Curhat Pembaca Koran

Suara Bojonegoro     Senin, Januari 11, 2016    

Oleh: Didik Wahyudi

Saya sudah lama tak membaca koran lokal sejak banyak media online lokal yang lebih praktis dan update. Tapi pagi ini mencoba menikmatinya segala berita yang ditampilkan, sesekali menghela nafas karena banyak berita yang tak saya butuhkan. Kegiatan rutin baca koran pagi sudah sekitar setahunan lalu saya tinggalkan, dan pagi ini saya melakukan untuk merasakan bagaimana membaca koran. Masih nikmatkah atau sudah hambar.

Saat paragraf pertama saya baca koran, tiba-tiba ada kekuatan masa lalu yang menarik saya. Huruf-huruf yang tercetak diatas kertas mengingatkan pada kamera roll yang prosesnya lebih lama dengan kamera digital, mencuci roll film di tempat gelap lalu mencetaknya diatas kertas foto. Koran pagi ini yang saya baca membawa saya ke masa lalu, padahal baru setahun meninggalkan rutinitas tersebut, begitu cepat waktu berjalan. Padahal baru beberapa tahun menikmati tumbuh suburnya koran-koran baru paska reformasi tapi tak beberapa lama menyaksikan koran-koran bergelimpangan mengibarkan bendera putih.

Tapi saya tetap melanjutkan membaca koran pagi dan nyaris semua berita sudah ada di online yang sudah terbaca kemarin. Jarak yang cukup jauh untuk sebuah berita straight news, begitu lambat. Apalagi headlinenya sudah dibahas tuntas oleh media-media online lokal, kalah jauh dalam kecepatan. Karena hampir semua sudah ada di media online, saya hanya sepintas lalu membaca sebagian bahkan hanya judul dan tak membutuhkan waktu lama karena tak menemukan gairah seperti dulu. Jika dulu harus bersabar menunggu berita hari ini untuk keesokan hari, kini tak perlu bekal sabar karena semua sudah tersedia hari ini cukup dari handphone.

Membaca koran lokal tak begitu praktis dan lambat untuk berita-berita straigh news yang sudah dituntaskan oleh online. Jika masih membuat headline yang sudah diangkat online lokal tentu akan semakin nampak usang. Kecuali memiliki data eksklusif dan dari sana koran lokal mengolah anggle menjadikan headline lebih menarik. Atau membikin inovasi lain yang tak dimiliki online sebab hanya inovasi yang dapat "memperpanjang" gugurnya koran di tengah gempuran online.

Koran lokal untuk saat ini mungkin masih bertahan dengan pemasukan iklan dan oplah yang mulai menurun, tapi suatu saat kondisi itu akan berubah. Koran lokal akan tertatih-tatih seperti saat awal kemunculan online dan hal tersebut sangat diyakini para pengelola online lokal di Bojonegoro. Mereka terus berbenah dan tak anti kritik meski kadang juga masih ditemui keteledoran-keteledoran yang cukup memalukan.

Waktu berjalan sudah sangat cepat, koran lokal terpontal-pontal mengejar ketertinggalan online. Apalagi koran lokal tak mampu menembus sampai pelosok desa, sementara online sudah menembus ke pelosok desa sejak semua orang mudah mengakses internet menggunakan handphone. Tapi online belum menggarap berita-berita dari desa dengan serius sebab potensi pembaca sungguh luar biasa. Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa para pengiklan tak membaca trend ini dan masih berbelanja iklan di koran lokal padahal harganya lebih mahal dibanding online lokal ? Saya tak tahu apa penyebabnya padahal ada yang lebih murah dan jumlah pembacanya mencapai ribuan lebih melampaui koran serta jelajahnya lebih jauh. Mungkin para pengiklan masih setia dengan koran.

Tapi bagi saya koran lokal sudah sangat lambat dan mendekati kuno untuk sebuah layanan berita. Saya tak perlu lagi menunggu keesokan hari lagi untuk sebuah berita, cukup akses berita online untuk berita hari ini semua tercukupi. Membaca dimana saja bisa, sebab orang kini bawaannya adalah HP bukan lagi sisir dan cukup repot jika harus kemana-mana bawa koran. Nonton televisi saja sambil utak-utik HP, ngopi juga hape-an, mau tidur juga hape-an, coba bayangkan jika baca koran, sungguh repot bukan ?

Hari gini masih baca koran ? Ya Allah.. berilah petunjuk mereka ini sudah tahun 2016, sudah wagu bawa-bawa koran kemana-mana tapi pantesnya bawa tablet, smartphone dan laptop. Jika anda merasa waktu berjalan sangat cepat maka perlambatlah dengan membaca koran. Mungkin begitu, saya sudah lama meninggalkan koran lokal sebab ada yang lebih murah dan lebih cepat.

Selamat tinggal koran.

Foto: tekno.liputan6.com
Sumber: http://didikwahyuditulisane.blogspot.co.id/2016/01/curhat-pembaca-koran.html?m=1

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .