Catatan Pagi: Media Sosial dan Teror Jakarta

Suara Bojonegoro     Sabtu, Januari 23, 2016    

Oleh : Heri Kiswanto

Terjadinya teror pada seminggu hari lalu, yang merundung keamananan ibu Kota Jakarta. Tak sedikitpun mengurangi keberanian, kebersamaan dan hubungan yang dibangun masyarakat. 

Antara lain membantu evakuasi korban, mendokumentasikan informasi, bersosialisasi hingga berkumpul pada saat situasi sangat mencekam.

Atas peristiwa tersebut media sosial berperan penting dalam merekam gejolak dan kejadian di masyarakat. Salah satunya baku tembak dan serangan bom bunuh diri di pos polisi Jalan Thamrin, Jakarta pusat.

Yang diperkirakan memakan puluhan korban, baik tewas maupun luka-luka. Hastag (tanda pagar) bertuliskan, Kami Tidak Takut, Jakarta Kuat, Jakarta Berani yang dibuat oleh netizen. Menggambarkan sikap tenang masyarakat yang sedang dilanda situasi genting perkotaan begitu nyatadan benar adanya.

Demikian halnya untuk melawan ancaman terorisme dan orang hilang. Terbukti, dari pemberitaan yang ditayangkan di stasiun Televisi. Memperlihatkan seorang perempuan memberanikan diri untuk berfoto selfie, mengabadikan moment lewat video dan menjalankan pekerjaan sehari-hari.

Ada pula tukang ojek rela menolong korban yang terkena ledakan secara cuma-cuma alias gratis. Ditambah lagi berbagai seruan (ajakan) pengguna akun dunia maya seperti twitter, facebook, instagram, dan lain-lain.

Menjadi sarana mengajak masyarakat tetap tenang dan tidak panik mananggapi aksi teror di ibu kota. Bahkan berjarak ratusan meter dari berlangsungnya rentetan serangan pengeboman dan penembakan. Berdiri bapak-bapak penjual sate dan pedagang kaki lima menjajakan dagangannya.

Tak hanya dikenal efektif mengajak masyarakat dan sebagai sarana berbagi informasi, foto dan video. Media sosial juga berfungsi terhadap pengembalian kepercayaan diri masyarakat saat menghadapi situasi mencekam dan darurat baru-baru ini.

Isu radikalisme yang mengatasnamakan agama yang akhirnya berujung peledakan bom bunuh diri. Sebelumnya telah banyak terjadi di beberapa tempat di Indonesia.

Akibatnya korban jiwa dan luka berat, menyerang mayarakat sekitar yang kebetulan lewat serta beraktifitas, terkena dampaknya. Gerakan radikal merupakan pemahaman atau ajaran yang jauh dari kepribadian bangsa. Dimana senantiasa menghargai perbedaan, keyakinan dan kebebasan beragama. Seperti dalam sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan makna Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna erat dalam mempersatukan keberbedaan.

Kemajemukan bangsa ini, secara luas dapat diartikan sebagai salah satu keragaman masyarakat Indonesia yang plural dan menghargai perbedaan-perbedaan, maupun menganggap pluralisme bagian dari hal yang mampu mendorong kerukunan di Indonesia menjadi lebih indah dan terjaga.

Disamping itu kemudahan akses internet bisa jadi jalan mulus menuju langkah-langkah pencegahan pemahaman radikalisme (deradikalisasi) melalui publikasi dan penyadaran. Demikian pula menanggulangi permasalahan nilai-nilai dan kemanusiaan dapat dilakukan dengan memblokir website, blog dan situs radikal lainnya.

Dengan media sosial, mari menjaga spirit kebersamaan dalam menyikapi pihak-pihak yang berusaha merusak ideologi negara, keberagaman dan toleransi antar umat beragama. Dimulai dengan kewaspadaan dan kebersatuan di lingkungan sekitar.

Penulis adalah: Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kontak : 087859786626, Twitter: @kizswanto, FB: Heri Kiswanto, Email: herykizswanto@gmail.com

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .