GEOWISATA KEDUNG MAOR SEBAGAI PIONIR PENGOBAT LESU INDUSTRI MIGAS BOJONEGO

Suara Bojonegoro     Minggu, Maret 06, 2016    

Oleh : Arhananta

suarabojonegoro.com - Diawal tahun 2016 industri migas masih diterpa musibah anjloknya harga minyak mentah dunia yang bahkan diawal februari menyentuh 29 USD perbarel. Bojonegoro merupakan kota dimana minyak adalah primadona dalam sektor industrinya. Perusahaan minyak dan gas Bojonegoro pun melakukan pengiritan dalam segala kebijakan khususnya dalam penambahan atau perekrutan pekerja karena anjloknya harga minyak mentah dunia. Imbasnya, perusahaan yang bergerak dalam sektor minyak dan gas mengurangi daya resap pekerja baru serta sedikitnya pekerja yang menerima perpanjangan kontrak baru.

Para sarjana geologi ataupun sarjana dari jurusan lain yang baru lulus asal Bojonegoro yang dikatakan putra daerah pun mulai resah mendengar kabar itu. Oleh karena itu saya sendiri sebagai yang masih duduk dibangku perkuliahan dan calon seorang geologist ikut untuk memikirkan nasib generasi muda Bojonegoro. Sepulang saya liburan ke kampung halaman Bojonegoro tercinta pada liburan semester bulan Januari sampai pertengahan Februari 2016 lalu saya sangat tertarik dengan penemuan tempat wisata baru di Bojonegoro.

Banyak tempat di Bojonegoro yang saya jelajahi selama liburan salah satu diantaranya adalah kedung maor. Kedung maor merupakan air terjun ikonik yang dimiliki kecamatan Temayang ini disebut sebut GreenCanyoon-nya Bojonegoro. Jarak tempuh 1 jam perjalanan dari pusat kota Bojonegoro juga menyuguhkan keasrian alam Bojonegoro bagian selatan yang diunggulkan dalam sektor pertaniannya.

Hamparan sawah luas menghimpit jalan serta perbukitan yang terlihat dari kejauhan memanjakan mata diperjalanan menuju kedung maor. Sesampainya disana saya melakukan tracking disekitar air terjun dan menemukan banyak struktur geologi dan Fosil yang tersaji disekitar lapisan batuan dibagian atas air terjun. 

Dalam pengamatan daari atas pun terlihat bahwa lapisan bagian bawah merupakan lapisan batuan lempung masif dan semakin ke atas akan semakin berbutir kasar ke butiran arah pasir. Dalam ilmu sedimentologi mengatakan jika perlapisan berbalik dari halus ke kasar maka menandakan jika dulunya merupakan lingkungan pengendapan laut. Faktanya memang benar dalam perlapisan batuan bagian atas banyak pecahan cangkang yang masuk dalam perlapisan batu pasir serta temuan fosil jejak berupa burrows. 

Burrows sendiri adalah rumah dari binatang laut yang hidup atau berburu makanan dengan membuat lubang galian yang telah membatu. Burrows dikanan bagian atas air terjun kedung maor.

Jika dikaji lebih lanjut ternyata fosil itu telah berumur miosen atau 23-5 juta tahun yang lalu. Sungguh menariknya kedung maor disamping hanya tempat berfoto foto juga tersimpan cerita panjang dalam pembentukannya yang bisa sebagai wisata edukasi bagi para wisatawan. Cerita yang menarik ini juga merupakan peluang yang besar untuk menarik daya tarik wisatawan untuk menuju ke kedung maor.

Cerita urut urutan terjadinya suatu tempat dalam bungkus wisata edukasi ilmu kebumian biasa disebut “Geowisata”. Geowisata merupakan pariwisata minat khusus dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam seperti bentuk bentang alam, batuan, struktur geologi dan sejarah kebumian, sehingga diperlukan peningkatan pengayaan wawasan dan pemahaman proses fenomena fisik alam.

Nah geowisata merupakan terobosan yang sangat menjanjikan untuk daerah Bojonegoro dalam kelesuan industri migas saat ini. Jika kita melihat keluar contohnya Kabupaten Gunungkidul adalah daerah yang menawarkan geowisata pada objek objek wisata mereka Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gunungkidul dari sektor pariwisata naik dua ratus persen dari target awal. 

Awalnya, target PAD pariwisata sepanjang tahun 2014 hanya Rp 7,6 Miliar namun realisasi di lapangan mampu menembus Rp 15.420.475.427. Saya berharap Bojonegoro selain mencanangkan lumbung padi dan energi nasional juga dapat berkembang di sektor pariwisata khususnya dalam geowisata karena masih banyak hal yang belum terungkap seperti kayangan api, atasangin, dan tempat tempat Bojonegoro yang bisa diangkat cerita secara keilmuan agar terciptanya daya tarik wisatawan.

Hal itu juga tak lepas dari keseriusan pemerintah kabupaten dalam perbaikan akses menuju lokasi wisata dan tata kelola objek wisata yang hars terus dikembangkan. 


“Maju terus Bojonegoroku demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik. Bojonegoro MATOH .”


*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Teknologi Mineral Jurusan Teknik Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta


© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .