Tersangka Korupsi Opname Di Rumah Sakit, Sesak Nafas Kambuh Diduga Shock

Suara Bojonegoro     Jumat, Januari 22, 2016    

Reporter: Sasmito Anggoro

suarabojonegoro.com - Tersangka Dugaan Korupsi dana proyek jaringan irigasi tingkat usaha tani (Jitut) dan jaringan irigasi desa (Jides) APBN Tahun 2012 senilai Rp5 miliar, mantan Kepala Dinas Pertanian (Kadisperta) Bojonegoro Subekti, sedang menjalani peraawatan Di kamar ruang Melati RSUD Sosrodoro Djatikusumo Bojonegoro. Subekti mengalami sakit sesak nafas,dan kondisinya lemah, tampak tangan kirinya masih menancap jarum infus.

Menurut Kuasa hukumnya, Tri Astuti Handayani mulai hari Selasa Subekti sudah mulai sakit, dan muntah-muntah. Tapi ruangan penuh. Sehingga hari rabu pagi dibawa ke rumah sakit.

"Dia memang mempunyai riwayat sakit sesak nafas sejak masih di bangku sekolah menengah atas, Namun, penyakitnya itu sudah tidak pernah kambuh, dan ada penyumbatan pernafasan, soalnya habis jatuh" Kata Tri Astuti Handayani. 

Ditambahkan Oleh Tri Astuti Handayani, Ditengarai, Subekti shock atas penetapan dirinya menjadi tersangka yang menyebabkan kondisi kesehatannya melemah.

Keberadaan Subekti yang dirawat di RSUD ini dibenarkan oleh Humas RSUD Bojonegoro, Thomas Djaja, dia mengatakan, Subekti menjalani perawatan sejak rabu pagi. Dia membenarkan, bahwa pasien atas nama Subekti didiaknosa sesak nafas.

Subekti ini merupakan tersangka tambahan yang seharusnya dilimpah ke Kejaksaan Negeri Bojonegoro, karena P 21 sudah dinyatakan lengkap, adapun peran Subekti ini selaku kuasa pengguna anggaran (PA) dan pejabat pembuat komitmen (PPK).

Subekti dianggap ikut bertanggungjawab dalam pembangunan proyek Jitut dan Jides di 52 titik, seperti yang disampaikan Kasat Reskrim Polres Bojonegoro, AKP Jeni Al Jauza.

"Kami tidak menahannya karena proaktif dan tenaganya di butuhkan dan menjadi kepala Dinas Peternakan dan Perikanan," Kata Kasat Reskrim Polres Bojonegoro, AKP Jeni Al Jauza.

Subekti disangka telah melangggar Pasal 2 ayat (1) Sub pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun. 

Adapun 2 pelaku lain sudah menjalani putusan pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) di Surabaya, yaitu, Amarlin, mantan Kepala Desa (Kades) Pekuwon Kecamatan Sumberrejo  dan Yuli Rahayu Wijayanti, warga Desa Tlogoagung Kecamatan Kedungadem serta Rohmat Harianto, Kepala Bidang (Kabid) Peningkatan Tanaman dan Holtikultora Dinas Pertanian (Disperta) dengan Vonis selama satu tahun penjara dan pidana uang denda sebesar Rp 50 juta subsider dua bulan penjara. (Ang)

Foto: Suasana di depan Ruangan Subekti dirawat

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .