Menjadi Orang Tua Berdaya

Suara Bojonegoro     Minggu, Mei 08, 2016    

Oleh : Mauliah Mulkin

Beberapa malam lalu,  berkunjung ke toko, seorang ibu dan dua orang anaknya. Si kakak, perempuan usia sekitar 12 tahun. Si adik, laki-laki kira-kira berusia 5 tahun. Si kakak mencari buku juz amma. Si adik masih harus mencari-cari apa yang ia inginkan hingga ke pojok buku khusus anak bersama si ibu. Setelah pilah-pilih buku, berjalanlah mereka bertiga menuju ke satu-satunya meja di area toko. Meja kasir, meja kerja, sekaligus meja tempat memajang beberapa sampel buku.

Mata saya sementara menatap monitor karena sedang menulis sesuatu saat itu. Sambil tentu saja telinga bebas mendengar apa saja perbincangan yang terjadi di antara mereka. Suara obrolan mereka sayup-sayup, karena meja dan rak buku anak agak berjauhan letaknya. Tapi semakin berjalan mendekat ke meja, makin jelaslah omongan si adik.
“Mama bodo. Mama bodo.” (dialek daerah tanpa huruf h)
“Ih...ih...kenapa ini.” Si ibu balik menjawab. Sambil membayar harga buku. Dia nampak bingung mesti berkata apa di depan orang lain saat si anak berperilaku seperti itu.
Sambil terus mengulang kata-kata di atas dan beberapa lagi tambahan kata lainnya, mereka bertiga lalu keluar berjalan ke halaman, ke tempat si ibu memarkir motornya. Saya tersenyum kecut campur meringis melihat adegan yang baru saja terjadi.
                                    ******
Perilaku dan obrolan serupa di atas, yang terjadi di depan mata saya bukanlah yang pertama kali. Karena seperti yang pernah saya tulis juga beberapa waktu lalu, tentang seorang anak laki-laki SD berbadan bongsor yang dengan sikap wajarnya membentak ibunya di depan umum, di atas sebuah angkot. Saya hanya bisa menatap mereka dengan tatapan seribu tanda tanya.
Dalam hati saya membatin, “Jika sekecil ini saja sudah tidak hormat bahkan seenaknya membentak ibunya, bagaimana nanti jika mereka sudah lebih besar. Yang mungkin sudah punya kuasa atas penghasilan sendiri. Seumur ini saja, di mana segalanya masih orangtua yang menanggung hidupnya, ia sudah sebegitu berani melawan. Saya benar-benar tak bisa berhenti membayangkan masa depan ibu dan si anak kelak.”
Memang benar zaman dulu dan zaman sekarang sudah jauh berbeda. Bukan hanya antara zaman satu dengan zaman berikutnya. Bahkan antara tahun ini dengan tahun depannya sudah pasti banyak terjadi perubahan. Karena yang pasti di dunia ini hanyalah perubahan itu sendiri. Namun saya sangat meyakini, seberapa pun besarnya suatu perubahan, moralitas dan etika mestilah tetap dijunjung tinggi.
Jika ingat beberapa puluh tahun silam, jaman saya masih kecil. Oleh orangtua, kami bertujuh diajar bertata krama yang sopan, menghargai orang yang lebih tua terlebih orangtua sendiri. Jika berjalan bersama mereka, hendaknya anak berada di belakang orangtua. Jika melintas di depan orangtua atau orang dewasa yang sedang duduk di kursi, kami harus sedikit membungkukkan badan sambil mengucap 'permisi'. Menjawab pertanyaan orangtua tidak boleh sambil jalan apalagi dengan posisi membelakangi mereka. Suara anak tidak boleh melebihi besarnya suara orangtua. Masih banyak lagi aturan bertata krama dan etika yang orangtua ajarkan dan biasakan pada saat itu. Sampai di usia kami punya anak pun etiket itu masih kami terapkan kepada anak-anak kami, juga pada anak-anak santri yang saya ajar setiap hari.
Lalu bagaimana dengan orangtua masa kini? Masihkah tata krama menjadi agenda penting yang diajarkan sehari-hari di rumah?
Fenomena yang terjadi saat ini, orangtua nyaris tak punya cukup waktu untuk mengajari anak-anaknya aturan bertata krama yang seharusnya. Inginnya sih anak-anak menjadi sosok “anak baik”, “anak sopan” seperti yang umumnya diinginkan para orangtua. Namun apakah kita sudah mencontohkannya dalam perilaku sehari-hari? Lalu siapa yang akan mengajari mereka kalau bukan orangtuanya sendiri? Mungkin lingkungan, atau sekolah, atau kelompok teman-teman mereka di luar sana? Kita cenderung menjadi orangtua yang serba instan. Ingin anak bisa ini-itu, tapi usahanya minim. Mungkin saja kita ingin menyampaikan banyak hal kepada mereka, tapi kita khawatir nanti didebat. Atau dibantah oleh anak sendiri. Kan orangtua bisa jatuh harga dirinya? Begitulah kira-kira pendapat sebagian orangtua yang  pernah saya ajak diskusi.
Sementara itu, anak-anak boleh jadi punya perasaan gengsi jika harus bersopan-sopan ria di era sekarang. Membalas pertanyaan orangtua sambil terus jalan, adalah hal biasa. Berdebat dengan suara lebih tinggi, juga sudah biasa. Kenapa? Karena teman-temannya pun umumnya seperti itu. Malu dong kalau harus beda. 
Atau soal membantu pekerjaan di rumah. Contoh kecil, anak kedua saya (perempuan) waktu masih SMU ditanya oleh teman kelasnya,
“Kamu kalau di rumah biasa kerja apa?”, dia jawab, “Cuci piring, menyapu, mengepel, memasak, dll”. Lalu temannya bilang, “Ih, saya tidak pernah cuci piring, atau memasak. Soalnya ibu melarangku ke dapur. Apalagi memasak.”
“Whatttt????”, saya berteriak dalam hati.
                                                ******
Jika ingin berdaya, orangtua harus punya strategi, punya tujuan, dan punya kepercayaan diri. Agar bisa percaya diri, orangtua harus terus belajar, berlatih, dan mengasah kemampuannya dari waktu ke waktu, dari masalah satu ke masalah berikutnya. Manakala kita sebagai orangtua yakin dengan pengajaran-pengajaran yang disampaikan, yang bukan hanya lewat mulut, tapi juga perilaku, anak-anak pun akan menerimanya bahkan merasakannya sebagai sesuatu yang penting, yang berharga, dan sangat layak untuk didengarkan dan diterima.

Sumber : kompasiana
Foto: thayiba.com

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .