Kontrak Rumah Di Kapas, Anggota Aliran Gafatar di Usir Warga

Suara Bojonegoro     Rabu, Januari 13, 2016    

Reporter: Sasmito Anggoro

SuaraBojonegoro.com -Karena merasa resah dan takut dengan ajaran Organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang telah mengontrak rumah milik Musyafak, Warga Desa Kapas, Kecamatan Kapas Bojonegoro, Musyafak dan warga yang lain mengusir para anggota Gafatar yang menempati rumah miliknya.

Hal itu dilakukan karena sejumlah warga Sebab, ajaran-ajaran di dalam Gafatar sangat menyimpang dari ajaran agama islam, misalnya tidak wajib melaksanakan salat lima waktu dan tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabinya. Demikian pula ajaran ini sudah menyebar di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Ternyata, sejak beberapa tahun terakhir Gafatar sudah bergerak di Bojonegoro, dan keberadaannya tidak ada yang mengetahui kecuali pemilik rumah yang dikontrak sejumlah anggota Gafatar itu. Warga juga sudah mengetahui bahwa Gafatar ini diduga pecahan dari organisasi Negara Islam Indonesia (NII) itu ramai diperbincangkan media, juga pemerintah pusat.

Bahkan pemerintah mengklaim Gafatar sebuah gerakan terlarang dan berbahaya. Dengan adanya sekelompok anggota Gafatar diketahui warga sekitar rumah kontrakan yang ditempati akibatnya warga mengusir sejumlah anggota Gafatar itu. Bahkan, pemilik rumah kontrakan juga langsung mengembalikan uang kontrakannya selama beberapa tahun terakhir.

"Saya dan Warga meminta anggota Gafatar itu pindah, bahkan pergi dari wilayah Bojonegoro," Kata pemilik rumah Musyafak Rabu, (13/1/16). 

Pengusiran ini dilakukan oleh warga dan pemilik rumah karena, mereka takut jika Gafatar melakukan hal-hal yang membahayakan, apalagi di televisi ramai diberitakan bahwa organisasi ini banyak menculik orang di berbagai daerah. Dari data dilapangan, di bekas rumah kontrakan anggota Gafatar itu terdapat sebuah peta Kabupaten Bojonegoro.

Selain peta, juga terdapat selembar kertas yang bertuliskan target perekrutan anggota serta selembar kertas syarat untuk menjadi anggota Gafatar.

Dengan adanya peristiwa ini, Wakil Kepala Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bojonegoro, KH Alamul Huda saat dikonfirmasi mengatakan, selama ini MUI belum mengetahui keberadaan Gafatar di Kota Ledre.

MUI Bojonegoro mengaku akan menggali informasi apakah organisasi yang ajarannya menyimpang dari ajaran agama islam itu masih di Bojonegoro atau tidak.

"Kita akan lakukan pendeteksian bekerjasama dengan Bakesbangpolinmas dan pihak kepolisian terlebih dahulu," ujarnya singkat. (Ang)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .