Tauziyah Ramadhan: Menjemput Goal Ramadhan

Suara Bojonegoro     Selasa, Juni 28, 2016    

Ramadan tanpa kita sadari pelan tapi pasti pergi meninggalkan kita. Sudah cukupkah amalan kita untuk ditinggalkannya? Lebih dari 20 hari kita membersamainya. Kini kita tiba di hari 10 terakhir. Diharapkan hasil ramadan adalah takwa.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah 183 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Mengutip sebuah buku Kumpulan Fatwa Ibnu Taimiyyah karya Syaikh Ibnu Taimiyyah bahwa orang yang bertakwa adalah yang disifatkan Allah dalam firman-Nya (Al A’raf 201) “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”

Sudah/akankah kita menjadi hamba Allah yang bertakwa? Jika dahulu masih suka ghibah, ramadan ini kita belajar untuk stop ghibah. Jika dahulu suka mengumbar aurat meski tahu bahwa menutup aurat itu kewajiban, maka sekaranglah saatnya membuang habit (kebiasaan) yang mengantarkan kita kepada kemaksiatan. Allah membekali kita dengan akal. Dengan akal itulah manusia berbeda dengan makhluk Allah lainnya. Saat akal digunakan dengan tepat, maka keselamatan sebagai ending nya. Namun jika akal yang dimiliki tidak digunakan sesuai apa yang Allah perintahkan maka yang ada adalah kehinaan, bahkan lebih hina dari hewan. Dengan akal, belajar dan berazzam (komitmen) yang kuat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah semoga Allah mempermudah dan memberi jalan yang terbaik.
Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini diberikan seperangkat aturan yang sempurna dari Allah, sebagaimana firman Allah pada ayat yang terakhir diturunkan Al Maidah ayat 3 “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” Islam adalah agama yang sempurna, mengatur segala aspek kehidupan. Dari manusia bangun hingga tidur kembali, semua teratur dalam Islam.

Sebagai hamba Allah yang berharap gelar takwa, sudah saatnya kita menjadikan Alquran dan sunah sebagai standart kehidupan. Tak ada lagi kata memilah dan memilih kewajiban. Tak ada lagi kata memilah dan memilih ayat. MesÄ·i sekulerisme berseliweran dan condong menjauhkan kita dari menjalankan kewajiban, kita harus memiliki imunitas agar jangan sampai terbawa arus yang diakibatkan oleh sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan).

Alquran ada bukan sekedar untuk dibaca dan dihafal, namun juga menjadi pedoman. Pedoman saat beribadah kepada Allah (puasa, salat, haji dan lainnya), pedoman berpolitik (mengatur urusan negara), ekonomi (anti riba, pemanfaatan sumber daya alam untuk seluruh umat bukan segelintir orang) dan semua aspek kehidupan menggunakan standart dari Rabb semesta alam (Alquran dan sunah).

Jika dalam hati dan sikap kita masih ada jurang pemisah dengan aturan Allah maka sudah saatnya kita tersadar. Jika selama ini kita salat, puasa, sedekah namun masih mengambil riba, hobi ghibah maka sudah saatnya kita bertaubat. Tak perlu menunggu nanti maupun kata tapi. Karena nanti belum pasti kita miliki dan sejatinya taat itu sami’na waatha’na. Begitu kita mendengar apa-apa yang Allah perintahkan dan larang, maka kita taati. Allahu A’lam

Penulis:
Liya Yuliana, S.Pd (guru SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .