PC PMII Bojonegoro Gelar Pembukaan Rangkaian Peringatan Harlah PMII Ke 56

Suara Bojonegoro     Minggu, April 03, 2016    

Reporter : Nella Rachm

suarabojonegoro.com - Minggu (03 April 2016) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Bojonegoro merayakan Harlah PMII Ke 56 dengan melaksanakan 9 rangkaian kegiatan. Pembukaan Harlah ditandai dengan seminar dengan tema: Mewujudkan Industrialisasi Migas Yang Ramah Lingkungan Untuk Kesejahteraan Masyarakat Bojonegoro" yang bertempatkan di Gedung Paripurna DPRD Bojonegoro.

Hadir dalam pembukaan tersebut Ketua Mabincab PMII Bojonegoro: Ahmad Sunjani Zaid, Direktur Idfos: Ahmad Taufiq dan berbagai tamu undangan dari berbagai kampus dan organisasi kepemudaan.

Seminar berlangsung  antusias, dengan Narasumber : 1. Joko Purwanto (Pakar NGO) 2. Agus Supriyadi, SH M Hum (Kepala Dinas ESDM) 3. Lalim S.Pd (BLH) 4. Anam Warsito (Komisi A DPRD ).

Ketua Panitia, M Zainul Ihwan menjelaskan perhelatan rangkaian harlah ke 56 Tahun PMII ini ada 9 kegiatan yang dipersembahkan PC PMII Bojonegoro untuk kader, agama bangsa dan negara. "PMII memberikan kontribusi pemikiran dan gerakanya untuk membela bangsa dan penegak agama".

Ketua Umum PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid dalam sambutanya mengajak semua pihak untuk peduli lingkungan dan kondisi lokal di Bojonegoro. "Saat ini problem sosial semakin tinggi, bagaimana menyelaraskan  itu adalah tugas kita sebagai pemuda negeri ini. Misalkan migas, maka harus ada sumbangsih nyata pengelolaan Migas untuk pembangunan SDM dan ekonomi yang berkelanjutan serta tidak boleh merusak lingkungan kita. Agar daerah ini tidak mendapat kutukan sumberdaya migas".

Agus Supriyadi, selaku kepala dinas ESDM menyampaikan bahwa saat ini Pemerintah Daerah sudah penuh inovasi dalam mengelola migas, agar bisa mensejahterakan masyarakat Bojonegoro, baik dari sektor  pendidikan, kesehatan, pertanian dan infra struktur. "Dengan adanya dana migas, Pemerintah mulai membenahi berbagai sektor di daerah ini, sehingga Bojonegoro sudah tidak lagi kabupaten terbelakang di Jawa Timur".

Selanjutnya dari BLH Kabupaten Bojonegoro mengungkapkan "Industrialisasi tidak bisa dilepaskan dengan lingkungan, maka kami selalu menuntut perusahaan agar peduli lingkungan".

Selanjutnya Pakar NGO Bojonegoro, Joko Purwanto menyampaikan bahwa industri ekstraktif akan mewujudkan kesejahteraan masyarakat bila adanya transparansi dalam pengelolaan dan pengalokasian dananya. "Selain transparansi menjadi syarat utama terwujudnya pemerintahan, transparansi juga akan membudayakan kejujuran mulai dari perencanaan, pengelolaan dan pengevaluasian program multi stake holder".

Narasumber terakhir dari Komisi A DPRD Bojonegoro, yakni Anam Warsito mengatakan kelemahan mengelola migas dengan baik antara lain adalah kurang adanya sinkronisasi program pemerintah dengan prrusahaan bahkan dengan RKPJMD. "Adanya migas jangan membuat mental pejabat kita membangun gedung-gedung yang kurang pro poor. Pemerintah eksekutif harus tahu skala prioritas”. (Ney)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .