Cerita Tundukan Banjir, Melawan Jadi Berkawan

Suara Bojonegoro     Rabu, Februari 24, 2016    

Reporter: --

suarabojonegoro.com - Menjadi daerah rawan bencana bukanlah pilihan namun apa dikata ketika topografi wilayah telah menakdirkan sebagai daerah dengan potensi bencana baik banjir, longsor dan angin puting beliung dimusim penghujan. Demikian pula bencana kekeringan dan kebakaran yang akrab terjadi saat musim kemarau. Mungkin itu adalah wajah Bojonegoro sejak jaman dahulu kala. Namun sebagai manusia tak harus berpasrah diri, tanpa melakukan sebuah  ikhtiar agar bencana ini tak selamanya membawa kerugian dan korban.

Cerita bencana di Bojonegoro seperti sebuah sejarah dan telah menjadi bagian hidup dari masa ke masa. Ini adalah sebagian kisah Bojonegoro yang akan di sampaikan oleh Kang Yoto Bupati Bojonegoro, besuk Kamis tanggal 25 pada Rakornas BNPB BPBD. Masih segar diingatan seluruh masyarakat Bojonegoro, bagaimana banjir di akhir tahun 2007 yang memporak porandakan seluruh Bojonegoro.  Wilayah Kota yang dalam sejarah tak pernah tersentuh banjir luluh lantak tak kuasa menahan limpahan sang bengawan. Denyut nadi kehidupan berhenti sejenak.  jangan membayangkan bagaimana pemerintahan. Semua memikirkan diri sendiri, pemerintah tak tahu harus apa dan bagaimana.  pemkab seperti kebakaran jenggot melihat air yang mengalir deras yang perlahan merendam daerah-daerah di dalam kota. Bingung, panik, kalut menggantung disemua benak warga Bojonegoro. Mereka tak tahu harus kemana meminta bantuan dan pertolongan karena kala itu pemerintah seakan telah larut dalam kekagetan dan seketika shock mendapatkan tumpahan air yang merendam denyut nadi pemerintahan. Ditengah kondisi ini rasanya tak salah manakala masyarakat menyalahkan pemerintah dan mereka lebih memilih menyandarkan beban terpaan bencana ini kepada para pahlawan apakah LSM dan Parpol. Mereka sepertinya yang pandai memanfaatkan kesempatan ini untuk mendulang dukungan dari masyarakat yang kehilangan kepercayaan kepada pemerintah mereka.

Bupati dihadapan para Bupati dan Wali Kota Se Indonesia diforum ini akan menceritakan bagaimana kerugian dan dampak yang harus dirasakan oleh seluruh masyarakat Bojonegoro. Intinya Jangan ditanya berapa kerugian harta benda dan berapa nyawa yang turut menjadi korban. Semua tak terhitung, kalah oleh kepanikan yang melanda akibat besarnya bencana banjir yang datang serta merta tanpa bisa diduga. Keadaan ini menjadi semakin parah ketika media besar-besaran mengarahkan liputan di Bojonegoro, bencana besar yang baru kali pertama melanda di tanah jawa ini. Pemberitaan media ini tak seratus persen salah karena mereka pun tak tahu kemana harus mendapatkan data dan sumber yang pasti dan akurat. Sehingga apa yang tampak itulah yang akan menjadi realita. Itu adalah sepenggal kisah kelam Bojonegoro sebelum tahun 2009 dimana belum ada satupun kebijakan dan tata kelola bencana di Kota yang merupakan langganan banjir ini.

Bagi Kang Yoto, yang mulai menduduki jabatan di awal tahun 2008, Banjir akhir tahun 2007 menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagaimana tata kelola informasi dan bencana harus menjadi hal yang mutlak untuk meminimalisr kerugian bahkan meniadakan korban jiwa. Bukan perkara gampang merumuskan tata kelola bencana, pemerintah harus tepat dan cerdas menentukan indikatornya. Berkaca dari kejadian diakhir tahun 2007 dan awal tahun 2008 serta banjir ditahun 2010 di Kecamatan Kanor. Bupati Bojonegoro bersama dengan seluruh lintas vertikal akhir menentukan beberapa indikator. Yang pertama adalah mengenali daerah baik posisi dan kontur serta jenis bencana yang rawan terjadi, Selain itu potesi bencana yang dominan terjadii serta proses terjadinya bencana. Setelah mengetahui semua latar belakang dan sejarah inilah Pemerintah aktif melakukan sosialisasi dan belajar bersama masyarakat. Sehingga masyarakat setidaknya mengetahui apa yang harus dilakukan sesaat sebelum bencana datang, bahkan Pemerintah memasukkan kurikulum renang sebagai kurikulum wajib di muatan lokal mulai jenjang SD. Karena korban banjir kebanyakan adalah anak-anak yang tengah bermain didaerah genangan bukan terbawa arus disungai.

Bupati menjelaskan Langkah Pemerintah Bojonegoro untuk menggauli banjir tak berhenti sebatas belajar dan gencar melakukan sosialisasi namun dengan membuat rumusan strategis bahwa bencana bukan untuk dilawan namun bagaimana kita berkawan dan menggauli bencana itu, karena kehidupan kita berdampingan dengan bengawan solo. Yang kadang dicap sebagai sumber banjir dan bencana, kedua adalah dengan membangun sinergitas dan berbagi peran secara tepat. Yang semula individualis, sporadis kemudian menjadi saling bersinergi. Sinergi ini melibatkan semua komponen baik aparat pemerintah daerah, jajaran vertikal, masyarakat, relawan, media dan Satuan Linmas.

Disampaikan oleh Kang Yoto bahwasannya Secara khusus peran pemerintah dalam tata kelola bencana terbagi dalam beberapa fungsi yakni fungsi kendali informasi, fungsi kendali alat dan sumber daya manusia. Bahkan dalam tingkatan Siaga Merah atau Siaga 3 Bupati dengan tegas mengintruksikan bahwa 25 persen PNS siap untuk Di BKO kan.  Fungsi selanjutnya dari peran pemerintah adalah fasilitator dan koordinasi serta terus belajar bersama untuk mempersiapkan yang lebih baik dan terus membangun spirit belajar bersama.

Dari semua itu, lanjut Kang Yoto,  kini Banjir bagi warga Bojonegoro tak perlu lagi dirisaukan apalagi ditakuti, hal ini terbukti dengan kehidupan masyarakat yang masih tampak normal meski Tinggi Muka Air (TMA) Bengawan Solo sudah memasuki siaga kuning. Anak-anak masih tenang menyebrangi sang bengawan untuk menuntut ilmu, Pedagang masih santai menjejar dagangan dan hillir mudik menyebrangi sungai. Kehidupan petanipun demikian jika dirasa aman mereka akan tetap santai, namun manakala TMA sekiranya merendam tanaman padi mereka yang siap panen maka panen awal menjadi pilihan agar mengurangi kerugian. Itu adalah sebagian dari kehidupan normal yang dijalani masyarakat Bojonegoro yang sama sekali tak terpengaruh dengan status siaga banjir. Yang utama adalah update informasi yang disampaikan baik media radio, media cetak, on line dan media sosial lainnya masih dapat diterima mereka masih bisa memantau dan melakukan kesiapan apa yang harus dilakukan. Hal ini juga terjadi di ranah public dan media dimana mereka turut mendukung dan mesnsupport Pemerintah. Pemerintah memanfaatkan semua media untuk menjadi sumber informasi bagi masyarakat dan menyiapkan data dan informasi dalam waktu cepat dan data yang lebih akurat. Rapinya sistem ini akhirnya mempersempit celah para jagoan politik dan LSM yang ingin mendulang dukungan ditengah kondisi bencana. Sehingga kini tak lagi muncul para jagoan atau pahlawan yang muncul dan tenggelam seiring musim. Kerja keras tak kenal lelah itu kini perlahan mulai menampakkan hasil Tak hanya kerugian yang  diminimalisir dengan cepat, harus anda tahu bahwa Pemerintah tak hanya memikirkan titik pengungsian untuk manusia saja, akan tetapi juga membuat pengungsian yang difokuskan untuk binatang ternak. Tak hanya itu juga disediakan pakan dan pemeriksaan hewan untuk memantau kondisi hewan ternak yang diungsikan.

Pengalaman lah yang membuat Bojonegoro pada akhirnya sukses mengelola bencana, bencana kekeringan melahirkan sistem tampungan air atau embung dan manajemen air, bencana banjir memunculkan ide gagasan paving, belimbing, kolam renang dan batu bata. Kalau Bojonegoro dianggap sukses , sukses itu hanya datang dari kesanggupan proses memahami inti masalah , bekerja keras dan bersinergi bersama tanpa henti, tanpa kenal lelah dan tanpa saling menyalahkan.

 (Humas Pemkab Bojonegoro)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .