Bagaimana Nasib Kontraktor Sekitar Proyek Migas

Suara Bojonegoro     Senin, Agustus 29, 2016    

Reporter : Nella Rachma

suarabojonegoro.com - Proyek Engineering Procurement and Construction (EPC) Gas Processing Facility (GPF) Lapangan Gas Jambaran Tiung biru senilai USD 1,5 miliar yang di operatori oleh Pertamina EP Cepu akan segera dimulai karena pada awal bulai Agustus 2016 sudah ada satu nama kandidat pemenang yang tinggal dibicarakan internal dengan SKK Migas untuk meminta persetujuan. Senin 29/08/2016

Hal tersebut membuat beberapa kontraktor di Kabupaten Bojonegoro bersiap diri untuk ikut serta dalam pengerjan proyek besar yang berada tidak jauh dari Lapangan Banyu Urip Blok Cepu ini. Bahkan, ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bojonegoro menyampaikan jika pihaknya diperintahkan Bupati Bojonegoro dan SKK Migas untuk membentuk tim untuk menyeleksi kontraktor lokal Bojonegoro yang akan masuk dalam proyek unitisasi gas tersebut.

Namun, dari ratusan kontraktor yang tergabung dalam Kadin Bojonegoro menurut Budiono selaku ketua hanya terdapat sekitar kurang lebih 40 kontraktor dari daerah area penghasil minyak dan gas bumi atau sekitar proyek migas seperti Blok Cepu dan Lapangan JTB dan sisanya tersebar di seluruh Kabupaten Bojonegoro.

Terpisah, Kepala Bagian Hukum Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro menyampaikan jika Kabupaten Bojonegoro sudah memiliki Peraturan Daerah Kabupaten Bojonegoro Nomor 23 Tahun 2011 tentang percepatan pertumbuhan ekonomi daerah dalam pelaksanaan eksplorasi dan ekploitasi serta pengelolaan minyak dan gas bumi atau yang biasa disebut dengan Perda Konten Lokal.

"Tujuan dari diterbitkannya Perda tersebut agar muatan lokal lebih dominan dalam industri migas," kata Mochamad Chosim.

Lebih lanjut, muatan lokal yang diharap lebih berdominan yaitu mulai dengan tenaga kerja, pengerjaan proyek hingga penyedia material industri migas. Namun saat ditanya siapa saja yang masuk dalam "lokal" dalam Perda tersebut apakah lokal dalam arti sekitar atau ring 1 proyek migas atau lokal seluruh Kabupaten Bojonegoro, Chosim menjawab, "tetap lokal dari ring 1 proyek migas yang diutamakan," katanya.

Masih dijelaskan, bahwa dirinya mencontohkan jika ada material, pekerja dan kontraktor di sekitar ring 1 proyek yang mampu maka perusahaan tidak ada alasan mengambil dari daerah lain yang lokasinya jauh dari ring 1 proyek meskipun masih masuk dalam Kabupaten Bojonegoro.

"Yang berada di ring 1 proyek migas tetap harus diprioritaskan," jelasnya. (Ney/Red)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .