Melawan Sakit Pasca 3 Maret 1924

Suara Bojonegoro     Kamis, Maret 03, 2016    

Oleh : Anna Mujahidah Mumtazah 

Pasca runtuhnya sistem pemerintahan Islam 92 tahun silam menjadi kepahitan tersendiri. Hingga kini rasa itu masih menyelimuti tubuh kaum muslim. Bahkan semakin hari semakin menjadi. Islam kaffah yang diwajibkan oleh Rabb semesta alam telah berhasil dihancurkan oleh para musuh Islam. Melalui agen Inggris dan antek Yahudi Mustafa Kemal At Tartuk daulah khilafah berhasil diruntuhkan. Negara yang memiliki kekuasaan tak kurang dari 2/3 dunia menjadi kepingan negeri-negeri kecil yang tersekat nasionalisme. Sekat ini mampu melumpuhkan kekuatan kaum muslim. Tak ada lagi rasa kepedulian meski dalam satu akidah.

Peristiwa memilukan itu menjadi angin segar bagi ideologi kapitalisme. Paham sekulerisme kian menjangkit negeri-negeri muslim. Tak ada lagi sami’na waatha’na pada ajaran Islam. Yang ada hanyalah kebebasan. Bebas berekspresi, bergaul, berpendapat yang berujung pada kerakusan bak hukum rimba. Yang memiliki kekuatan maka dialah yang menang. Mereka yang memiliki modal besarlah yang memiliki kekuasaan.

Dalam hal pergaulan bebas, tak sedikit kita jumpai kasus aborsi. Bayi di dalam perut hasil dua pasang insan tanpa ikatan pernikahan yang tiada  berdosa mendapat imbasnya. Dua orang tuanya tak mau lagi bertanggung jawab. Naudzubillah.

Di sisi lain seakan tak ada ruang kebebasan dalam ketaatan. Tak sedikit kita dapati kasus seorang anak muslim yang terlarang berkerudung saat bersekolah di negeri mayoritas muslim namun dalam lingkungan/kota minoritas muslim.

Muslim Rohingya di Myanmar pun mendapat penyiksaan yang super dikarenakan memeluk ajaran Islam. Mereka terusir dari kampung mereka sendiri. Melarikan diri ke negeri lain pun tak ada yang peduli. Terkatung-katung di laut guna menyelamatkan diri hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Dengan keadaan perahu seadanya, bekal yang tak cukup menjadikannya bersabar dalam suasana lapar di tengah kapal.

Bahkan beberapa meninggal di tengah perjalanan.
Di sisi lain cap teroris bagi beberapa kaum muslim tersematkan. Sementara tak ada bukti nyata. Tak sedikit yang meninggal akibat penembakan dikarenakan mereka hanya sebagai terduga.

Sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) melahirkan liberalisme (kebebasan) yang semakin menjadi. Bukan kebebasan dalam ketakwaan namun kebebasan dalam kemaksiatan. Akhir-akhir ini marak kampanye ide LGBT. Pernikahan sejenis yang dilegalkan di Amerika menjadikan para pelaku LGBT menuntut di sahkan pula di Indonesia. Sementara aktivitas kaum Nabi Luth ini terlarang dalam agama.

Dari segi ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan politik dan lainnya negeri-negeri kaum muslim terjajah. Kekayaan alam yang Allah limpahkan kepada negeri muslim berhasil dirampas oleh para kapital. Dalam pendidikan, kurikulum pendidikan semakin menjauhkan manusia dari Rabb semesta alam. Dalam sepekan mapel agama cukup sekali. Di perguruan tinggi lebih miris lagi yakni hanya dua sks dalam kurun empat tahun.

Dengan adanya fakta yang demikian timbul pertanyaan “Haruskah kita diam seribu bahasa? Ataukah harus beraksi nyata? Jikapun beraksi yang seperti apa?” Sebagai seorang muslim yang cinta pada sang Khaliq tentu hati kita sakit.

Sakitnya hati ini mengharuskan diri melakukan aksi. Yakni melawan arus menuju solusi. Manusia hanyalah hamba yang lemah. Dengan kelemahan itu mengharuskan diri menyadarinya. Dan berserah kepada aturan yang Maha Sempurna. Menjadi kewajiban kaum muslim untuk taat pada Allah dan rasul-Nya. Hal ini dapat teraplikasi sempurna dengan mengembalikan kehidupan islam. Sebuah kehidupan yang hanya menggunanakan aturan Rabb semesta alam. Yakni aturan yang bersumber pada Al Quran dan Hadis. Bukan bersumber pada akal manusia.
Mencoba menengok kejayaan masa silam saat Islam berjaya. Para musuh pun gentar menghadapinya. Suatu saat terdapat muslimah yang auratnya tersingkap akibat ulah non muslim. Seketika itu kepala negara memerintahkan pasukan yang luar biasa banyaknya untuk memeranginya.

Dalam bidang pendidikan, gaji guru jauh dari kecukupan. Di kala seseorang menulis buku seberat 1 kg maka negara memberi imbalan satu kg emas. Luar biasa.

Dan Allah pun menjanjikan bahwa suatu saat Islam akan kembali dimenangkan. Beruntunglah mereka yang bersama dalam ketaatan menuju dimenangkannya kembali Islam di muka bumi. Janji Allah adalah pasti. Maka tak ada lagi yang perlu diragukan lagi. Allahu A’lam

*) Penulis adalah berprofesi sebagai guru di Bojonegoro dan alumni pendidikan kimia UNESA

Foto Ilustrasi : arahmah.com

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .