Apa Kabar Pusat Kebudayaan dan Industri Kreatif Bojonegoro ?

Suara Bojonegoro     Kamis, Januari 28, 2016    

Oleh: Agus Sighro Budiono*

Masih segar dalam ingatan kita, ketika Kang Yoto menggelontorkan gagasan tentang perlunya Kabupaten Bojonegoro memiliki sebuah tempat berupa pusat Kebudayaan dan Industri Kreatif. Bupati Bojonegoro yang jenius itu, pada hari Selasa malam tanggal 21 Januari 2014 mengajak berbagai stakeholder untuk membicarakan hal ini. Ada Syirikit Syah, ada Yususf Susilo Hartono, dan komunitas-komunitas di Bojonegoro.

Bahkan public relation dari PT Telkomsel area Jawa Timur dan serombongan wartawan Koran nasional juga hadir dalam acara yang dikemas santai di halaman rumah dinas bupati. Kontan gagasan ini mendapat sambutan yang positif dari masyarakat, khususnya seniman dan kelompok kelompok yang bekerja di bidang indusrti kreatif. 

Selang satu tahun kemudian gagasan membangun pusat Kebudayaan dan Industri Kreatif yang diobsesikan menjadi semacam taman mininya Bojonegoro ini masih santer dan bergaung begitu luas sampai ke Ibukota negeri ini.

Hingga seorang Wihadi Wiyanto anggota DPR RI dari Komisi III pada agenda resesnya yang seharusnya mengurusi persoalan hukum, mengajak Yusuf Susilo Hartono dan budayawan Remy Silado meminjam forum rutinan Purnama Sastra Bojonegoro, pada tanggal 5 Maret 2015 untuk menggelar dialog Budaya guna mengklarifikasi gagasan Kang Yoto ini.

Di forum itu, Wihadi yang asli Bojonegoro itu menegaskan bahwa dia akan membantu semaksimal mungkin mewujudkan berdirinya Pusat Kebudayaan dan Industri Kreatif Bojonegoro, termasuk mengupayakan anggaran dari pemerintah pusat jika memang diperlukan. 

Sebuah harapan besar menyeruak dari libido berkebudayaan, demi menegaskjan jati diri sebagai warga bangsa. Penulis bermimpi dengan adanya pusat budaya itu, kita akan semakin percaya diri sebagai wong Jonegoro sebagaimana orang Jepang sangat percaya diri dengan ke-jepang-annya, orang china sangat pede dengan ke-china-annya karena budaya yang kuat mengakar. 

Dan di akhir tulisan penulis menyematkan sebuah lontaran keras “Oleh karena itu, gagasan berdirinya Pusat Kebudayaan dan Industri Kreatif di Bojonegoro harus benar-benar direalisasikan. Kalau hal ini tidak terwujud akan menjadi dosa sosial Kang Yoto yang akan ditagih sepanjang jaman”. (ah… jadi malu, ternyata lontarannya gak ngefek…heheheh) Itulah ilustrasi gegap gempita yang terjadi dua tahun lalu,.

Ya dua tahun telah berselang dan “dongeng sebelum tidur” tentang pusat kebudayaan dan industry kreatif berlalu tersapu angin yang berhembus di taman taman yang bertebaran di stadion letjend Sudirman, alun-alun dan eks terminal Rajekwesi. Atau mungkin telah terkubur dibawah megah bangunan gelanggang olah raga (GOR) ?.

Memang sempat tersiar kabar, konon (ya terpaksa menggunakan diksi konon karena memang belum jelas ya atau tidak) telah disiapkan lahan seluas 7 hektare, dari rencana awal seluas 10 hektare, dan sekarang sudah tahap pengurukan. Tapi itu lokasinya dimana? Ya nggak tahu kan konon..? Kalaupun benar sudah dimulai tahap realisasi, sepertinya rencana pembangunan Pusat Kebudayaan dan Industri Kreatif ini hanya dimaknai sekedar, sebagai proyek fisik belaka. 

Terbukti hingga saat ini belum terdengar adanya tim (yang tidak ngurusi fisik) yang bertugas menyusun road map, atau blue print atau apalah namanya yang bersifat berkelanjutan tentang arah dan strategi bahwa bangunan itu memang sebagai pusat kebudayaan.

Dalam beberapa kesempatan memang Kang Yoto sempat mengatakan bahwa, dia baru sadar bahwa kekuasaan seorang bupati itu sangat terbatas tidak seperti yang dibayangkannya, yaitu hanya sepuluh meter di bawah tanah dan sepuluh meter diudara selebihnya milik penguasa yang lebih tinggi, yakni pemerintah propinsi dan pusat. Situasi itu bisa ditafsirkan bahwa selama ini pemikiran dan gagasan Kang Yoto tidak banyak yang terakomodir, atau mungkin tidak mampu diterjemahkan dengan baik oleh mitra kerjanya (kalau tidak boleh disebut bawahannya ) yaitu satuan kerja perangkat dinas (SKPD) pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Penulis yakin Kang Yoto sangat gelisah memikirkan ini.

Selama ini Kang Yoto mencoba memberikan teladan dengan bersikap satu kata dengan perbuatan, dia mencoba memegang teguh falsafah sabda pandhita ratu, yang saat ini sudah semakin menjauh dari perilaku pemimpin politik bangsa ini.

Ruang Budaya dan Legitimasi Identitas Daerah Kenapa gedung budaya dianggap perlu? Karena keberadaan gedung kebudayaan adalah salah satu strategi kebudayaan. Dibalik strategi budaya, tidak hanya terdapat cita-cita, namun juga panduan nilai berbangsa dan bermasyarakat, daya kerja serta kemampuan memecahkan masalah. Kebudayaan adalah dialektika antara yang kita warisi dan perkembangan peradaban yang kini tengah kita alami.

Hanya saja, meski budaya merupakan proses dialektika, tetapi nilai, norma, adat, tetap mewarnai dan menjadi ciri khas dalam setiap perkembangan ke depan. Kini tugas yang harus segera dilakukan adalah bagaimana mengaudit aset budaya yang tercerai-berai dan sudah ditinggalkan, dan mendokumentasikannya dengan baik di sebuah tempat yang representative dan dapat menjadi rujukan demi peningkatan kualitas pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Aset-aset budaya ini bisa berasal dari komunitas etnis, bisa juga aset-aset unggulan pada pribadi pribadi warga dan komunitas-komunitas di Kabupaten Bojonegoro. Bojonegoro punya peninggalan berupa kuburan Kalang, cungkup-cungkup, masjid-masjid kuno, artefak lingga-yoni, arca-arca, gua-gua selatan, asal-usul nama desa, gerakan Samin, kelompok aliran kebatinan, tari tayub, kesenian oklik, sandur, ketoprak lesung, wayang kulit, wayang tengul, krucil, tradisi lisan , tradisi tulis, upacara tradisi, adat-istiadat, batik, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, gedung budaya atau yang diobsesikan sebagai gedung Pusat Kebudayaan dan Industri Keatif Bojonegoro mempunya peranan vital sebagai ruang dialektika. Dan ruang budaya ini jika ditata dengan strategi yang terencana dan sustainable (berkelanjutan) tentu akan semakin menguatkan legitimasi atas identitas Kabupaten Bojonegoro.

Jadi kesimpulannya, gagasan membangun pusat kebudayaan dan industri kreatif yang dilontarkan Kang Yoto, bukan sekedar membangun gedung budaya sebagaimana membangun sarana infrastruktur seperti jalan, jembatan atau gedung pemkab yang megah itu, melainkan membangun sebuah ruang budaya dimana tidak hanya terdapat cita-cita, namun juga panduan nilai berbangsa dan bermasyarakat, sekaligus ruang dialetika antara manusia dan sejarahnya.

Pertanyaannya, mampukah dalam dua tahun sisa masa jabatan Kang Yoto sebagai bupati mewujudkan ide brilliants ini? Apakah bangunan itu kelak akan benar-benar menjadi pusat kebudayaan sebagai wujud peningkatan peradaban wong Bojonegoro? atau hanya akan jadi monumen sunyi sisa kejayaan sang bupati? Waallahu'alam.


Penulis adalah Pamong Pokja Kebudayaan Bojonegoro guru tidak tetap di SMK Negeri 2 Bojonegoro

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .