Wawancara Ganjil: Mbah Jenggot Dan Si Galak

Suara Bojonegoro     Sabtu, April 16, 2016    

Oleh : Didik Wahyudi

wawancara ganjil yang sedianya akan kami lakukanpada Minggu malam mendadak berubah, dipercepat tanpa sengaja. Wawancara akhirnya kami lakukan dua hari lebih cepat pada malam Jum’at setelah tim usai melakukan recording lagu perahu cinta untuk wisata rintisan sungai Klepek. Beberapa teman nampak sudah lelah setelah recording sejak sore hari hingga malam dan ada yang datang belakangan ikut bergabung mengobrol serta mengundang seorang teman baru untuk mengisi suara perempuan.
Saat mengobrol itulah tiba-tiba salah satu teman yang memiliki kelebihan supranatural tiba-tiba merasakan penglihatan ghaib tentang sosok dunia lain di sebuah desa di Kecamatan Trucuk. Sosok ini selalu datang pada waktu-waktu tertentu pada tubuh seorang perempuan, tubuh yang dianggap dikenal dengan baik serta familiar bagi sosok tersebut. Kami pun tanpa komando langsung bersepakat untuk berangkat ke desa tersebut dengan jarak tempuh sekira 30 menit dari tempat kami melakukan recording lagu. Kami terdiri dari lima orang dari Pokja Kebudayaan dan dua orang teman baru yang ikut gabung dalam wawacara ganjil dengan tokoh dari dunia ghaib.
Kami sebenarnya sudah pernah melakukan dialog dengan sosok tersebut juga tanpa sengaja, tanpa rencana. Kali ini wawancara kami lakukan tanpa rencana pula meski sebelumnya sudah kami rancang pada Minggu malam. Tokoh ghaib yang kami wawancara bernama Mbah Jenggot atau Mbah Brewok mengaku tak memiliki nama asli, dia dipanggil dengan nama tersebut karena memiliki jenggot putih yang panjang. Dia tinggal di Watu Gandul Desa Sambongrejo Kecamatan Gondang Bojonegoro. Dalam wawancara ada tokoh Nyi Lestari tapi belum bisa kami wawancarai sebab menurut informasi ghaib dia sedang bertapa untuk waktu yang tidak bisa dijelaskan. Nyi Lestari adalah penunggu Watu Gandul sebelum ditinggali Mbah Jenggot, dan pindah ke Gunung Lawang untuk membangun kerajaan sendiri yang lebih besar serta menjaga pusaka ghaib peninggalan jaman kerajaan Majapahit. Ayah dari Nyi Lestari di dunia ghaib adalah seorang empu pembuat senjata.
Wawancara kami lakukan secara rombongan, untuk mempermudah wawancara yang menggunakan bahasa Jawa kami alih bahasa Indonesia. Pokja Kebudayaan yang mewancarai kami singkat dengan huruf P sedangkan Mbah Jenggot yang diwawancarai kami singkat dengan huruf J.
P : Ada apa kok datang tiba-tiba ?”
J : Tidak ada apa-apa, hanya ingin bertemu saja dengan kamu dan mengucapkan terima kasih telah datang di Watu Gandul.
P : Ooo… pas datang dengan rombongan anggota DPR RI itu to mbah ?”
J : Iya. Terima Kasih.
P : Mbah… waktu itu ada angin kencang itu apa ?”
J : Angin kencang itu pasukannya Nyi Lestari dan juga ingin bertemu tapi hanya melihat sebentar di Watu Gandul lalu pergi.”
P : Nyi Lestari bilang apa ?”
J : Tidak apa-apa jika Watu Gandul dikembangkan menjadi tempat wisata, yang penting untuk mensejahterakan warga dan menjaga alam.”
P : Soal semburan lumpur gimana Mbah ?”
J : Yang membuat bukan saya tapi kersane Gusti Allah. Saya berharap Pemerintah segera menanggulangi sebab merusak sawah petani. Kasihan petani terkena imbasnya.”
P : Siapa yang menjaga di lokasi semburan lumpur mbah ?”
J : Mbah Kramat. Saya juga bertemu saat di Watu Gajah. Sebenarnya mbah Kramat juga ingin bertemu dengan kalian.”
P : Mbah gimana pendapatnya setelah Watu Gandul dibersihkan ?”
J : Saya sedang Watu Gandul dibersihkan, yang penting apa saja yang ada di Watu Gandul dibiarkan apa adanya. Jangan dirusak.”
P : Memangnya selain batu, disana ada apa saja Mbah ?”
J : Disana ada banyak pedang dan senjata peninggalan jaman Majapahit. Sebagian besar senjata sudah dipindah Nyi Lestari ke Gunung Lawang. Ayah Nyi Lestari seorang empu senjata.”
P : Kalau yang di Watu Gandul tinggal apa ?”
J : Ada tombak, keris, pedang dan jubah Onto Kusumo.”
P : Nama asli kamu siapa to mbah ?”
J : Nama asli saya ya Mbah Jenggot atau ada yang panggil Mbah Brewok.”
P : Kapan lahir ?”
J : Lahir saat Majapahit runtuh diserang Mataram.”
P : Sebelumnya tinggal dimana mbah ?”
J : Sebelumnya tinggal di Sendang di Desa Sambongrejo.”
P : Punya istri mbah ?”
J : Saya tidak punya istri.”
P : Ayah dan ibu siapa namanya ?”
J : Sejak lahir saya sudah tidak mengenal ayah dan ibu. Saya tidak tahu. Tapi dulu agama saya Hindu lalu masuk Islam.”
P : Siapa yang mengislamkan mbah ?”
J : Saya diislamkan oleh Sunan Kalijogo waktu bertemu di Gresik. Waktu itu ada banyak Sunan, ada sunan Bonang, Sunan Giri dan lainnya.”
P : Kenapa masuk Islam mbah ?”
J : Ingin tahu sejatinya ilmu itu bagaimana. Sejak muslim saya tirakat, wirit, shalat dan amalan lainnya. Untuk generasi muda saya berpesan tidak usah melakukan perbuatan buruk, bangsa jin saja melakukan tirakat sampai kiamat. Saya kalau malam suro keliling ke makam-makam sunan di pulau jawa. Ikut berzikir. Rasanya damai.”
P : Sosok Sunan Kalijogo seperti apa ?”
J : Wajahnya bersih, berkumis tipis, mengenakan blangkon, berbaju Jawa dan mengenakan sandal teklek. Kulitnya kuning bersih.”
P : Kalau tingginya mbah ?”
J : Tinggi 175 centimeter.”
P : Jadi murid Sunan Kalijogo berapa lama ?”
J : Ikut mengaji dengan Sunan kalijogo lama, membahas masalah agama.”
P : Lalu kenapa mbah suka datang kesini ?”
J : Soalnya orangnya alim, rumahnya adem. Saya tentram kalau mendengar suara mengaji disini.”
P : Lho memangnya disini tempat apa to mbah ?”
J : Disini tempat mengaji bangsa Jin, banyak yang datang kesini. Ada gundul-gundul dari Bejagung juga ikut mengaji. Yang memimpin mengaji disini namanya Mbah Karang, dia murid dari Sunan Bejagung.”
P : Mbah sudah dengar kabar soal ditemukannya bulu perindu di sekitar Watu Gandul ?”
J : Oooo…itu dari bulu burung merpati putih, burung merpati emas.”
P : Untuk apa mbah bulu perindu ?”
J : Berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Caranya direndam dengan air garam lalu dioleskan kulit yang sakit.”
P : Mbah… galih kelor dari semburan lumpur sudah keluarkah ?”
J : Galih kelor masih dipegang Nyi Lestari, belum keluar. Entah nanti akan diberikan ke siapa.”
Setelah merasa cukup dengan wawancara kami mempersilakan Mbah Jenggot untuk pergi. Dia pergi dengan terlebih dahulu menghaturkan salam dengan posisi mediator terlentang dan posisi kedua telapak tangan seperti sembah sungkem didepan dada. Lalu tubuh mediator mengejang dan muntah, setelah sadar ia seperti bangun dari tidur. Nampak lebih segar dan tak mengingat apa yang sedang terjadi.
Ada tamu lain datang ke rumah tersebut. Tamu tersebut dari Jakarta, dia seorang laki-laki yang masih muda dengan tubuh bongsor dan mengeluh selalu pusing di kepala. Laki-laki tersebut pernah ikut-ikutan bersama teman-temannya nglakoni ritual pada seorang dukun akibatnya mendapatkan gangguan dari dunia lain, gangguan dengan ancaman yang cukup menakutkan. Wawancara kali ini lebih singkat sebab diketahui sosok dunia lain di tubuh laki-laki itu jahat. Kami singkat sosok yang diwawancarai dengan sebutan X.
P : Mau apa kesini ?”
X : Mau matikan anak ini.”
P : Kamu mampu ?”
X : Mampu.”
P : Dimana dan agaimana caranya ?”
X : Saya pengaruhi fikirannya untuk bunuh diri dan dimana saja bisa.”
P : Untuk apa ?”
X : Tumbal. Saya akan memakan darah anak ini.”
P : Tumbal apa ?”
X : Pusaka.”
P : Kamu dikirim siapa ?”
X : Dukun dari Sukabumi.”
P : Untuk apa dikirim ?”
X : Untuk kekebalan.”
Karena Jin Jahat dan mengganggu syaraf otak, salah seorang teman kami segera bertindak untuk membebaskan dari pengaruh Jin jahat tersebut. Beberapa do’a dilantunkan tapi butuh waktu sebab Jin yang merasuk di tubuh laki-laki tersebut lumayan bandel. Tidak hanya satu jin tapi ada beberapa yang menempati di titik-titik tubuh. Laki-laki tersebut berkali-kali muntah dan agak lebih tenang setelah muntah. Sikapnya pun jauh berbeda saat masuk ke dalam rumah dengan tidak sopan, setelah usai diterapi laki-laki tersebut pamit dengan sopan dan menyalami semua orang di rumah tersebut.
Kami melanjutkan dengan mengobrol dan makan malam. Malam sudah penuh. Mata kami sudah tak kompromi. Kami pamit pulang dengan kenangan. Sebuah wawancara ganjil yang sebenarnya sedang kami rancang tanpa mendadak tanpa rencana, spontan. Salam. (**)

Penulis adalah anggota kelompok Kerja Budaya Bojonegoro

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .