Perang Statmen Soal H2S, Antara BLH dan JOB PPEJ

Suara Bojonegoro     Kamis, Februari 04, 2016    

suarabojonegoro.com - Setelah Menyusul adanya insiden kembali pada warga Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas yang mengalami gejala keracunan akibat bau dari sumur PAD A Lapangan Sukowati yang dioperatori oleh Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB PPEJ), akhirnya terjadi ‘perang’ statemen antara pihak operator dengan Pemkab Bojonegoro.

Pihak Pemkab Bojonegoro melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH), sesaat setelah warga Sambiroto klenger, langsung melakukan pemeriksaan kandungan udara di sekitar lokasi. Kala itu (Senin, 01/02) kepada sejumlah media, mengatakan bahwa terdapat kandungan gas beracun yang berbahaya sebesar 1 ppm.

Bahkan pihak BLH menunjukkan langsung angka yang tercantum di alat pengukurnya kepada sejumlah wartawan. Sementara itu, sejak kejadian tersebut, manajemen JOB PPEJ sempat menghilang, awak media yang berusaha menemui dan menghubunginya tak mendapatkan hasil. 

Keesokan harinya (Selasa, 02/02) diperoleh kabar bahwa manajemen JOB PPEJ, Junizar berada di Lapangan Sukowati dan malam harinya menggelar pertemuan dengan awak media di sebuah hotel. Pihak JOB PPEJ menyatakan bahwa alat deteksinya tak menunjukkan adanya kandungan H2S, bahkan mengaku belum mendapat laporan dari BLH, ditambah dengan menyebut bahwa dalam dunia pertambangan ambang batas yang ditetapkan adalah 10 ppm. Seolah menanggapi statemen tersebut, pihak BLH berinisiatif untuk mengirimkan surat hasil pengecheckannya kepada JOB PPEJ yang sebelumnya juga menyatakan bakal mensinkronkan alat miliknya dengan milik BLH.

Tak berhenti disitu, pihak JOB PPEJ kembali mengeluarkan statemen bahwa bau yang membuat warga klenger itu bukanlah H2S. Hari ini (04/02) pihak BLH mengeluarkan statemen yang cukup mengejutkan, bahwa pihaknya telah dua kali memeriksa kondisi udara di Desa Sambiroto. 

Yakni selain kandungan 1 ppm H2S yang ditemukan pada hari senin, pihaknya menyatakan bahwa sehari sebelumnya (Minggu, 31/01), alat deteksi BLH menunjukkan kandungan gas H2S sebesar 2 ppm.

Pernyataan tersebut juga diikuti dengan bantahan bahwa ambang batas H2S adalah 10 ppm (versi JOB PPEJ), yang menurut BLH sesuai dengan ketentuan Kementrian Lingkungan Hidup, ambang batas kandungan H2S hanyalah sebesar 1 ppm. 

Sebelumnya, pihak BLH mengaku, saat pertama kali H2S tercium oleh warga, pihaknya telah mendatangi Lapangan Sukowati dan menanyakan apakah ada kegiatan di sumur migas.

Menurut pihak BLH yang kala itu didampingi beberapa Kasun, dijawab oleh petugas yang ada bahwa tak ada kegiatan di sumur. Yang ternyata, keesokan paginya ratusan warga klenger, bahkan belasan harus dilarikan ke Rumah Sakit dan satu diantaranya harus menjalani rawat inap. (Ang/red/esp)

Foto dok. Salah satu warga yang di rawat akibat bau busuk

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .