Apapun yang terjadi, NU Harus Bersatu

Suara Bojonegoro     Minggu, Maret 20, 2016    

Reporter : Sasmito Anggoro

suarabojonegoro.com - Dalam rangka Musyawarah Kerja, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kalitidu mengadakan Seminar dengan tema Menuju Bojonegoro sebagai Kota Migas dan AFTA (Asean Free Trade Area) bertempat di halaman MTs-MA Islahiyah Kalitidu pada hari Minggu (20/3/2016).

Dalam seminar tersebut panitia mendatangkan tiga narasumber, yaitu Akmal Boedianto, Kepala Badan Diklat Provinsi Jawa Timur, Prof Suparto Wijoyo, Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Program Pasca Sarjana Unair Surabaya, dan Hanafi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro.

Akmal Boedianto menyampaikan bahwa Bojonegoro sebagai kabupaten berkembang dengan potensi Sumber Daya Alamnya harus bisa mengelola serta memanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Bojonegoro.

Untuk itu NU harus meneguhkan sikap serta memperkuat mental spiritual dan mental ideologis dalam masyarakat. “ NU diharapkan mampu menjadi pelopor dan garda terdepan dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia menjalani MEA” pungkas Akmal, pria yang biasa dikenal dengan AB itu mengawali paparannya.

Dalam seminar tersebut, Hanafi juga memaparkan bahwa Bojonegoro telah banyak mendapatkan manfaat dari produksi migas yang ada di Bojonegoro. Dana bagi hasil dari produksi migas sudah banyak dipergunakan untuk pembangunan dan pengembangan di dunia pendidikan. Beliau juga menyampaikan bahwa minyak adalah sumber energi yang terbatas.

“Kita harus memahami bahwa sumber energi migas itu terbatas, untuk itu kita harus mendukung program Kang Yoto Bupati Bojonegoro yang menggagas adanya dana abadi, yang nanti bisa dipergunakan untuk pembangunan di Bojonegoro jika energi minyak tidak lagi bisa diharapkan,” jelas Hanafi.

Mengakiri diskusi dalam seminar tersebut Profesor Suparto mengingatkan bahwa karena Kalitidu ini adalah tempat produksi migas maka tanahnya cenderung panas, maka perlu diademkan.

“Perlu adanya kerjasama dengan pihak Perhutani untuk menghijaukan tanah di daerah migas, agar bojonegoro menjadi adem,”pungkas profesor yang aktif mendampingi para petani di Bojonegoro ini.

Ketua Tanfidziyah MWC NU Kalitidu, Abdul Rohim menyampaikan bahwa panitia sengaja mendatangkan ketiga narasumber tersebut karena dianggap kompeten dan pantas untuk memberi wawasan kepada masyarakat, khususnya warga NU Kalitidu untuk mengembangkan sumber daya manusia.

Mengingat Kalitidu adalah tempat pertukaran budaya karena banyaknya orang asing yang masuk ke Kalitidu. Para narasumber itu juga di harapkan mampu memberikan pencerahan kepada warga NU Kalitidu saat pilkada nanti.

“Kami berharap saat suksesi kepemimpinan di Bojonegoro tahun 2018 nanti warga NU Kalitidu bisa menjadi pemilih cerdas,” jelas Rohim saat sambutan.

Suparno, sekretaris Pimpinan Cabang NU dalam sambutannya mewakili PC NU menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Ketua PC NU, Khalid Ubed karena tidak bisa menghadiri undangan dari MWC NU Kalitidu dikarenakan ada acara di Surabaya. “Terkait dengan pilkada 2018 di Bojonegoro, Ketua PC NU berpesan bahwa apapun yang terjadi, NU harus bersatu,” tambah Suparno saat membuka acara. (Ang*)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .