MEWASPADAI STATEMENT SAUT SITUMORANG

Suara Bojonegoro     Senin, Mei 23, 2016    

Oleh : Habib Umar Al-Attos

Aksi  demonstrasi  menuntut Saut Situmorang meminta maaf sekaligus dipecat dari KPK terjadi di berbagai daerah oleh kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ini sebagai buntut atas pernyataan Saut di sebuah acara TV pada tanggal 5 Mei 2016 yang dirasa sangat tendensius mencemarkan dan merendahkan marwah HMI dan alumninya, sebagaimana dinyatakan Saut Situmorang.  “Saya selalu bilang kalo di HMI minimal dia ikut LK 1…iya kan? Lulus itu…yang anak-anak Mahasiswa itu, pinter!!! Tapi begitu dia menjabat jadi jahat, curang, greedy (serakah)…,” begitulah kalimat Saut yang sangat tendensius memicu gelombang protes, demo bahkan pelaporan secara hukum oleh kader hijau hitam di berbagai wilayah di Indonesia.

Tidak mau ketinggalan, Majelis Daerah KAHMI Bojonegoro termasuk yang turut melaporkan Saut ke polres setempat dan sehari kemudian HMI Bojonegoro melakukan aksi demo untuk mencopot Saut dari KPK. Penyebutan HMI dalam konteks pembicaraan Saut Situmorang memang telah merugikan nama baik HMI lantaran melakukan generalisasi bahwa kader HMI yang sudah mengikuti Latihan Kader (LK I) melakukan korupsi dan serakah pada saat memegang tampuk jabatan/kekuasaan.

Meluruskan Pernyataan Saut
Sebagian orang awam memandang biasa saja dan menganggap lumrah terhadap apa yang dinyatakan Saut Situmorang yang telah melakukan generalisasi bahwa kader HMI yang sudah mengikuti LK I pinter dan cerdas, namun pada saat menjabat mereka menjadi jahat, korup dan serakah.

Namun apabila kita menggunakan nalar dan nurani yang cerdas, untuk menganalisis pernyatan Saut Sitomurang secara sederhana saja, maka sebenarnya ada beberapa point yang dapat dijadikan alasan bahwa pernyataan Saut adalah bersifat tendensius dan perlu diluruskan untuk kemaslahatan ummat dan bangsa.

Pertama, tidak lama setelah HMI dan KAHMI bereaksi, Saut akhirnya meminta maaf dan mengaku khilaf dalam berucap, ucapannya tersebut dia sebut di bawah alam sadarnya. Artinya jika memang dia konsisten bahwa yang  dia ucapkan adalah benar, maka  Saut sebenarnya tidak perlu meminta maaf. Komisioner KPK dipilih karena telah teruji kapasitas dan integritasnya, pernyataan Saut tentang HMI adalah kalimat yang tidak etis dan ahistori dari seorang pejabat KPK yang selama ini dikagumi marwahnya, sementara permintaan maaf Saut kepada HMI adalah pertanda dia adalah orang yang ceroboh.

Pernyataan “selalu saya bilang” juga pengakuaan “dibawah alam sadar” yang dilontarkan Saut menjadi catatan penting untuk menarik kesimpulan apakah sebenarnya motif pernyataan secara keseluruhannya.

Kedua, jika Saut konsisten bahwa kalimat yang dia maksud adalah kalimat yang memang bersifat general : “yang pernah LK 1 adalah jahat, curang, serakah” maka dia sama saja menuduh dan menampar wajah pemerintah saat ini. Mungkin Saut lupa atau pura-pura tidak tahu, Jusuf Kalla yang merupakan Wakil Presiden RI dan kurang lebih sembilan Menteri yang dipilih Jokowi  saat ini adalah para aktivis yang dulunya jebolan LK 1 HMI.

Logika Saut harusnya dibalik atau setidaknya proporsional dalam menilai hasil pengkaderan di HMI, negeri ini harusnya berterimakasih juga pada HMI  yang telah menyumbang kader-kader terbaiknya misalnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan dan juga Menteri Riset Dan Pendidikan Tinggi M. Natsir, di tangan keduanya  Presiden Jokowi  telah mempercayakan konsep Pendidikan untuk anak-anak negeri ini menuju generasi unggul kedepan.

Sejarah besar bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran HMI. Sejak kelahirannya pada tanggal 5 Februari 1947, HMI sudah menyatakan sikap untuk memegang teguh komitmen keumatan dan kebangsaan dengan segala resiko yang harus dihadapinya secara mandiri daan profesional. HMI selalu hadir pada setiap perjalanan bangsa Indonesia mulai dari mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melawan PKI hingga tumbuhnya orde baru, serta lahirnya reformasi.

Kontribusi HMI terhadap bangsa Indonesia tidak hanya dengan gerakan-gerakan ekstra parlementer, namun juga memberikan pengabdian terhadap pembangunan bangsa Indonesia dengan mendistribusikan kader-kader terbaiknya untuk memberikan pengabdian pada seluruh bidang pengabdian baik di sosial, akademisi, birokrat, teknokrat, praktisi maupun politisi.

Ketiga, jika ditinjau dari aspek kualitas sekaligus kuantitas makna “korupsi” sebagai baromater, mengapa Saut tidak merujuk pada siapa saja para mafia di negeri ini yang telah menggarong uang rakyat Triliuan rupiah seperti kasus BLBI, Century dan lainya termasuk skandal reklamasi saat ini yang tengah diusut yang nilai korupsinya sungguh luar biasa? Siapa mafia dan koruptor pada skandal besar tersebut? Beranikah Saut menggeneralisir apa latar belakang parpol, etnis ataupun agamanya?

Latihan Kader 1 HMI yang kini menjadi terkenal akibat ucapan tendensius Saut adalah sebuah jenjang pelatihan formal dasar apabila seseorang ingin lulus untuk diterima menjadi anggota dan kader HMI. Di pelatihan tersebut peserta akan digembleng untuk menjadi manusia/insan yang paripurna yakni manusia yang senantiasa menjalani kehidupannya dengan iman, ilmu dan amal. Nilai Identitas Kader (NIK) atau Nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP)  merupakan salah satu materi yang di ajarkan dalam LK 1,  ia merupakan pandangan sekaligus panduan gerak idelogi  kader HMI yang bersumber dari Alqur’an dan Hadits.

Dalam konteks melawan korupsi, sudah pasti menjadi kewajiban seorang kader HMI dan merupakan bagian Nilai Dasar Perjuangan Kader dalam menerjemahkan apa itu kemerdekaan (independensi), kebenaran dan keadilan baik dalam kontek individu ataupun social masyarakat. Siapapun yang korupsi harus dilawan oleh kader HMI dan yang benar harus dibela, oleh sebab itu jangan terlalu heran apabila  kader-kader HMI akan dipertemukan pada peristiwa-peristiwa tertentu dalam posisi yang searah namun kadang juga saling berhadapan dengan situasi dan kondisi yang kurang mengenakkan. Misalnya Didik Farhan SH yang seorang jaksa pada sidang PK Pollycarpus dulunya cukup mengenal Alm Munir sesama aktivis HMI sehingga dipertemukan dalam ikatan ideologis menuntut keadilan, atau juga tentang cerita Anas Urbaningrum yang menjadi tersangka harus berhadapan satu meja dengan salah satu penyidik KPK bernama Kompol Bambang Sukoco yang dulunya merupakan alumni HMI Solo. Demikian juga perlu diingat bahwa sewaktu menjadi tersangka ketiga komisioner KPK Busyro Muqoddas, Bambang Wijayanto dan Abraham Samad ketiganya merupakan alumni dan aktifis HMI.

Oleh sebab itu penting sekali untuk membedakan institusi dan oknum. Jika misalnya ada kader parpol tertentu terlibat kriminal, tentu bukan karena parpolnya mengajarkan kejahatan. Termasuk jika ada orang yang beragama atau etnis tertentu dan terlibat korupsi tentu bukan karena agama tersebut mengajarkan untuk korupsi.

Tidak ada yang bisa menghentikannya langkah para aktivis HMI dalam bertindak sekalipun yang dihadapi adalah seniornya sendiri. Doktrin independensi etis dan organisatoris masih tertanam menghujam ke dalam seluruh kader, sehingga membuat HMI hingga saat ini masih survive dan makin tumbuh pesat di negeri ini. Ada ratusan ribu kader aktif maupun yang sudah alumni telah dicetak semenjak HMI lahir dari rahim bangsa ini.

Tapi inilah konsekwensi dari era globalisasi atau bahkan era digital, melihat wajah HMI yang heterogen dalam banyak hal, maka publik akan  tetap saja familiar dengan nama-nama seperti Anas Urbaningrum, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla,  Anies Baswedan atau Mahfud MD. Sebab merekalah yang dekat dengan sorotan kamera dan media dengan sudut pandangnya masing-masing.
Dengan demikian tidak objektif juga melihat wajah HMI hanya dari tokoh-tokoh yang tersorot media, sebab masih ada ratusan ribu kader yang merupakan jebolan LK-1 HMI dengan berbagai profesinya tentunya tak tersorot oleh media. Ada yang menjadi pedagang, guru, dokter, wartawan, petani, buruh dan lain-lainnya. Selepas dari pengkaderan HMI, mereka boleh saja terpisah-pisah oleh aktivitas profesi dan geografi, namun doktrin hijau hitam akan tetap menyatukan mereka, yakni doktrin “Yakin Usaha Sampai” untuk terus berproses menjadi insan paripurna yang selalu menjaga komitmen keIslaman dan keIndonesiaan. Kader HMI sebagai Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di Ridlo Allah, SWT.
Saya Alumni LK – 1 HMI, tidak korupsi dan bertekad melawan korupsi demi terwujudnya masyarakat adil makmur. Go A Head HMI.


)* Penulis Adalah Alumni LK-1 HMI Cabang Bojonegoro, sebagai Pendiri dan Pengelola Yayasan Insan Cita.

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .