Orang Jepang Heran, Warga Bojonegoro Santai Hadapi Banjir

Suara Bojonegoro     Sabtu, Februari 13, 2016    

Reporter: Rabani P

suarabojonegoto.com - "Saya kagum, saya kagum," kata Saito Mikiya, Senior Representative of JICA Indonesia saat melihat kondisi sungai Bengawan Solo di kawasan perkotaan Bojonegoro. Saito yang datang bersama Unsur Pengarah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, tampak sibuk mengabadikan berbagai moment di lokasi yang menjadi titik penyeberangan perahu tradisional.

Saat rombongan datang, cuaca mulai gerimis, sementara status sungai telah dinyatakan siaga hijau (siaga II). Kebetulan saat itu adalah waktu istirahat kantor dan pulang sekolah. Saito yang berambut putih menyatakan kekagumannya melihat ketenangan warga Bojonegoro. Tak sedikit warga yang sedang santai menikmati kopi di tepi sungai yang sedang meluap.

Tak lama, rombongan pelajar menuruni tebing sungai. Mereka menunggu perahu penyeberangan merapat, sedikitnya 40 pelajar dan sepeda pancal milik mereka berpindah ke atas perahu tradisional. Juru mudi perahu dengan sebatang bambu mulai memutar arah perahunya, memotong arus deras sungai Bengawan Solo. "Mungkin orang Jepang itu heran, lha wong sedang bencana  kita malah santai ngopi-ngopi," kata salah satu warga.

Saito juga sempat melihat papan duga Tinggi Muka Air yang ada di tempat itu. Bersama rombongan, mereka harus masuk ke sebuah warung, melalui pintu belakang selebar 50 cm, Saito masih harus menuruni tebing Bengawan Solo tanpa ada alat bantu apapun. "Ya, kita akan bantu," kata Saito dalam bahasa Indonesia yang masih kaku.

Setelah itu, rombongan berjalan menuju lokasi Early Warning System (EWS). Saito beserta rombongan tampak beberapa kali mengusap hidung dengan menggunakan sapu tangan. Maklumlah, aroma di sekitar EWS memang lebih mirip toilet. Tak berhenti disitu, setelah mendapat penjelasan mengenai sistem kerja EWS, Saito memilih untuk mendekat ke bagian bawah EWS tersebut. Dengan tetap membidikkan kamera kecilnya, Saito harus melewati tumpukan gerobak yang ada di bawah EWS.

Saito adalah utusan Pemerintah Jepang untuk wilayah untuk wilayah Indonesia. Melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) pihaknya melakukan pengamatan dan kajian mengenai alat apa yang tepat guna mendeteksi ancaman bencana di Bojonegoro. (red/Rab)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .