Sosmed dan Narsisme

Suara Bojonegoro     Jumat, Juli 29, 2016    

Oleh : Heri Kiswanto

suarabojonegoro.com - Sosial media (Sosmed) merupakan sarana seseorang untuk berbagi kebutuhan dan informasi kepada hal layak umum agar memberikan manfaat. Tetapi akhir-akhir ini, jangkauan luas sarana Sosmed berupa Facebook, Twitter, Instagram dan semacamnya. Justru disalah artikan penggunanya. Bahkan melewati batas ukuran memberikan informasi publik yang layak konsumsi terhadap pengguna Sosmed pada umumnya.

Contoh nyatanya ekspresi berlebihan yang ditunjukkan atau akrab disebut Narsis. Sehingga mengakibatkan canggung serta kurang bermanfaat bagi pengguna akun Sosmed lainnya. Mungkin juga berimbas pada segi etika, moral serta aspek kataatan hukum disamping lemahnya kontrol.

Ada pun pendapat yang mengemukakan, orang yang aktif di Sosmed kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Benarkah demikian? Tentu tergantung pada individu masing-masing saat mempergunakan sarana teknologi tersebut.
Sesuai dengan ketentuan bijak berteknologi yang berlaku, sudah tertuang didalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang Undang nomor 11 tahun 2008 (UU ITE), Undang Undang yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik atau teknologi informasi secara umum.

Berkaitan itu larangan mempublikasikan perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dilarang. Sempat pula disampaikan oleh mantan Kapolri Jendral Badrodin Haiti, bahwa bijak menggunakan teknologi, menyikapi perilaku bebas berekspresi yang berujung sisi negatif yakni berupa, edit foto meme, kalimat provokatif, membuly dan rasis adalah bentuk pelanggaran hukum di dalam berteknologi.

Kita bayangkan saja, jika sehari terdapat pengguna akun Sosmed sedang online. Maka dipastikan kegiatan member tidak lain dan tidak bukan adalah mengupload foto atau status pribadi, yang kemungkinan akan berujung fatal pemilik akun Sosmed itu sendiri. ketika tidak memperhatikan aspek hukumnya.

Menurut pengamatan psikolog, perilaku narsistik terjadi tidak hanya karena era globalisasi yang kian maju. Namun juga banyak faktor lain, diantaranya faktor psikis sang pengunggah, ingin mendapat pujian, depresi (stres), kurangnya pengawasan, pesimisme hingga senang menyombongkan diri.

Bagi masyarakat awam, kecenderungan terjadinya perilaku Narsistik (Narsis berlebihan) bergantung pada kepribadian seseorang dalam mengimplementasikan aspek sosial yang terjadi di masyarakat. Sehingga banyak dari kita kurang menyadari prinsip saling menghargai hak sesama pengguna Sosmed, mestinya perlu ditanamkan.
Dalam hal ini menyadarkan pemilik akun Sosmed dan layanan internet, agar lebih berhati-hati saat mengunggah foto atau status ke dunia maya. Khususnya mencegah angka kriminalitas di internet yang kian meraja lela serta meresahkan bisa berkurang.

Untuk itu seyogyanya, Sosmed melalui perantara Google dapat memperuntukan pemilik akun dengan mengedepankan kebijakan berkaitan latar belakang pendidikan dan usia pengguna. Guna memberikan kesan penting dalam meningkatkan peran informatika lebih baik lagi.


Penulis adalah aktivis mahasiswa di PMII Bojonegoro

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .