Tauziyah Ramadhan : Peringatan Nuzulul Qur’an

Suara Bojonegoro     Selasa, Juni 21, 2016    

Seperti yang telah kita maklumi bahwa lailatul Qadr itu ada pada bulan ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah yang artinya: “sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kami-lah yang memberikan peringatan” (As Dukhaan:3)

Dan karena penyepinya Rasulullah saw. di gua Hira’ adalah pada bulan ramadhan, dan kejadian turunnya Jibril as adalah di dalam gua Hira’.
Jadi Nuzul Qur’an ada [pada bulan Ramadhan, pada hari senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari senin. Hal ini sangat kuat karena Rasulullah saw ketika ditanya tentang puasa senin beliau menjawab: “Di dalamnya akau dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim).

Hadirin hadirat yang sama-sama dimuliakan oleh Allah swt.
Peristiwa Nuzul Qur’an bukanlah diharapkan agar dijadikan sebagai hari raya oleh umat ini, yang dirayakan setiap tahun, karena hari raya oleh umat ini, yang dirayakan setiap tahun, karena Islam bukanlah agama perayaan sebagaiaman halnya agama-agama lain.

Islam tidak memerlukan polesan, tidak perlu dibungkusa dengan perayaan-perayaan yang membuat orang-orang tertarik kepadanya. Ceramah Ramadhan : Peringatan Nuzulul Qur’an.

Karena turunnya al-Qur’an bukan untuk diperingati setiap tahunnya, melainkan untuk memperingatkan kita setiap saat.
Memperingati peristiwa turunnya al-Qur’an bulanlah cara orang-orang shaleh yang muttaqin. Akan tetapi jejak ulama-ulama salaf adalah membaca al-Qur’an, membaca dan membaca lagi. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka  itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.

Apalagi di bulan Ramadhan, bulan al-Qur’an ini, Umar ra. berkata: “Saandainya kita  bersih, tentu akan merasa kenyang dari kalam Allah. Sesuhhnya aku amat tidak suka menakala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca al-Qur’an. Karena itu beliau  tidak meninggal dunia sehingga mushafnya sobek karena seringnya dibaca.

Hadirin hadirat yang sama-sama dimuliakan oleh Allah swt.
Para tabi’in dan tabiittabi’in, karena begitu memahami arti dari Ramadhan, bulan al-Qur’an, dan begitu kuatnya daxlam mencintai al-Qur’an, maka bila bulan ramadhan tiba mereka mengkhususkan diri untuk membaca al-Qur’an seperti yang dilakukan oleh Imam Az-Zuhri dan Sufyan Ats-Tsauri. 

Sehingga dalam satu bulan khatam al-Qur’an berpuluh kali. Imam Qatadah umpamanya, di luar di luar  Ramadhan khatm setiap tuju  hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga hari, dan di sepuluh hari terakhir khatam setiap hari, sementara Imam Syafi’I di luar Ramadhan setiap khatam du kali. Itu semua di luar shalat. Begitu ulama Ahlus Sunnah tidak pernah merayakan Nuzul Qur’an, namun setiap hari khatam al-Qur’an, ada yang sekali dan dapat yang dua kali. Sementara kita  sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja maka sudah puas dan gembira. 


Sumber:http://nuruz-zaman.blogspot.co.id/2011/08/ceramah-ramadhan-peringatan-nuzulul.html?m=1

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .