Fenomena Gunung Es Aborsi

Suara Bojonegoro     Minggu, Maret 06, 2016    

Suara Pembaca - Peggerebekan dua klinik aborsi ilegal yang membuka praktek di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat kembali menguak fakta bahwa di Indonesia masih banyak oknum yang melakukan tindakan aborsi ilegal. Dua klinik itu masing-masing berlokasi di Jalan Cimandiri dan Jalan Cisadane.

Sudah bukan rahasia lagi jika klinik aborsi ilegal marak di Cikini, selain ditawarkan melalui website, klinik aborsi ilegal di Cikini juga ditawarkan melalui calo-calo yang banyak di seputaran Jalan Raden Saleh. Aparat kepolisian atau dinas kesehatan DKI Jakarta pun kesulitan dalam melakukan penyisiran tempat-tempat aborsi tersebut. Dikarenakan klinik-klinik aborsi ilegal banyak yang berkedok tempat usaha lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan bidang kesehatan.

Maraknya praktek aborsi ilegal sangat mengkhawatirkan, selain tak berizin, klinik-klinik tersebut menggunakan tenaga medis gadungan baik dokter umum, bidan ataupun tenaga medis yang hanya tamatan SMP.

Aborsi merupakan fenomena gunung es, yang terlihat di permukaan saja, hanya sedikit yang nampak, namun jumlah kasus yang sebenarnya sangat banyak. Jika ditelisik lebih jauh, aborsi bukanlah masalah sederhana bagi pelakunya, namun biasanya mereka yang melakukannya dilatarbelakangi persoalan kompleks, mulai dari alasan kehamilan yang tidak diinginkan akibat seks bebas, alasan perkosaan, alasan kesehatan ibu, hingga alasan sosial lainnya.

Jumlah pelaku aborsi meningkat tajam, dalam kurun satu tahun kurang lebih 2500 juta kasus aborsi illegal terjadi, dimana 20 persen diantaranya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja. Aborsi adalah problem sistemik, ia akan tumbuh subur dalam sistem, dimana seks bebas (perzinahan) tidak diberikan hukuman bagi pelakunya.

Sehingga saat terjadi kehamilan yang tak diinginkan, untuk menutupi aib maka aborsi menjadi pilihan. Ketika pelaku aborsi tidak dikenai sanksi, remaja semakin keranjingan melakukan seks bebas, karena jika hamil toh mudah untuk melakukan aborsi.

Sayangnya solusi yang ditawarkan saat ini adalah solusi yang menjerumuskan, dan mesti digantikan dengan solusi yang menuntaskan yaitu dengan menghilangkan paradigma yang mendasari munculnya seks bebas (liberalisme dan sekularisme), menanamkan pemahaman bahwa seks bebas adalah perbuatan keji, menghilangkan sarana yang akan merangsang, membangun sistem yang akan menerapkan UU untuk menghilangkan seks bebas dan menerapkan sangsi yang tegas, membebaskan dari tekanan global.

Dan ini harus dilakukan bersama-sama pada setiap individu dan keluarga, masyarakat dan negara.

Oleh
Isna yuli
Alumni UNESA
Tinggal di Kepohbaru Bojonegoro

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .