Rumadi Sediakan Lahan Pengganti TKD Gayam, Dengan Potensi Pertaniannya

Suara Bojonegoro     Sabtu, April 30, 2016    

Reporter : Sasmito Anggoro

suarabojonegoro.com - Tentang pengganti Tanah Kas Desa (TKD) Gayam, SKK Migas telah merokomendasi calon lahan pengganti milik Rumadi berupa persawahan seluas 22,1 hektar. Dia mendapat nilai tertinggi yakni 33. Kemudian lahan milik Kamidin seluas 23,9 hektar dengan skor 32,5.

Disusul lahan milik Yoyok Hernowo seluas 21 hektar dengan skor 28 dan lahan milik Juari seluas 26 hektar dengan skor 26. Dikonfirmasi mengenai hal tersebut Imam Suhadak dari tim Rumadi, Sabtu (30/04/2016) mengatakan belum menerima rekomendasinya secara tertulis.

”Baru lisan di GDK kemarin (Kamis:Red), tapi kami tidak menolak keputusan SKK migas soal rekomendasi tertulis yang akan diputuskan,” katanya. Disinggung tentang penolakan rekomendasi yang telah diteken bersama dengan tiga pemilik lahan lainnya, dia membantahnya, dikarenakan yang diteken adalah surat yang meminta kepada SKK Migas untuk tidak membeli lahan secara di bagi bagi.

“Kami sebagai salah satu penawar, mengucapkan terima kasih kepada SKK Migas yang telah merekomendasikan kami dengan nilai tertinggi, sebagai apresiasi kami SKK Migas  telah bekerja dengan mengedepankan obyektifitas lapangan, adapun hasil rekomendasi SKK Migas,” terangnya.

Menurutnya, tanah yang ditawarkan timnya itu dalam satu hamparan.”Yang menjadi penilaian terpenting untuk lahan pertanian adalah ketersediaan  air. Terutama di musim kemarau, modal dasar yang dimiliki ada dua sendang yang airnya tidak pernah habis dimusim kemarau , ada tanah sembung yang pada jaman belanda dulu memang sudah dipakai embung dan dialiri sungai,” jelasnya.

Lanjutnya, sungai itu bernama singkil.  Dasar sungai itu tinggal didalamkan lagi, sehingga  sungai itu untuk kemudian dibangun cek dam. “Air tidak akan pernah habis disaat musim kemarau , semua masyarakat gayam tahu akan hal ini, tinggal bagaimana mengoptimalkannya,” terangnya. Penjelasan itu dimaksudkan, pengganti TKD seherusnya tanah yang dimanfaatkan seperti semula untuk lahan pertanian dengan dukungan sumber air yang melimpah.

Ketika ditanya bagaimana dengan kondisi tanah penawar yang lain, dia menjawab tidak tahu. Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya ( P4S) Bojonegoro ini menambahkan untuk lapangan sepak bola, penawaran yang diajukan adalah seluas 22,1. Luasan itu termasuk include di dalamnya.


“Dengan asumsi 19,8 hektar  untuk tanah pengganti pertanian, satu hektar untuk dua embung yang akan dibangun masing masing 5000 M2 dan 1,3 hektar untuk lapangan sepak bola, tinggal pilih, mau dekat akses jalan yang akan dibangunkan di sebelah polsek lama atau jalan dibelakang balai desa,” pungkasnya. (ang)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .