Romantika Jalan "Gronjal"

Suara Bojonegoro     Kamis, April 28, 2016    

Oleh : Sujanarko

"Untuk Bahagia, kita perlu kerja sama, Itu berarti kita tidak bisa seenaknya. Kita tak boleh lagi merusak bumi". (Candra Malik)

Jalan tol yang dibangun di kawasan Kecamatan Gayam, Bojonegoro, begitu mulus nan halus saat dilewati para pekerja proyek pertambangan Minyak dan Gas Bumi. Tiada gronjalan sedikitpun ketika melintasi jalan tol tersebut – ya kalaupun ada gronjalan berarti jalan utama sedang diperbaiki.

Saya sedikit beruntung bisa merasakan kemulusan jalan tol tersebut sebab hampir dua tahun lamanya saya bekerja di sana. Sebelum pada awal tahun ini, kontrak saya habis dan tidak lagi diperpanjang. Berderet-deret mobil dari mulai bus berpenumpang karyawan, sampai Pajero berpenumpang bos, melenggak-lenggok dengan santainya di atas jalan tol layaknya seorang model yang tengah berjalan di atas catwalk.

Sehingga, para penumpang bisa nyaman untuk bersender di kursi sambil dengerin musik, atau sambil main handphone, bahkan tidur pun juga boleh – asal jangan lupa bangun kalau sudah sampai. Akan tetapi, jangan pernah berharap adanya kenyamanan saat melintasi jalan sebelum atau sesudah jalan tol tersebut.

Apalagi bagi yang bukan pekerja proyek, pasti tiadalah sempat merasakan kemulusan jalan tol tersebut. Inilah yang kemudian menjadi pertanyaan: apakah tujuan dari proyek pertambangan Minyak dan Gas Bumi tersebut hanya untuk memberi kenyamanan bagi orang-orang yang berkesempatan bekerja di sana? Lalu orang yang tidak bekerja di sana dilarang menikmatinya.

Tapi pertanyaan di atas, akan segera terbantahkan dengan fakta bahwa; jalan-jalan kampung di sekitar proyek tidak gronjal-gronjal amat karena toh sudah banyak yang di-paving, bantuan pun mulai berdatangan entah untuk (kembali) memperbaiki jalan, entah untuk memperbaiki sekolah-sekolah, entah untuk membangun fasilitas umum, entah untuk program-program yang lainnya.

Selain itu, penyerapan tenaga kerja pun juga sudah banyak dilakukan. Lalu kurangnya di mana? Ya, ya, mungkin saja otak saya yang kurang – atau malah saya kurang bersyukur karena sudah dua tahun diijinkan bekerja di sana tapi tiada pernah mengucapkan terima kasih.

Malah mengajukan pertanyaan yang bukan-bukan. Baiklah-baik, saya akan (berusaha) bersyukur dengan jalan gronjal yang akan saya lalui sebelum dan sesudah jalan tol tersebut – meski tidak sesering saat saya masih bekerja di sana. Saya jadi teringat Chairil Anwar: “Yang bukan-penyair tidak ambil bagian.” Tentu yang dimaksud dengan ‘penyair' di sini bukanlah penyair dalam pengertian professional, melainkan “mereka yang peka dan mau (berusaha) mengerti” (Seno Gumira Ajidarma. 2008. 18: 74).

Oleh karena itu, saya (berusaha) mengerti dan sekaligus menikmati jalan gronjal lengkap dengan lubang yang beragam; dari yang kecil sampai yang besar. Dan saat melewati jalan gronjal itulah – lebih-lebih setelah hujan mereda – saya jadi bisa (bukan lagi berusaha) mengerti bahwa jalan gronjal juga memiliki romantikanya tersendiri. 

Tanpa lubang-lubang tersebut tentu tiada mungkin air hujan meninggalkan genangan. Dan jika tiada genangan, mana mungkin saya bisa melihat anak-anak tersenyum ceria saat bermain sirat-siratan dengan air dalam genangan bersama teman-teman sepermainannya? Dan jika tanpa genangan, mana mungkin para pejalan kaki bisa membasuh kakinya yang kotor karena kejeglong tanah berlumpur campur taik kucing? Saat malam menjelang, tentu genangan air tersebut akan dijadikan kaca oleh lampu merkuri di pinggir-pinggir jalan untuk instropeksi diri, apakah cahayanya masih terang, mulai redup, atau bahkan mati sama sekali, sehingga suasana menjadi gelap tak terperi. Sebenarnya kalau dikembalikan pada fungsi – mau jalan tol ataupun jalan gronjal – ialah menjadi tempat atau media berkendara bagi orang-orang menuju tempat yang diinginkan. 

Hanya saja, di mata orang-orang yang (pura-puranya) penyair, tentu fungsi jalan menjadi tergandakan; bukan lagi menjadi tempat atau media berkendara, tetapi juga memberi pemandangan tersendiri; entah penuh romantika atau duka nestapa.

Namun, apakah nantinya jalan gronjal tersebut akan kehilangan romantikanya seiring dengan diambilnya keputusan untuk segera memperbaikinya karena telah akan direncanakan (lagi) membangun proyek-proyek – dan mungkin gedung-gedung bertingkat – agar para pekerjanya merasa nyaman saat menuju tempat kerja? Padahal, di balik keuntungan dari semakin menjamurnya pembangunan gedung bertingkat dan/atau proyek, terdapat kondisi di mana alam semakin lama semakin kehilangan fungsinya. 

Betapa tidak, orang-orang dulu hidup berdampingan dengan alam, untuk menghidupi kehidupan mereka ya dari alam, dengan bercocok tanam. Anak-anak pun bermain layang-layang, sepak bola, sampai petak umpet di perkebunan atau sawah. Kambing, kerbau, sapi, dan puluhan hewan ternak lain, makan dari rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar alam. Akan tetapi, saat ini alam tak lagi berfungsi sebagai tempat bermain, atau untuk makan bagi puluhan hewan ternak, apalagi bercocok tanam.

Alam kini telah beralih fungsi menjadi sarana untuk membangun gedung-gedung serta proyek-proyek secara bergantian. Jika memang jalan gronjal mesti kehilangan romantikanya karena harus diperbaiki, tentu sangat menguntungkan bagi orang-orang yang (hanya) memfungsikan jalan raya sebagai media berkendara menuju tempat yang diinginkan.

Tetapi di lain pihak, bagi saya yang (pura-puranya) sebagai penyair ini, malah tiada lagi menyaksikan romantika jalan gronjal karena pasti tidak bisa melihat anak-anak saling gojekan di sekitar genangan, orang-orang berjalan pun juga tak lagi terlihat membasuh kaki sehabis kejeglong, dan serta lampu merkuri juga tak bisa lagi ber-instropeksi diri.

Saya boleh saja merasa dirugikan, akan tetapi, mengingat bangunan budaya tidak seperti bangunan fisik yang dibentuk agar tidak rubuh, melainkan bangunan budaya sebaiknya harus diandaikan akan terus menerus berubah, baik secara evolusioner maupun revolusioner. (Seno Gumira Ajidarma. 2008. 45:188).

Jadi, bukankah sah-sah saja jika kebudayaan diubah? (Entah diubah untuk kepetingan bersama atau untuk kepentingan kelompok tertentu). Tentu sah-sah saja! Namun, berubah seperti apa?! Nah! Apakah nantinya kebudayaan manusia yang telah menjadi bagian dari alam dan hidup rukun bersama alam, berubah menjadi budaya yang saling mengacuhkan? Tentu saja mengerikan andai membayangkan nantinya orang-orang saling tidak mengenal satu sama lain karena kesibukan mereka dalam bekerja di kantor atau pabrik-pabrik dengan intensitas pekerjaan yang super duper sibuk buk buk buk.

Sehingga jangankan untuk ngobrol di tempat kerja, saling bertegur sapa pun kadang tak bisa. Atau bisa jadi romantika jalan gronjal hanya tinggal kenangan, karena bukan tidak mungkin, jika semakin seringnya orang-orang melalui jalan mulus nan halus, pastilah tiada sempat berhenti untuk sekedar membasuh kaki lebih-lebih gojekan – kecuali jika ada yang tabrakan atau mayat korban kecelakaan terkapar di pinggir jalan. 

Itupun kalau sempat berhenti, kan bisa jadi toh hanya dilewati saja karena jam masuk kerja sudah mepfet, jadi harus buru-buru agar tidak terlambat karena kalau sampai terlambat bisa-bisa dipecat. Bukankah mencari pekerjaan di zaman sekarang begitu susah? Jadi, eman-eman toh kalau dipecat hanya gara-gara terlambat karena (sok) ngurusin kecelakaan, lebih-lebih ikut berduka cita pada mayat yang tergeletak, toh mereka bukan bagian dari sanak saudara kan? Sebuah teori mengatakan bahwa ideologi mempunyai kecenderungan untuk selalu mengalamiahkan kebudayaan, karena terdapatnya faktor kepentingan.

Nah, bisakah kini ideologi manusia membuat alam “terbudayakan” demi keselamatan dan kesejahteraan masa depan? (Seno Gumira Ajidarma. 2008. 39:164).

Selamat berpikir J Cepu, 27 April 2016

Sumber referensi : Sumber Referensi : Ajidarma, Seno Gumira. 2008. Kentut Kosmopolitan. Depok: Penerbit Koekoesan. 

*)Penulis adalah: Sujanarko. Penyendiri. 19 Januari. Pecinta komedi. Penggemar Setan Merah. Penikmat kopi, jazz dan sastra.

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .