Pasangan Suami Istri Menghilang, Diduga Jadi Anggota Gafatar

Suara Bojonegoro     Jumat, Januari 15, 2016    

Reporter : Kartono

Tuban (suarabojonegoro.com)  – Sepasang suami istri, Yuanita Wulan Sari (28) dan Patria Budi Setiawan (30), serta anaknya Jesica April Setia Wardani (5), warga Jl. Cendana III, Perum Tasikmadu, Desa Tasikmadu, Kecamatan Semanding, Tuban, menghilang sejak 2 bulan yang lalu.

Menghilangnya mereka ini, diketahui berangkat ke Kalimantan Barat, untuk bergabung dengan Organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Tatik Mudiarti didampingi Sunarko, orang tua keduanya, kepada wartawan mengatakan bahwa keduanya berangkat ke Kalimantan Barat sejak 26 Oktober 2015 lalu.

“Sudah dua bulan lebih berangkatnya,” kata Tatik dengan nada sedih menuturkan kronologi keberangkatan keduanya. Kamis, 14 Januari 2016.  
Diceritakan bahwa Mereka berangkat ke Kalimantan dengan menggunakan kapal laut. Padahal saat itu, putra Yuanita dan Patria sedang sakit campak.

Kepergian pasangan ini dengan alasan akan bekerja di sebuah perkebunan sawit dan peternakan.

Patria sendiri, diketahui kelaurganya menjadi anggota Gafatar sejak Tahun 2012 lalu, kemudian merekrut mertua dan keluarganya, namun di tolak mentah-mentah oleh keluarga mertuanya.

“Pernah melakukan kerja bakti di sini juga waktu itu, dengan seragam yang ada logonya Gafatar berwarna orange, dengan seluruh anggota dari Kabupaten Lamongan dan Gresik,” tutur Tatik, sambil menunjukan foto bersama anak dan menantu serta cucunya.

Diketahui mertuanya, Patria menjadi anggota Gafatar diajak oleh seorang kontraktor bernama Dayat dari Kabupaten Gresik dan Dokter Imam dari Kecamatan Tambakboyo, Tuban. Tatik berharap, anak dan cucunya bisa dipulangkan oleh Patria, dengan kondisi yang baik dan selamat. Sehingga bisa kumpul dengan keluarga yang ada di tuban. 

“Setiap hari ayahnya ini (Sunarko-red) selalu menangis, kangen cucunya dan anaknya,” paparnya Tatik sambil menenteskan air matanya. Dia berharap, adanya pihak yang bisa memulangkan anak-anaknya sampai di rumah dengan selamat semuanya.

Sebab dia khawatir dengan kondisi putrinya. Karena ketika sampai di Kalimantan, putrinya masih bisa di hubungi melalui telefon selulernya, namun belakangan 1 bulan terakhir ini, sama sekali putri dan menantunya tidak kirim kabar. 

“Sudah 1 bulan in tidak bisa di hubungi nomor telefonnya, sampai sekarang ini,” pungkas Tatik. (ton)


suarapos

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .