Cepu Car Free Day

Suara Bojonegoro     Rabu, Mei 04, 2016    

Oleh: Sujarnako

"Lumpuhnya solidaritas sosial adalah sinyal tanda bahaya lebih besar" – Seno Gumira Ajidarma (SGA)

Minggu, 24 April 2016, merupakan pembukaan dari pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Kota Cepu, Jawa Tengah, yang rencananya akan dilakukan setiap hari Minggu dari pukul 05:30 WIB sampai 09:00 WIB, mengikuti kota-kota besar yang telah lebih dulu melaksanakan CFD. Dengan diadakannya CFD yang bertempat di kawasan taman Tuk Buntung, jelas bertujuan untuk mengurangi polusi udara dan juga memberi tempat bagi para komunitas-komunitas Cepu untuk berkumpul dan berkreasi. Pada awal pembukaan saja, sudah terlihat beberapa komunitas memadati acara tersebut, dari mulai komunitas sepeda, komunitas lari pagi, komunitas skateboard, dan komunitas senam aerobik.
Perlahan tapi pasti, Cepu mulai berbenah diri, mengikuti perkembangan zaman yang semakin berkembang. Terbukti dengan selain diresmikannya CFD, juga semakin ramainya para investor yang berdatangan untuk membangun hotel, rumah makan dari yang bertenda terpal sampai ala restoran, kedai kopi, kos-kosan, kontrakan, minimarket, dan supermarket, yang tentu saja bertujuan selain untuk melayani para masyarakat asli Cepu, juga memberi rumah baru bagi para pekerja dari luar kota yang bekerja di pertambangan Minyak dan Gas Blok Cepu.
Masalahnya, para anak jalanan yang entah berasal dari mana lengkap dengan tato dan anting serta cincin – kadang-kadang berpakaian compang-camping – juga terlihat semakin ramai saja. Mereka terlihat hampir di sepanjang perempatan jalan dekat traffic lamp, ketika lampu merah terlihat menyala, mereka akan mendatangi mobil-mobil yang tengah berhenti lengkap dengan gitar, nyanyian, serta tangan yang menengadah dari balik kaca mobil. Akan tetapi, para anak jalanan tersebut tidak tidur di hotel-hotel, atau sekedar ngekos dan/atau ngontrak, mereka tidur di sepanjang trotoar, di gorong-gorong, di sepanjang taman, di bawah patung-patung monumen, dan kadang-kadang di emperan toko.


Bahkan di acara CFD sekalipun tidak terlihat komunitas anak jalanan saling berkumpul dengan komunitas yang lain. Mereka mungkin saja masih terlalu asyik dengan dengkurannya. Maklumlah, bisa saja mereka kesulitan untuk tidur karena ketiadaan AC atau sekedar kipas angin yang seringkali digunakan orang-orang agar tidak dicokoti nyamuk. Selain itu, mereka mungkin saja juga kedinginan karena hanya menggunakan sarung atau celana sebagai penghangat, bukan selimut tebal apalagi suami atau istri.
Meskipun begitu, keberadaan CFD jelas perlu disambut dengan antusias, karena selain mengurangi dampak polusi, juga bisa menjadi wadah bagi para komunitas untuk saling bersilaturahmi sekaligus mengarahkan mereka pada tindakan positif, ketimbang mabuk-mabukan atau balap liar apalagi sampai memakai narkoba dan kawan-kawannya.

Namun, tentu saja mengherankan jika melihat kejomplangan yang terjadi antara orang-orang yang tergabung dalam komunitas dan para anak jalanan yang sama-sama tinggal dalam satu kota, tetapi berbeda dari segi kehidupan. Juga para pebisnis yang memanfaatkan para pekerja yang berbondong-bondong datang ke kota Cepu, tanpa melihat ruang hijau yang semakin berkurang karena tergusur oleh bangunan-bangunan yang mereka dirikan. Belum lagi ketiadaan komunitas membaca di tengah gembar-gembor pemerintah bahwa negara kita sedang darurat membaca, di tengah kemunculan komunitas-komunitas lain dari waktu ke waktu. (Atau mungkin saja komunitas baca tersebut ada, akan tetapi saya belum tahu saja? Mungkin saja J). Jangankan untuk berkumpul di acara CFD untuk saling bersilaturahmi dan bertukar informasi tentang buku-buku yang sudah dibaca dan yang paling disuka, toko buku yang membuka stand di supermarket saja sepi peminat. Mungkin saja, ketiadaan komuniatas baca inilah yang membuat para investor enggan membuka perpustakaan umum di Cepu. Karena dari segi bisnis jelas tidak menguntungkan sama sekali – lha wong sepi peminat. (Atau – sekali lagi – mungkin, bisa jadi saya yang tidak tahu jika perpustakaan umum tersebut sedang direncanakan untuk dibangun? Semoga saja J).

Saya berani berkata demikian karena seringnya saya nongkrong di toko buku tersebut hanya sekedar untuk memilah dan memilih buku yang berjajar di rak dan kemudian membacanya di tempat. Sampai-sampai saya mengenal hampir semua penjaga toko buku tersebut. Bahkan sesekali mereka tak segan untuk berkelakar, “Masnya lagi, Masnya lagi. Tapi nggak pernah beli.”

Namun tentu saja bukan kelakar dari para penjaga toko buku tersebut yang membuat saya mengelus dada sambil geleng-geleng kepala, melainkan ketika saya melihat dan mendengar kumpulan orang yang tergabung dalam suatu komunitas lengkap dengan baju yang sama agar indentitas komunitasnya terlihat jelas, tiada pernah berminat dengan jajaran buku yang berjajar-jajar di sepanjang rak buku. Betapa tidak, seringkali saya mendengar mereka saling berbicara, “Untuk apa beli buku? Buang-buang duit saja.” Dan lalu bersama-sama mereka keluar dari toko buku – kalau kebetulan sedang berada di dalam. Tapi kalau masih berada di luar, ya dilewati begitu saja. Lalu bersama-sama mereka membuang duitnya entah untuk bermain, entah untuk belanja, entah untuk makan dan minum, entah untuk beli make up, entah untuk beli baju, entah untuk beli sepatu, atau entah untuk persiapan ngapel di malam minggu, terserahlah ya asal tidak untuk beli buku.
Nah, apakah tujuan dari terbentuknya komunitas-komunitas tersebut hanya untuk menjadikan para anggotanya sebagai; manusia-manusia pembebek dengan mentalitas bebek? Kemana-mana harus bareng dan membebek kwak-kwik-kwek-kwak-kwik-kwek. (Seno Gumira Ajidarma. 2008. 109)
Mereka yang terbiasa dengan mentalitas bebek; kemana dan di mana saja asal terus bersama, bisa saja memudarkan sikap solidaritas. Jangankan untuk memerhatikan anak jalanan yang sedang berada di sepanjang jalan dan kadang-kadang kalau tidur tanpa alas apalagi kasur, memerhatikan buku-buku yang menjadi gudangnya ilmu dan serta orang-orang yang berada di sekitarnya saja terkadang mereka tidak sempat (atau tidak minta?). Mereka sudah terlalu asyik ngobrol dan gojekan bersama teman-teman sekomunitasnya sendiri.

Pertanyaan saya selanjutnya: apakah terbentuknya komunitas-komunitas tersebut selain berdampak positif juga memunculkan gengsi, prestise, dan harga diri? Sehingga memunculkan dua kebudayaan yang berbeda – dan sekali lagi terkesan njomplang. Para anak jalanan dengan budaya tato, anting, cincin, dan pakaian compang-camping, sementara para komunitas dengan budaya berkumpul dan berbebek-bebek ria tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya, yang penting peduli dengan teman sekomunitasnya.


Jika memang seperti itu adanya, maka kita akan kembali pada awal Eropa abad XX dalam cara berpikir yang disebut sebagai Kulturkritik. Banyak nama pemikir terkenal dari Thomas Mann sampai Sigmund Freud, terlibat dalam pemikiran bahwa nilai manusia terletak dalam nilai budayanya, dan nilai budaya itu bagaikan suatu piramid, yang di puncaknya sangat – bahkan paling – berbudaya, yang di dasarnya tentulah agak kurang berbudaya. (Seno Gumira Ajidarma. 2008. 2)

Mungkin saja budaya tato, anting, dan cincin, hingga pakaian compang-camping, terlihat tidak berbudaya – dari sudut pandang mereka – dibanding dengan sepeda, skateboard, seragam dan sepatu senam, sampai perlengkapan lari. Yang lebih mengerikan apabila membayangkan jika budaya membaca dipandang sama rendahnya oleh para komunitas yang (seolah-olah) berada di puncak piramid – atau bahkan bisa lebih rendah dari budaya anak jalanan, sehingga terkesan sama-sama tidak dilirik lebih-lebih didekati.
Pertanyaannya: kok bisa? Proses apa yang membuat manusia yang tingkat budayanya (seolah-olah) berada ‘di puncak piramid' kehilangan solidaritas pada budaya (yang terlihat) ada di bawahnya – atau bahkan paling bawah? Mungkinkah komunitas yang bertujuan untuk saling membantu satu sama lain sekaligus mengajarkan sikap saling mengenal agar tumbuh kesadaran untuk saling bersolidaritas telah terfungsikan sebaliknya?
Nah! Selamat berpikir kembali J
Cepu, 03 Mei 2016

Sumber referensi :
Ajidarma, Seno Gumira. 2008. Kentut Kosmopolitan. Depok: Penerbit Koekoesan.

*) penulis adalah: Penyendiri. 19 Januari. Pecinta komedi. Penggemar Setan Merah. Penikmat kopi, jazz dan sastra.

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .