LP2M Unigoro: Aktifitas Flaring dan Lampu Penerangan Proyek, Tidak Sesuai Syarat Tumbuh Tanaman Padi

Suara Bojonegoro     Senin, Agustus 15, 2016    









Reporter: Iwan Zuhdi


suarabojonegoro.com - Kepala Bidang Penelitian LP2M Universitas Bojonegoro, Laily Agustina Rahmawati, dalam perss Realesenya menyampaikan, setelah dilakukan penelitian di Desa Mojodelik tentang penurunan hasil pertanian yang dialami masyarakat sekitar beberapa hari yang lalu. Dari penelitian tersebut, pihaknya sudah mengantongi kesimpulan.

"Keberadaan flare dan lampu penerangan mengakibatkan peningkatan suhu lingkungan, sehingga tidak sesuai dengan syarat tumbuh tanaman padi," katanya, Senin (15/8/16).

Pihaknya menjelaskan, keberadaan flare dan lampu proyek mengubah menjadi lebih lebih tinggi dari biasanya. Padahaln lampu merupakan faktor pembatas yang menetukan bisa tidaknya tanaman tumbuh dengan optimal. Padi merupakan jenis tanaman c3, yang tidak adaptif terhadap kondisi panas, dengan suhu optimal untuk tumbuh berkisar antara 24'-29'C. Padahal, suhu disekitar proyek berkisar anatara 35'-42-C. Tentu kondisi tersebut melebihi amabang batas toleransi tanaman padi. Jika tetap ditanam pada kisaran suhu tersebut, maka padi akan hidup kondisi cekaman suhu tinggi (panas).

"Pengaruh cekaman suhu tinggi dapat mengganggu dan bahkan membunuh tanaman dengan cara mendenaturazi enzim dan merusak metabolismenya," jelas Laily sapaan akrabnya.

Selain itu, LP2M Unigoro menjelaskan bahwa cekaman suhu tinggi menyebabkan terjadinya produksi giberrelin acid (GA3) yang menhambat pembentukan bulir biji atau umbi dan terjadi peningkatan laju respirasi yang menghambat pertumbuhan bulir. Akibatnya, bulir yang ternbentuk sedikit, ukuranya kecil, bobot bulir menurun, biji keriput, berkurangnya laju akumulasi pati dan perubahan komposisi lipid dan polipeptida.

"Selain itu, suhu yang sangat tinggi menyebabkan kerusakan parah dan bahkan kematian sel dapat terjadi dalam beberapa menit saja. Cekaman suhu tinggi pada fase akhir pertumbuhan (terminal heat stress atau post- anthesis heat stress) sering menjadi faktor pembatas pada produksi beberapa jenis tanaman," jelasnya. (Wan/Red)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .