Proyek Dihentikan, Kontraktor Merasa Dirugikan, DKP Nyatakan Sesuai Adendum

Suara Bojonegoro     Kamis, Februari 18, 2016    

Reporter: Sasmito Anggoro

suarabojonegoro.com - Mangkraknya Proyek senilai Rp. 658 juta untuk pengerjaan Taman di Desa Banjaranyar, Kecamatan Baureno, Bojonegoro, yang dihentikan oleh Pihak DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) Pemkab Bojonegoro, masih menuai persoalan, yang dinyatakan oleh pihak pelaksana Proyek, bahwa Penyebab mangkraknya dan berhentinya Proyek penyebabnya adalah DKP Sendiri dengan alasan pergantian lokasi, serta merasa dirugikan akibat pemberhentian proyek tersebut.

Hal itu disampaikan oleh kontraktor pelaksana proyek CV Dita Lestari Jaya, Haris saat dihubungi suarabojonegoro melalui telepon genggamnya, bahwa terjadinya molor dan hingga dihentikan karena persoalan awal permasalahannya ada lahan tanah yang untuk Proyek Taman ini bermasalah, sehingga harus menunggu untuk mendapatkan tanah pengganti.

"Sementara kami sudah melakukan kegiatan pekerjaan dengan melakukan pemerataan tanah dengan alat berat, dan habisnya tidak sedikit, namun tiba tiba dihentikan dan menunggu lokasi yang baru," Kata haris, Kamis (18/2/16). 

Menurutnya, Menunggu waktu yang baru itu juga memakan waktu sementara waktu yang diberikan dalam pengerjaan terus berjalan, dan memperngaruhi waktu kinerja kontraktor. "Akhirnya dampak dari hal itu mulai menunggu cari lokasi baru, serta lambatnya berdampak molornya pekerjaan proyek," Tambah Haris.

Dia juga mengaku kaget ketika dilakukan pemberhentian oleh DKP, padahal ada kronologis kejadian yang membuat pekerjaan proyek taman ini molor dan juga menyayangkan adanya pemberhentian proyek tersebut. Sementara Menurut Kepala DKP, Nurul Azizah, bahwa pergantian lahan untuk proyek Taman Baureno ini juga sudah tertuang dalam adendum, "memang ada didalam adendum setelah mendapatkan lahan yang baru," Kata Nurul Azizah.

Padahal setelah pindah lokasi dan Adendum di buat, pekerjaan lebih ringan yaitu cuma membuat pelengsengan dengan pengurugkan saja seperti sesuai waktu yang ada. Karena ditaman tersebut akan di buat rest area dan juga akan mendapatkan hibah berupa sumur minyak Angguk dari wonocolo dari kementrian ESDM.

Karena pekerjaan melebihi tahun anggaran, dan ada tambahan waktu, apabila dikerjakan dengan sungguh sungguh dan menambah pekerja dan armada pasti pekerjaan itu cepat selsai. Karena ada keterlambatan itulah pekerjaan dihentikan dan Kontraktor pelaksana harus mengembalikan uang tunai ke kas Daerah sebesar pekerjaan yang belum dilaksanakan yaitu 48 persen serta membayar Retensi dan Denda.

"Waktu sesuai adendum yang tertuang dan disepakati kedua belah pihak, hanya 62 persen, dan bulan pertama rekanan bisa mengerjakan 45 persen, kenapa pada bulan kedua hanya bisa mengerjakan 17 persen, jika mau menambah armada untuk pengurugkan dan pekerja pasti bisa selesai tepat waktu," Jelas Nurul Azizah.

Nurul juga membantah jika pergantian lahan dan menunggu waktu untuk mendapatkan lokasi pengganti yang baru, dapat menyebabkan molornya waktu pengerjaan proyek pembuatan taman tersebut, karena semuanya sudah tertuang dalam adendum yang disepakati kedua belah pihak. (Ang)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .