Peran Media dalam Gerakan Literasi Sekolah

Suara Bojonegoro     Senin, Mei 09, 2016    

Oleh : Yons Achmad

Media yang saya maksud di sini bukan media umum. Tapi, media yang memang diterbitkan oleh sekolah. Entah itu majalah sekolah dalam bentuk cetak, maupun online. Saya percaya, melalui adanya media sekolah, gerakan literasi sekolah yang telah dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) semakin menemukan bentuk nyatanya. Artinya, media sekolah bisa menjadi instrumen untuk menumbuhkan literasi dikalangan siswa bahkan guru dan masyarakat sekitar. Itu sebabnya, saya menaruh perhatian dan punya harapan setiap sekolah nantinya punya media.

Setidaknya, ada 5 peran media dalam Gerakan Literasi Sekolah. Diantaranya:

Pertama. Media Komunikasi. Media sekolah bisa menjadi media komunikasi antara guru, siswa, orang tua. Dengan adanya media komunikasi ini, diharapkan bisa menjembatani keinginan masing-masing pihak. Secara umum, bagaimana menjembatani usaha-usaha demi perbaikan dan kemajuan sekolah. Secara khusus bisa menjadi media komunikasi dalam memajukan gerakan literasi sekolah. Tanpa media, masing-masing barangkali punya ide dan kepentingan, akan tetapi masing-masing hanya menyimpannya dalam diri sendiri. Padahal kita tahu, media adalah kunci dalam membangun komunikasi.

Kedua. Ajang Penyaluran Bakat Menulis. Media sekolah bisa menjadi ajang penyaluran bakat menulis. Bagi mereka yang sudah dari awal berbakat menulis, maupun mereka yang kurang punya bakat menulis tetapi ingin belajar dan bisa menulis. Dengan adanya media sekolah, siswa, bahkan guru bisa memublikasikan hasil karyanya dan minimal akan dibaca oleh seluruh warga sekolah. Dalam proses pengelolaan media sekolah, biasanya juga terdapat tim yang mengelolanya, misalnya dari tim ekskul jurnalistik. Dalam ekskul ini biasanya juga ada pelatihan-pelatihan menulis, sehingga secara otomatis bisa mendukung program gerakan literasi sekolah.

Ketiga. Ruang Pengetahuan Baru. Ruang ini berupa rubrik-rubrik yang ada dalam media sekolah. Terutama rubrik resensi buku. Dengan adanya ruang ini, siswa bisa mendapatkan telaah buku, informasi buku, ulasan buku-buku menarik dan terbaru dari berbagai penerbit. Dengan demikian, muncul pengetahuan baru dari siswa. Begitu juga ruang-ruang karya fiksi seperti cerpen dan puisi. Selain bisa menambah pengetahuan. Juga bisa sekaligus mengasah dan mengolah rasa kemanusiaan dan kepekaan lewat sastra yang ada dalam media sekolah tersebut.

Keempat. Alat Publikasi Sekolah. Dengan adanya media sekolah, masyarakat sekitar bisa mengetahui perkembangan sekolah tersebut. Apalagi, misalnya perkembangan di Jakarta, sekolah unggulan atau sekolah yang dinilai bagus biasanya juga punya media sekolah, khususnya majalah cetak. Atau minimal majalah online. Semua itu tentu saja sebagai usaha memublikasikan citra positif sekolah. Termasuk juga bagaimana kegiatan-kegiatan yang terkait dengan literasi sekolah juga masuk di dalamnya.

Kelima. Mempererat Kesepahaman Bersama (Mutual Understanding). Inti dari komunikasi adalah membangun kesepahaman bersama. Dan salah satu usahanya bisa dilakukan melalui media. Dengan adanya media, orang tua, siswa, guru bisa menjalin kesepahaman bersama sehingga bisa mempererat ketiganya, ikut serta dalam meningkatkan tumbuhnya gerakan literasi sekolah. Begitu juga, bisa membangun kesepahaman bersama dengan masyarakat sekitar. Hasilnya, ada sinergisasi yang baik demi tumbuhnya budaya literasi sekolah.

Setidaknya, itulah beberapa peran penting media dalam menumbuhkan gerakan literasi sekolah. Jadi, tak ada alasan bagi sekolah untuk tak membuat dan mengelola media sekolah (baik cetak maupun online). Karena disadari atau tidak, media sekolah bisa menjadi jembatan untuk tumbuh dan berkembangnya gerakan literasi sekolah.


Sumber : http://kompasiana.com/yons/peran-media-dalam-gerakan-literasi-sekolah_572f2e7a8023bd6a07d7b111
Foto: lintasgaya.com

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .