watu Gandul Di Gondang, Masih Tersembunyi dan Masih Perawan

Suara Bojonegoro     Sabtu, Maret 05, 2016    

Oleh : Didik Wahyudi

suarabojonegoro.com - Potensi wisata keindahan alam yang tersembunyi dibalik rerimbunan semak dan pepohonan ini begitu mempesona. Masih perawan, diantara ladang tengah hutan dan akses jalannya menantang bagi offroader. Untuk sampai ke lokasi membutuhkan keberanian dan tekad sebab jalan untuk sampai ke lokasi hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki dan trail. Jika menggunakan trail jalan ke lokasi lebih jauh karena memutar dibalik punggung perbukitan dan harus melewati jalan berlumpur saat hujan serta dua kali menerobos sungai kecil, jika jalan kaki lebih dekat dengan jalan setapak diantara sawah dan ladang. Akses jalan yang belum terbangun dengan baik tentu akan menjadi tantangan bagi offroader dan para pemburu foto keindahan alam, semakin ekstrim semakin mematik gairah petualangan. Tapi jika sudah sampai di lokasi akan menemukan kepuasan “berwisata” sebenarnya yang tak akan ditemui di tempat lain.

Watu Gandul itu diantara deretan batu-batu besar yang berserak akibat letusan gunung berapi pada masa lampau yang diperkirakan dari letusan Gunung Pandan. Batu-batu andesit yang ukurannya super jumbo itu tertata secara alami, tapi jika menyaksikan langsung akan tidak percaya bahwa itu karena proses alami sebab tumpukan batu besar yang begitu ganjil bak dibangun oleh arsitektur handal masa lampau, maka warga sekitar menyebutnya sebagai Watu Gandul, batu menggantung. Tapi ada juga sebagian warga yang mempercayai bahwa batu-batu besar itu memang ditata pada jaman batu oleh nenek moyang masa lampau sebab tak mungkin bentuknya yang begitu artistik, membentuk penompang batu besar yang di sela-selanya ada tiga buah batu besar menggantung secara berundak dengan jarak dua meteran.

Batu yang paling atas lebih besar dibandingkan batu Semar di alun-alun Bojonegoro, lalu dibawahnya lebih kecil dan paling bawah besarnya diantara batu di tengah dan batu paling atas. Sementara di sisi lain bersandar batu besar lainnya di salah satu penompang yang juga berupa batu besar. Sementara batu paling bawah bawah cocok untuk selfie gaya-gayaan seakan dua tangan mengangkat batu besar.

“Rangkaian” Watu Gandul itu diperkuat oleh tumbuhnya pohon besar diantara sela-sela batu, sepertinya pohon yang tumbuh itu mengaitkan antara satu batu dengan lainnya untuk semakin mengokohkan “bangunan” Watu Gandul. Pohon yang akarnya menjuntai tersebut bisa digunakan untuk tangga agar sampai ke puncak Watu Gandul, bagi yang tak bisa memanjat sebaiknya jangan mencoba karena cukup berbahaya. Ketinggian Watu Gandul kurang lebih 45 sampai 50-an meter dari dasar tanah, jika ditambah ketinggian pohon akan lebih tinggi menjulang lagi. Posisi Pohon lebih tinggi dari Watu Gandul dan bisa dilihat dari desa terdekat kurang lebih 6 KM atau bisa jadi lebih jauh lagi karena seperti menempel di salah satu sisi sebuah bukit.

Gambaran diatas rasanya tidak mewakili eksotisme dan keindahan yang ganjil Watu Gandul jika tidak melihat sendiri di lokasi, apalagi saya hanya berbekal kamera handphone yang tak memadahi untuk membagi kepuasan setelah menikmati batu-batu besar tersebut. Pun saat mengambil gambar dari kamera handphone saya harus berada di posisi lima belas meter dari Watu Gandul agar masuk dalam frame utuh karena besarnya batu yang menjulang, dan sebagian tertutupi oleh semak belukar serta pepohonan kecil di samping kanan kiri.

“Sampean orang lor pertama (Bojonegoro kota dan sekitarnya-red) yang mengunjungi tempat ini mas,” ujar Paryono warga setempat beberapa saat setelah masuk ke Watu Gandul.

“Oh ya, masak ?” Balas saya cukup kaget juga dan merasa beruntung.
“Benar mas, saya serius.”

Dulu Watu Gandul berada di tengah hutan lebat dan dijadikan tempat untuk bertapa, tapi kini sekitar lokasi berubah menjadi ladang yang ditanami jagung. Kadang saat hujan turun lebat warga berteduh di lokasi tersebut dan saat musim kemarau akan terdengar suara thik thik terrrr…thik thik terrrr…. begitu seterusnya tak berhenti. Suara itu dari tetesan air karena Watu Gandul terdapat celah yang menyambung ke dalam goa Landak, sebuah goa kecil yang dalam dulu dijadikan tempat persembunyian hewan Landak maka warga menyebutnya goa Landak. Bunyi tetesan air itu menggema hingga terdengar seperti kicauan burung.

Untuk mencari mulut goa Landak kami berenam harus berjalan kaki sekira 15 menit dari Watu Gandul melewati semak dan batu-batu besar. Eko Prasetiyono, Kepala Desa Sabongrejo Kecamatan Gondang yang memimpin rombongan menyerah karena kelelahan dengan medan terjal. Dia ditemani seorang perangkat desa untuk beristirahat dan sisa rombongan meneruskan perjalanan mencari goa Landak. Kami tidak tahu lokasi mulut goa, untungnya ada seorang warga yang sedang bekerja di ladang menunjukkan arah ke mulut goa.

Tidak mudah menemukan mulut goa yang sudah tertutup semak belukar sebab tak pernah lagi dikunjungi orang. Kami meloncat dari batu ke batu serta merayap menelisik mulut goa, dan seorang teman yang membawa sabit membersihkan semak belukar untuk mempermudah menemukan mulut goa. Disela-sela mencari mulut goa itulah kami bertemu dengan kawanan burung Joan yang berjumlah ratusan berterbangan dari pohon besar yang kami dekati dan terbang mengarah ke tengah hutan. Burung ini sudah cukup langka ditemui karena sering diburu, besarnya hampir menyamai burung dara.

Akhirnya setelah beberapa lama mencari-cari salah seorang dari kami menemukan mulut goa, tapi sayang sebagian goa sudah tertutup tanah gembur jika diinjak. Hanya saja dari cerita warga setempat yang pernah menelusuri goa tersebut menyambung ke Watu Gandul, tapi kami tak menemukan dan kami pun agak lemas karena gagal menemukannya lalu untuk menghibur diri kami duduk di batu besar untuk beristirahat dan berpesta foto. Dari situlah muncul obrolan dari para pemuda asli warga setempat berkeinginan untuk membersihkan semak belukar dan berusaha untuk mengembalikan goa pada aslinya karena tertutup tanah gembur. Barangkali suatu saat akan menjadi tempat jujugan para wisatawan dari berbagai daerah sebab keunikannya yang berbeda dari tempat lain.

“Kami sudah bersusah payah menghadang eksploitasi batu-batu andesit dari kehancuran, kami akan menjaga alam tetap seperti ini untuk anak cucu kami nanti,” ujar Eko Prasetiyono, Kepala Desa Sambongrejo setelah kami berkumpul kembali di bawah pohon besar diatas batu. Kami berdiskusi untuk masa depan batu-batu tersebut jika memungkinkan akan menjadi destinasi wisata pilihan.

“Jika diubah menjadi tempat wisata mungkin bisa menyelamatkan batu-batu tersebut dari eksplotasi, sebab sudah ada pengusaha bermodal besar yang datang kesini membawa alat berat,” ujarnya lagi sambil menerawang seperti ada kekawatiran dalam benaknya dengan masa depan batu-batu tersebut.

Sebenarnya saya tidak tahu jika Kepala Desa Sambongrejo ikut turun langsung bersusah payah dalam jelajah ke Watu Gandul tersebut, sebab sebelumnya hanya diajak seorang teman untuk melihat ke lokasi karena penasaran melihat depe di media sosial. Tanpa sepengetahuan saya, seorang teman itu mengajak Kepala Desa serta perangkat Desa padahal niat awal hanya wisata kecil-kecilan. Saya cukup “mongkok” dengan antusias Kepala Desa dan perangkatnya untuk memberdayakan warganya dengan potensi wisata tersembunyi dan belum tersentuh pembangunan.

Sore beranjak turun. Semilir angin menerpa wajah kami, alam sekeliling seperti terhenti dan jarum jam tak bergerak. Saat terdiam menikmati keindahan alam menjadikan segala persoalan hidup seperti larut dan menghilang. Suara alam begitu hening, menentramkan hati serta fikiran.
Dalam diam sesekali menikmati kopi yang sudah dingin dan jajanan bekal perjalanan yang kami bawa dari rumah Kepala Desa. Beberapa saat kemudian Eko Prasetiyono yang tersadar dari angan masa depan batu-batu besar itu mengajak kami pulang, waktu sudah beranjak sore. Tim petualangan kecil ini pulang dengan mengambil jalur yang berbeda, saya memilih jalan kaki berbeda dengan saat keberangkatan. Kami berjanji akan kembali ke Watu Gandul dengan semangat berbeda, batu-batu besar yang akan terus dijaga warga setempat untuk masa depan anak cucu

Sumber : http://pokjabudayabojonegoro.com/2016/03/03/eksotisme-watu-gandul/

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .