Mendapatkan SDM yang handal ternyata tidak bisa dilakukan dengan cara instan. Perusahaan perlu melakukan proses penyaringan dari lamaran pekerjaan yang masuk. Kemudian, kandidat yang telah terpilih masih membutuhkan pelatihan. Selain diberikan kepada karyawan baru, training juga diprogramkan bagi mereka yang telah lama menjadi bagian dari perusahaan. Tujuannya, agar mereka bisa bekerja lebih baik, tidak peduli posisi apa yang sedang atau akan dijabat.

Operasional perusahaan haruslah bergerak maju, mengikuti tuntutan bisnis sehingga tidak ketinggalan jauh dari pesaing-pesaingnya. Langkah utama yang harus dilakukan yaitu dengan terus memperbaharui kinerja para karyawannya. Salah satunya dengan memberikan pelatihan atau training. Melalui program tersebut, diharapkan kualitas SDM dapat berkembang sehingga visi dan misi perusahaan bisa tercapai.
Pelatihan karyawan bisa dilakukan oleh bagian intern perusahaan yang bertanggung jawab atas sumber daya manusia. Atau, program ini dapat dijalankan dengan bekerja sama dengan pihak lain di luar perusahaan yaitu penyedia jasa training yang kompeten dan terpercaya di bidangnya. Tentunya, diperlukan dana yang tidak sedikit untuk membuat pelatihan ini berjalan sebagaimana mestinya. Untuk itu, manajemen perusahaan harus memastikan bahwa training tersebut benar-benar efektif untuk mengembangkan kompetensi para peserta.
Dalam bisnis, pengeluaran sekecil apapun harus dipertimbangkan, termasuk untuk penyelenggaraan training terhadap karyawan. Seringkali perusahaan tidak menemukan timbal balik yang signifikan atau setimpal dengan biaya yang telah dikeluarkan. Tentunya ini sangat disayangkan karena investasi yang ditanamkan pada program tersebut menjadi sia-sia.
Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah pelatihan yang diberikan efektif atau tidak? Berikut ini empat langkah pengukurannya menurut Dr. Sullivan:
• Bagaimana kinerja SDM sebelum dilakukan pelatihan
Untuk bisa menentukan bahwa training yang diberikan efektif atau tidak, perusahaan membutuhkan data pembanding sebelum dan sesudah. Maka, penilaian terhadap kinerja karyawan diperlukan di fase awal, dimana program pelatihan belum dijalankan. Dalam fase ini, perusahaan akan bisa mengukur sejauh mana kompetensi sumber daya manusiannya.
• Mengawasi penyelenggaraan programpelatihan SDM
Langkah ini merupakan fase kedua pengukuran keefektivitasan training dimana perusahaan harus melihat langsung bagaimana prosesnya berjalan. Hal utama yang harus diperhatikan yaitu keterlibatan peserta dalam kegiatan tersebut yang mencakup antusiasme, keaktifan dan peningkatan kompetensi.
• Evaluasi dalam bentuk lembar penilaian• Mengawasi proses pengujian keefektivitasan training
Perubahan yang signifikan tentu diharapkan akan terjadi segera setelah proses pelatihan berakhir. Akan tetapi, perusahaan harus menyadari bahwa kemampuan intelejensi, adaptasi dan motivasi yang dimiliki setiap peserta tentu berbeda satu sama lain. Tidak ada jaminan semua bisa segera mempraktekkan semua materi yang diperoleh selama masa training. Meskipun begitu, manajemen perusahaan tetap harus memonitor perubahan yang terjadi untuk menilai apakah pelatihan yang diberikan sudah cukup efektif.
Hasil penilaian yang telah dilakukan oleh perusahaan haruslah diberitahukan kepada semua peserta yang mengikuti pelatihan. Selain itu, dalam sesi pertemuan tersebut, manajemen dan karyawan duduk bersama untuk membahas kendala yang dihadapi baik selama masa training, praktek dan setelah mendapatkan hasil penilaian.
Keseluruhan langkah pengukuran efektivitas pelatihan bisa dijadikan pedoman bagi perusahaan untuk memberikan training yang paling dibutuhkan oleh karyawannya. Tak jarang ditemukan masalah kurangnya antusiasme dan motivasi sebagai kendala sulitnya para peserta menyerap ilmu dan keahlian yang diberikan selama program. Maka, diperlukan strategi khusus agar program training dapat berjalan lebih efektif. Caranya:
• Membuat variasi dalam penyampaian materi. Ada banyak pilihan media dan metode yang bisa dipertimbangkan. Variasikan gaya dan kecepatan saat pelatihan untuk membangkitkan antusiasme peserta dan membuat mereka lebih mudah menyerap materi yang diberikan.
• Lakukan pengulangan dengan cara yang berbeda. Misalnya penyampaian materi dilakukan dengan gaya formal, maka agar lebih menarik, pengulangan bisa dilakukan dengan cara informal. Manfaatkan berbagai media seperti gambar, foto atau ilustrasi yang membangkitkan respon peserta dan mengingatkan mereka tentang materi yang sudah didapat sebelumnya.
• Dapatkan umpan balik atau feedback dari peserta training. Penyelenggara pelatihan sebaiknya lebih peka terhadap penilaian karyawan yang mengikuti program tersebut. Mintakan pendapat objektif yang nantinya bisa digunakan untuk mengevaluasi kualitas dari pelatihan beserta kontennya.
• Sampaikan materi pelatihan dengan singkat dan jelas. Karyawan yang mengikuti program training bukan lagi peserta seumuran anak sekolah dasar yang menghabiskan waktu mereka di kelas dengan mendengarkan. Pengetahuan dan kemampuan mereka telah jauh berkembang sehingga penyampaian materi yang hanya berbentuk tulisan panjang saja akan terasa membosankan.
• Manfaatkan jasa trainer yang handal dan terpercaya. Apabila perusahaan kesulitan memilih kandidat intern untuk memberikan pelatihan, langkah alternatif yang bisa diambil yaitu meminta bantuan perusahaan penyedia jasa training. Pastikan mereka profesional dan memiliki reputasi yang baik.
• Berikan kesempatan yang sama bagi semua peserta untuk terlibat langsung dalam masa pelatihan. Contohnya kesempatan bertanya dan mengutarakan pendapat. Partisipasi ini penting untuk mengetahui antusiasme peserta dan pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan.
Pelatihan yang efektif tentunya akan sangat bermanfaat bagi semua karyawan yang mengikuti program tersebut. Mereka memperoleh apa yang dibutuhkan untuk pengembangan diri. Secara tidak langsung, saat semua karyawan telah mampu bekerja dengan lebih baik, perusahaan akan mendapatkan dampak positifnya.

Sumber : http://dvdpelatihansdm.com/cara-tepat-untuk-meningkatkan-efektivitas-pelatihan-karyawan-dan-pengembangan-sdm/