Perjuangan dari Kaum Terbawahkan

Suara Bojonegoro     Jumat, Mei 13, 2016    

Oleh : Sujarnako

Ideologi bukanlah konsep, melainkan praktik kehidupan sehari-hari itu sendiri. – Althusser –

Di saat saya melintasi jalan aspal baru menuju rumah saudara saya yang terletak di desa Waringolo, Kecamatan Merakurak, Tuban, ada dua hal yang saya kira menarik untuk kita perbincangkan sembari menikmati segelas kopi. Pertama adalah keber-ada-an jalan aspal tersebut, di mana jalan itu benar-benar baru ‘dibangun' – kurang lebih – lima tahun yang lalu (sekarang terdapat banyak geronjalan ditambah bebatuan, dan kerikil saling berserakan).

Sebelumnya, hanya ada jalan setapak beralaskan tanah – tanpa aspal – yang hanya bisa dilewati sepeda onthel atau sepedamotor saja. Kedua, keberadaan jalan aspal tersebut membuat orang-orang yang tinggal di sekitar desa Waringolo bukan hanya menggunakan sepedamotor sebagai sarana transportasi dari desa menuju kota, melainkan juga sebagai sarana untuk mengangkut hasil panen; dari padi, jagung, cabai, hingga kacang tanah. Bahkan hasil ngarit pun tak jadi masalah!

Kehadiran jalan baru tersebut jelas menguntungkan bagi masyarakat sekitar, bukan hanya untuk memudahkan akses menuju kota dan/atau sebagai wujud dari pemerintah untuk mengembangkan daerah. Akan tetapi juga untuk melahirkan ideologinya sendiri; bahwa jumlah penumpang sepedamotor yang hanya berjumlah dua orang dewasa, boleh ditambah dengan satu atau dua sak hasil panen. Di mana satu sak ditaruh di belakang stir, sementara satu sak yang lain ditaruh di jok penumpang, dan seorang penumpang dewasa lainnya duduk di atas sak tersebut. Waouuuw...

Pemandangan yang saya lihat di sepanjang jalan menuju rumah saudara, membuat saya teringat akan tiga hepotesa mengenai ideologi; apakah ideologi tersebut mengikuti wacana dominan, atau bernegosiasi dengan wacana dominan, atau malah beroposisi sama sekali.

Lalu, bagaimanakah bentuk perjuangan ideologi untuk membangun desa di wilayah Waringolo, Tuban? Saya kira bentuk paling klise yang seringkali kita dengar tentang masyarakat yang tinggal di desa adalah kekayaan seseorang dapat dilihat dari banyaknya hewan ternak yang dimiliki. Luasnya sawah atau kebun yang ditanami. Hingga mewahnya pesta pernikahan yang dilangsungkan setiap musim kawin bersemi.

Resiko adanya mitos tersebut kemudian membentuk sebuah piramida kehidupan; bahwa tidak semuanya disebut kaya dan bisa menempati posisi tertinggi. Ada yang setengah kaya, ada yang sepertiga kaya, seperdelapan kaya, dan tingkat paling dasar dapat dipastikan mereka yang terkorbankan demi kekayaan mereka yang berada di puncak tertinggi.

Ini berarti mereka yang berada di tingkat paling dasar adalah golongan terbawahkan; tiada lagi pekerjaan lain selain ngopeni hewan ternak dari kelompok yang berada di atasnya, ngarit untuk makan hewan ternak yang diopeninya, hingga mbantu ngusungi hasil panen dengan memanggul sak di bahu, bukan di atas sepeda motor.

Para korban inilah yang kemudian melakukan negosiasi terhadap wacana kelompok dominan yang disebut ‘kaya'; bahwa tidak semua yang kaya mesti memiliki hewan ternak yang banyak, hasil panen yang melimpah, hingga pesta pernikahan yang wah.

Hasil negosiasi tersebut memunculkan wacana baru untuk kelompok yang terbawahkan, dan kemudian mereka melawan dengan cara keluar dari desa menuju Malaysia – menjadi Tenaga Kerja Indonesia. Bahkan saudara saya – anak dari Bu Lek – masih bekerja di sana sampai sekarang dan hasil dari kerja kerasnya, telah mampu mengangkat keluarga Bu Lek setingkat dari kelompok terbawahkan. Begitulah ideologi yang – menurut Seno Gumira Ajidarma (SGA) – memberikan kepada siapapun suatu kesahihan untuk hidup – bukan sekedar hidup dalam kepasrahan.

Kesuksesan saudara saya dalam perantauan, hingga mampu mengangkat keluarga Bu Lek dari kaum terbawahkan, ditambah dengan kemampuan untuk merenovasi rumah dan juga membeli sepedamotor bahkan mobil pick-up untuk berbisnis, membuat mitos dominan tentang mereka yang kaya tergantikan dengan mitos yang baru. Bahwa kaya bukan hanya dilihat dari hewan ternak yang dimiliki. Luasnya sawah atau kebun yang ditanami. Hingga mewahnya pesta pernikahan yang dilangsungkan setiap musim kawin bersemi. Akan tetapi juga dilihat – atau mungkin ditambah – oleh mewahnya rumah yang ditempati, hingga bahkan jumlah dan/atau jenis kendaraan yang dimiliki.

Tidak hanya itu, kesuksesan saudara saya di perantauan, memancing anak-anak muda yang tinggal di sana untuk merantau pula. Tak peduli di Malaysia atau sekedar di Surabaya hingga Jakarta, yang penting mereka keluar dari desa untuk mencari pengalaman dan tentu saja; mengangkat derajat keluarga. Bukan terus-terusan di sana untuk bertani, ngopeni sapi, sambil menunggu musim kawin bersemi.

Dengan demikian – kita kembali bertemu dengan SGA – bahwa segala sesuatu berlangsung dari sudut pandang tertentu, setiap hari terproduksi mitos-mitos baru, tempat mitos sebelumnya tersingkir oleh mitos sesudahnya. Lebih lanjut, SGA pun kembali berpendapat bahwa; sampai di sini kita melihat bagaimana kebudayaan bekerja, bahwa ia bukan soal “warisan” dan “pelestarian” yang harus berarti mapan dan tidak boleh diubah-ubah lagi. Kebudayaan merupakan proses perubahan terus-menerus dalam negosiasi dan perlawanan kelompok terbawahkan terhadap wacana kelompok dominan.

Sehingga, apabila Anda memiliki kesempatan untuk berkunjung ke desa yang menjadi tempat kelahiran Ibu saya ini, maka Anda akan melihat kemajuan di mana Anda tidak hanya melihat puluhan hewan ternak di sepanjang sawah, melainkan juga deretan sepedamotor berbagai jenis, jumlah, dan type terpampang di sepanjang rumah yang sesekali digunakan untuk mengangkut hasil panen yang wah dan/atau hasil ngarit pun tak masalah.

Dan nantinya, Anda juga bukan hanya melihat puluhan sak hasil panen yang tersimpan di dalam rumah, melainkan juga televisi berwarna dengan berbagai ukuran, yang dulu sangat susah ditemukan.

Selain itu, ketika malam menjelang, bukan hanya suara jangkrik mengerik yang terdengar di telinga Anda, melainkan juga suara handphone yang bertulalit-tulalit ria J.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah; apakah perjuangan ideologi yang dilakukan para kaum terbawahkan di desa Waringolo adalah bentuk pergulatan yang pada akhirnya memunculkan; inspirasi bagi desa yang lainnya untuk berkembang, atau apakah; berujung dengan saling menjatuhkan satu sama lain untuk mencapai piramida tertinggi.

Entahlah! Tapi setidaknya perjuangan ideologi dari kaum terbawahkan tersebut lebih baik dilakukan, ketimbang menyerah dan kemudian berdiam diri dengan menyalahkan takdir, nasib, dan kodrat hidup yang meletakkan mereka pada kaum terbawahkan.
Semoga...

Cepu, 13 Mei 2016

Sumber Referensi : Ajidarma, Seno Gumira. 2008. Kentut Kosmopolitan. Depok: Penerbit Koekoesan.
*) Sujanarko. 19 Januari. Penyendiri. Freelance. Pecinta komedi. Penggemar Setan Merah. Penikmat kopi, jazz dan sastra.

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .