Kecamatan Bunga

Suara Bojonegoro     Jumat, Februari 12, 2016    

Oleh: Didik Wahyudi

Entah bagaimana sejarahnya kecamatan ini diberi nama dengan merujuk nama bunga. Nama yang indah, sejuk, tenang, ceria, damai dan menawarkan senyum. Sebuah kecamatan di tengah-tengah hutan dan perbukitan, jauh dari kabupaten tapi lebih dekat dengan kabupaten tetangga.

Jika anda akan ke kecamatan ini, ada lima jalan pintu masuk ke arah sana. Pintu jalan dari arah Ngawi, pintu jalan dari Saradan Madiun, pintu jalan dari arah Nganjuk, kecamatan Bubulan Bojonegoro dan pintu jalan dari kecamatan Gondang Bojonegoro. Lima pintu itu yang akan menyambungkan ke arah kecamatan ini. Tapi sayang untuk sampai di kecamatan yang indah berbukit-bukit harus sedikit bersusah payah, semua jalan ke arah kecamatan ini jelek.

Jalan aspal sudah mengelupas, jalan paving sudah mbenggang, njepat, ambles dan nggronjal jika dilintasi oleh kendaraan apapun. Jika menembus jalan melalui Kecamatan Bubulan akan mendapat suguhan panorama keindahan alam, menakjubkan. Inilah jalan terpendek 68 kilometer dari arah kota Bojonegoro melintas jalan tengah hutan. Tapi harus bersabar karena tak mudah dan lumayan berkeringat.

Di kecamatan ini hanya satu sinyal layanan seluler yang bisa masuk, kartu layanan seluler lainnya tak ada sinyal. Maka siapkan, agar masih bisa terhubung dengan dunia luar. Internet sudah masuk tapi tak berlebih seperti di kecamatan kota barangkali, sesekali lemot tak masalah yang terpenting masih bisa.

Sebuah Kecamatan yang sedang menggeliat oleh kunjungan wisata lokal karena gerakan di medsos, serta gerakan selfi berjamaah. Selfi menjadi gerakan menular dengan latar panorama perbukitan yang indah dan kini sudah ada fasilitas bermain flying fox untuk yang pertama kali di Bojonegoro. Tak perlu lagi keluar kota disini sudah ada dengan panorama alam yang matoh. Saya khawatir kunjungan wisatawan lokal hanya menggeliat saja lalu tertidur lagi, sebab akses jalannya yang rusak serta pengembangannya yang lambat.

Disini juga tempat hulu sungai yang melintasi beberapa desa serta kecamatan hingga hilir sampai di sungai Bengawan Solo. Ada mata air Kali Mas yang bebatuannya menyimpan serbuk emas dan di sekitarnya terdapat lubang-lubang galian mencari sample penelitian laboratorium untuk mengetahui kandungan emasnya. Ada juga mata air Jonopuro dengan kejernihan airnya laksana cermin dalam cerita lutung kasarung, saat Purbasari bercermin di air telaga. Mata air yang menghidupi desa-desa tetangga yang mengalir sampai jauh, dari sinilah alam harus dirawat dengan baik.

Potensi alam yang melimpah beriringan dengan pembangunan infrastruktur jalan yang melambat. Warga sudah cukup tahan menghadapi kerusakan jalan dan sudah cukup hapal untuk menghindari lubang-lubang jalan saat melintas. Mereka kuat sebab sudah bertahun-tahun menghadapinya dan belajar menikmati gronjalan-gronjalan tersebut dengan diam. Jika pemerintah pusat sedang menggalakkan program membangun Indonesia dari pinggiran, maka alangkah sinergisnya jika pemerintah daerah ikut serta membangun desa pinggiran. Desa pinggiran yang sudah cukup sering dilupakan, hanya kadang saat musim pemilu warga kerap memanen harapan-harapan entah sampai kapan menjadi nyata.

Kecamatan ini sudah berjasa menjaga alam hingga mata airnya tetap mengalir. Alamnya masih tetap indah dipandang mata, dan semua orang masih bisa menikmati. Untuk bisa berterima kasih dengan menjadikan prioritas pertama pembangunan di kecamatan ini adalah pilihan terbaik, sebab sudah cukup lama warganya menikmati jalan rusak parah. Menikmati dengan hati-hati karena gronjalan yang bisa menyebabkan terjatuh dari kendaraan atau menjadikan tubuh bergoyang hebat.

Sebuah kecamatan yang warganya lebih memilih ke Kabupaten tetangga untuk berbelanja, berobat atau keperluan lainnya, namun jika pembangunan digalakkan tentu warga akan memutar uang di kecamatan saja tak perlu jauh-jauh. Sebuah kemandirian dari desa-desa perbukitan akan menjadi percontohan dan kelak menjadi tujuan desa wisata yang paling bonafide. Oh...iya namanya Sekar seperti nama seorang gadis yang cantik. Sebuah nama yang indah, tentu seindah alamnya.

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .