Bank Sampah, Andalan Warga Blok Sukowati

Suara Bojonegoro     Jumat, Februari 05, 2016    

Reporter: Sulistya Windya

suarabojonegoro.com - Tumpukan sampah terlihat dibeberapa sudut ruangan. Masing-masing sampah ditempatkan di ruang terpisah yang diberi batas jaring besi. Sampah-sampah itu dipisahkan dari yang sampah plastik, kertas, kaca dan sampah logam. Sementara para pekerja sedang sibuk memisahkan sampah yang kebanyakan dari botol dan gelas plastik air minum.

Sampah itu dikumpulkan oleh warga Desa Campurejo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro. Warga mengumpulkan sampah rumah tangga yang sudah tidak bisa dipakai. Sampah yang dikumpulkan warga, setiap minggu diangkut oleh petugas Bank Sampah untuk diolah kembali agar bisa bernilai. Alhasil, setiap minggu bisa mengumpulkan sampah rumah tangga hingga 1 kwintal.

Manajer Bank Sampah Desa Campurejo, Muhammad Yasin (42) Warga RT 12 RW 02 mengungkapkan, pembuatan bank sampah ini baru dimulai sekitar satu bulan lalu. Warga mempunyai inisiatif membuat bank sampah dengan memanfaatkan dana CSR yang diberikan oleh operator minyak dan gas bumi (Migas) di wilayah setempat, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ).

"Masyarakat Campurejo bisa mengumpulkan sampah rumah tangganya sendiri dan dijual kepada kami untuk diolah kembali menjadi barang siap jual," ujarnya, Kamis (04/02/2016).

Untuk mengumpulkan sampah rumah tangga itu sebelumnya anggota koperasi Bank Sampah melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak membuang sampah plastik, logam, kertas dan kaca. Ajakan untuk mengumpulkan sampah itu mendapat tanggapan positif dari warga. Alhasil, setiap minggu sampah yang terkumpul bisa mencapai 1 kwintal. 

Bukan hanya berhenti disitu, sebanyak 15 pekerja di bank sampah campurejo ini rencana kedepan akan menggandeng sekolah di desa ring satu lapangan migas Sukowati, untuk mengumpulkan sampah. "Kedepan kita juga berencana menerima sampah sisa makanan juga untuk diolah menjadi pupuk kompos," ujar Admin Bank Sampah Campurejo, Ali Syafi'i (24) mendampingi Yasin.

Kepala Desa Campurejo, Edi Sampurno menjelaskan, pemanfaatan pemberian CSR kepada desa ring satu lapangan Sukowati, Blok Tuban, ini jika tidak bisa dimaksimalkan maka akan tidak berdampak pada peningkatan ekonomi kreatif berkelanjutan bagi masyarakat. Sehingga dia mengaku sudah mempersiapkan secara matang sumber daya manusia (SDM) untuk mengelola CSR tersebut.

"Desa sudah menyiapkan SDM dulu sebelum menerima CSR. Menjalin komunikasi dengan warga yang mengerti tentang administrasi untuk pengajuan program, maupun laporan," ungkapnya.

Sedangkan, secara pengelolaan, kata dia, pihak pemerintah desa tidak terlibat sama sekali. Pejabat desa dalam hal ini, menurutnya, hanya melakukan kontrol dan memberi ruang sebesarnya untuk menampung kreatifitas warga. "Semua yang mengurus murni dari warga sendiri," tegasnya.

Dalam rilis yang dikirim ke suarabojonegoro.com Saat ini, beberapa program CSR yang diterima dari operator migas di Lapangan Sukowati, Blok Tuban, JOB PPEJ itu bisa dimanfaatkan warga dan mengangkat ekonomi kemasyarakatan. Selain bank sampah, ada warga di ring satu itu sebelumnya juga mendapat pelatihan tentang pembuatan pupuk organik, pembuatan pakan ternak, pengembangan home industri kreatif ramah lingkungan dan berbasis 3 R serta pemanfaatan pekarangan untuk budidaya holtikultura.

Field Admin Superitendent JOB PPEJ, Akbar Pradima, dalam kesempatannya mengungkapkan, pihaknya telah memberikan pelatihan dan lokakarya di tujuh desa sekitar pengeboran, seperti, Desa Ngampel, Campurejo, Sukosari, Rahayu, Sambiroto, Kebon Agung dan Desa Bulurejo, agar setiap desa memiliki penggerak desa bersih, sehat dan mandiri (berseri).

Akbar menjelaskan, program Desa Berseri  ini mengkombinasikan kepedulian pada lingkungan dan kewirausahaan yang berbasis pada sumber daya lokal, berorientasi pada pengembangan aset-aset penghidupan komunitas serta mendayagunakan potensi serta inisiatif komunitas. Selain itu berorientasi pada peningkatan kualitas komunitas yang berkelanjutan.


"Kualitas hidup masyarakat di sekitar daerah penunjang operasi harus meningkat dan berkelanjutan. Itu penting karena migas itu tidak terbarukan. Jadi kami ingin saat migas sudah habis, kualitas kehidupan masyarakat tidak menurun, tetapi justru meningkat," terang Akbar. ‎(Wid/Red)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .