SELEKTIF MEMILIH MAMIN DAN KOSMETIK

Suara Bojonegoro     Rabu, Maret 30, 2016    

Oleh : Liya Yuliana, S.Pd


Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia di samping sandang dan papan. Kapitalisme yang kini bercokol di segala penjuru negeri memiliki pengaruh sangat signifikan terhadap perekonomian, sosial, budaya, politik dan segala lini kehidupan sebuah negara. Kapitalisme dengan prinsip ekonomi “Dengan modal sekecil-kecilnya, mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya” men5jadikan pelaku ekonomi terkadang terlena sehingga menerabas batas keharaman.

Indonesia dengan sebagian besar masyarakat beragama Islam ternyata masyarakatnya belum terbebas dari mamin (makanan minuman) dan kosmetik haram. Sejak adanya LPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia), menjadikan masyarakat sedikit agak lega, karena lembaga ini diberi wewenang pemerintah untuk menjamin kehalalan produk yang beredar.

Prosedur yang dilakukan LPOM adalah meneliti produk Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika tentang kehalalannya dengan standart tertentu. Jika halal, akan diberi sertifikat dan label halal sehingga memudahkan para konsumen untuk mengkonsumsi mamin dan kosmetik halal.

Namun ternyata  tidak semudah itu, banyak produk yang berlabel halal ternyata haram. Dapat pula dijumpai produk halal namun belum mendaftarkan untuk mendapat label halal. Pelabelan halal dari LPOM MUI ini banyak dipalsukan. Menurut direktur LPOM MUI, Lukmanul Hakim: ”Banyak produk dengan label halal palsu yang menipu masyarakat”. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa jumlah produk yang berlabel palsu masih cukup tinggi yaitu sekitar 40 hinggga 50 persen dari 113.515 unit.

Beberapa bulan lalu di Bojonegoro dihebohkan dengan isu peredaran daging celeng (babi hutan). Polisi berhasil menangkap seorang tersangka yang diduga kuat sebagai penyuplai daging celeng dan menyita 1 kwintal daging babi setelah 30 tahun beroperasi. Mahalnya harga daging sapi menjadikan pelaku ekonomi bermain peran. Harga campuran daging celeng tersebut dijual dengan harga jauh di bawah harga daging sapi. Sehingga selisih harga yang sangat signifikan menjadikan pelaku ekonomi tergiur.

Tampaknya selain memperhatikan tanggal kadaluarsa masyarakat juga harus selektif dan jeli terhadap status kehalalan produk mamin dan kosmetik. Sebagai seorang muslim yang yakin bahwa akhirat dan penghisaban adalah sebuah kepastian, tentunya selektif dan berhati-hati terhadap makanan yang haram. Keharaman bisa saja terjadi karena zatnya seperti daging babi. Dapat juga keharaman dikarenakan bercampurnya daging halal dengan daging haram, pengolahan yang tidak sesuai dengan syariat Islam (pemotongan dengan menyebut selain Allah), dan lainnya. Allah berfirman dalam Surat Al Maidah ayat 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.”

Setiap yang diharamkan Allah pasti mendatangkan bahaya. Bahaya saat di dunia, terlebih saat akhirat dan hari penghisaban menyapa. Karena setiap perbuatan di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhirat. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 168: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (sehat) dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Dampak  makanan dan minuman yang haram, akan menjadikan hati manusia keras. Sehingga lebih cenderung berbuat maksiat, susah memperoleh ilmu yang bermanfaat, dan doanya tidak dikabulkan oleh Allah. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Ya Sa’ad jagalah makananmu, niscaya kamu menjadi seorang yang mustajab do’amu, demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya ada kalanya seseorang memasukkan makanan yang haram dalam perutnya, lalu tidak diterima amalnya selama empat puluh hari. Dan setiap orang yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram atau riba, maka neraka lebih tepat menjadi tempatnya”( Tafsir Ibn Katsir Juz I).

Ketakwaan individu sangat berpengaruh terhadap peredaran mamin dan kosmetik haram yang tengah beredar di masyarakat. Selain itu kontrol dari masyarakat juga diperlukan. Di saat seorang pelaku ekonomi memproduksi, mendistristribusikan barang haram, maka masyarakat melaporkan ke pihak yang berwajib. Tak hanya sampai disitu, dibutuhkan pula kontrol dari negara dan aturan yang mengatur mamin dan kosmetik halal/haram sehingga kegundahan masyarakat terobati dan jalan menuju kebahagiaan hakiki dapat ditempuh.

Sebagai seorang muslim tentunya lebih memilih kehati-hatian daripada melakukan sesuatu yang meragukan. Setiap hendak mengkonsumsi mamin dan memakai kosmetik sebaiknya mengecek label halal, tanggal kadaluarsa dan bahan yang digunakan. Jika tidak berlabel halal, dapat dipertimbangkan terlebih dahulu apakah ada peluang bahan haram dijadikan bahan dalam pembuatan makanan tersebut atau tidak. Menghindari hal yang meragukan tentu lebih baik. Semoga dengan demikian keberkahan dan keselamatan yang  akan didapatkan. Allahu A’lam



Penulis: Alumni Pendidikan Kimia UNESA

*) Foto Ilustrasi tempo.co.id




© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .