” kata Pak Mul, sapaan akrabnya.

Dalam kurun lima tahun ke depan, pihaknya juga telah menyiapkan pembangunan desa berorientasi pada karakteristik khas sumber daya lokal, dan sumber daya potensial yang dapat menjadi unggulan desa.

Hal itu untuk menguatkan perekonomian desa, dan modal sosial budaya desa, sesuai kaidah one village, one product.

 “Melalui program ini BUMDes akan lebih mudah mengembangkan dan mengelola usahanya,” pungkas mantan Sekda Bojonegoro tersebut.(Nik/Red)

Foto: Dok. suarabojonegoro.com

Enam Desa di Sukosewu Terdampak Banjir

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter : Wahyudi

SuaraBojonegoro.com - Banjir bandang kembali melanda di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Kali ini, kali pacal yang melewati wilayah Kecamatan Sukosewu, meluap menggenangi sejumlah desa yang dilalui kali pacal, Rabu (21/2/2018) malam.

Meluapnya kali pacal yang melewati wilayah Kecamatan Sukosewu tersebut, disebabkan hujan deras di wilayah Sukosewu dan sejumlah kecamatan lain. Sehingga, kali pacal tidak mampu menampung seluruh air yang mengalir ke sungai tersebut.

Kspk Polsek Sukosewu, Aiptu Alim menjelaskan, kondisi saat itu dalam kondisi hujan. Meskipun tidak begitu deras, namun tiba tiba air meluber. Sehingga petugas yang melaksanakan jaga langsung melakukan evakuasi terhadap warga dan melaksanakan pengamanan rumah yang ditinggalkan penghuninya yang mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Begitu air meluap, kami langsung melaksanakan patroli dan pengamanan. Sekaligus menghimbau kepada warga yang terkena dampak banjir untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman," ucap Kspk Polsek Sukosewu.

Beberapa desa yang terdampak, diantaranya, Desa Semawot, 4 RT hingga menggenangi rumah, ketinggian air di akses jalan 50 cm dan komplek persawahan. Desa Kalicilik, 4 RT di pemukiman dan persawahan, ketinggian air di jalan 40 cm hingga menutup akses jalan.

Lalu, Desa Sukosewu, 11 RT pemukiman dan persawahan ketinggian air 80 cm di jalan utama hingga akses jalan ditutup. Desa Klepek, 7 RT pemukiman dan persawahan. Desa Semen kidul, 6 RTpemukiman dan persawahan. Dan, Desa Duyungan, 2 Dusun, yakni Dusun Sepat dan Dukuh Trojaran.

Kapolsek Sukosewu, AKP Pujiono mengatakan, pihaknya melaksanakan patroli dan pengamanan pemukiman yang terdampak banjir. Selain itu, kapolsek juga menghimbau kepada warga masyarakat di bantaran kali pacal yang masuk wilayah Kecamatan Kapas dan Balen agar waspada terhadap air kiriman tersebut.

"Kita sudah tempatkan anggota, untuk warga di wilayah Kecamatan Kapas dan Balen khususnya yang berada di bantaran kali pacal agar waspada terhadap air kiriman," imbau kapolsek.

Hingga berita ini diturunkan, air masih meluber menggenangi pemukiman, jalan, dan persawahan. Dimungkinkan akan meluas hingga ke wilayah Kecamatan Balen dan Kapas. (yud/red)

Warga Kedungadem Sumringah Terima Pencairan PKH

    Kamis, Februari 22, 2018   No comments
Reporter : Abid Amrullah

SuaraBojonegoro.com - Puluhan warga Kecamatan Kedungadem antusias menerima pencairan PKH di kecamatan setempat, Selasa (20/02/18) lalu.

Dari 15 desa se kecamatan setempat, ada sekitar 1.100 keluarga penerima manfaat (KPM). Termasuk angka tertinggi se Bojonegoro.

Acara tersebut dibantu 14 pendamping PKH.

Arik Irawati, salah satu pendamping menyatakan, bahwa untuk tahap ini penggenapan Rp 6 juta KPM. Sesuai harapan meskipun dalam pembagiannya hingga larut malam.

"Tertib lancar aman hingga malam hari," ujarnya.

Pihaknya berharap, untuk pencairan selanjutnya, petugas dari BNI bisa diperbanyak. Supaya pencairan lebih lancar dan tidak sampai larut malam.

Ningrum, salah seorang penerima, mengaku sangat senang atas cairnya bantuan tersebut. Pihaknya akan memanfaatkan sebaik mungkin.

"Bisa dimanfaatkan untuk keperluan," ucapnya.

Acara tersebut dihadiri, Slamet, selaku Kabid Dinsos Bojonegoro dan juga di hadiri oleh Korkab PKH Bojonegoro, petugas pencairan dari BNI sebanyak 3 teller dengan 3 edc namun yang 1 edc ngadat.

"Agar bantuan PKH ini benar-benar  dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan anak-anak usia sekolah dan kesehatan untuk balita, bumil, dan lansia," imbuh kabid dinsos. (bid/yud)

Rabu, 21 Februari 2018

Beginilah Cara Mahasiswa KKN IAI Sunan Giri Berbagi Ilmu

    Rabu, Februari 21, 2018   No comments
Reporter : Wahyudi

SuaraBojonegoro.com - Menjelang penutupan, Mahasiswa KKN IAI Sunan Giri Bojonegoro bertempat di Desa Panunggalan, Kecamatan Sugihwaras menggelar praktik pembuatan kurma Jawa dan teh raja (rambut jagung) di balai desa setempat, Selasa (20/02/18).

Praktik pembuatan kurma Jawa dan teh Raja, merupakan program unggulan mereka (Mahasiswa KKN, red). Sedangkan penutupan KKN kurang tujuh hari.

Kurma jawa adalah kurma tanpa biji yang dibuat dari bahan tomat. Sedangkan, teh RaJa merupakan teh berwarna kuning kecoklatan terbuat dari rambut jagung paling muda yang memiliki warna hijau kekuningan.

Acara tersebut, dihadiri kurang lebih 60 warga. Terdiri dari ibu-ibu PKK, muslimat, bapak-bapak, serta perangkat desa.

Shering penanganan anak, serta pelatihan motivasi, bersama Siti Sholehah, aktivis parenting dari Surabaya, menjadi rangkaian pertama agenda tersebut.

Bunda leha, sapaannya menyampaikan, motivasi itu bertujuan untuk menggugah kembali ghiroh semangat warga dalam kehidupan sehari-hari, terutama menyangkut kelangsungan pendidikan serta kemajuan pengetahuan anak di zaman millenial.

"Orang tua yang cerdas pasti dapat mengembangkan kreativitas dan keahlian pada diri anak, metode alternatif yang tepat dan cocok harus dilakukan secara bertahap," tutur bunda Leha.

Setelah pelatihan usai, moderator mengarahkan warga ke tempat yang sudah disediakan Mahasiswa KKN untuk membuat kurama Jawa dan teh RaJa.

Dalam kegiatan ini, para warga sangat antusias bergerombol menyaksikan praktik langsung oleh Mahasiswa KKN IAI Sunan Giri Bojonegoro. Beberapa dari mereka terlihat aktif mencoba cara pembuatan kurma jawa dari awal hingga selesai.

Kordes (Koordinator Desa) KKN Desa Panunggalan, Achmad Muttaqin mengatakan, bahwa kurma ini selain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,  juga menjadi bahan pengembangan kreativitas untuk mengolah tomat melimpah yang sering terbuang setahun sekali saat panen.

"Pemanfaatan tomat-tomat ini, termasuk pencegahan hasil panen setahun sekali di Desa Panunggalan, yang melimpah ruah sampai tidak terjual, sehingga busuk dan warga mengalami kerugian," pungkasnya. (yud/red)