Warga Desa Sidobandung Belajar Islam dan Pertanian

Suara Bojonegoro     Jumat, Agustus 05, 2016    

Oleh : Liya Yuliana

suarabojonegoro.com - Belajar tak mengenal usia. Baik kecil, muda dan tua memiliki kewajiban menuntut ilmu. Dari dalam buaian hingga liang lahat. Tak hanya sembilan tahun dibebankan namun hingga akhir hayat.

Ilmu, tiada manusia yang mampu menguasai segala ilmu meski hidup sejuta tahun lamanya. Karena ilmu Allah sangatlah luas. Ibaratkan lautan menjadi tintanya maka saat air laut habis belumlah cukup untuk menuliskan seluruh ilmunya Allah. Dengan keterbatasan waktu yang Allah berikan di dunia ini sungguh rugi jika hidup tak peduli untuk menggali ilmu.

Ilmu, setiap hembusan nafas dibutuhkan oleh manusia. Tanpa ilmu manusia tak mengenal halal haram bagai berjalan tanpa cahaya. Begitu berharganya ilmu menjadikan masyarakat Dusun Dureg Desa Sidobandung, Balen meski di tengah kesibukan melakukan aktivitasnya tampak semangat menuntut ilmu. Terbukti dengan hadirnya mereka dalam majelis ilmu (pengajian).

Berdasarkan keterangan Kepala Desa Sidobandung bahwa acara ini digelar untuk mengingatkan masyarakat untuk menata hati. Dihadiri sekitar lebih dari 200 warga Desa Sidobandung. Acara ini diselenggarakan di rumah salah satu pejabat desa, yakni di rumah Bapak Sidiq, kasun di Desa Sidobandung pada Kamis, 4 Agustus 2016 setelah Isya hingga sekitar pukul 22.30. Adapun pembicara dalam acara ini adalah Pak Joko Pujo Wiyono, SP yang juga mendapat amanah di Dinas Pertanian.

Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan kepada para jamaah agar senantiasa bersyukur. Bersyukur hukumnya wajib. Wujud syukur itu tak hanya mengucapkan secara lisan, namun juga mengaplikasikan dalam perbuatan. Hidup ini sesungguhnya dalam rangka mencari rida Allah. Jangan sekali-kali kita mencari Tuhan selain Allah. Agar Allah rida maka hendaklah kita beribadah sesuai yang dicontohkan Rasulullah. Baik ibadah mahdah maupun lainnya. Beliau juga berpesan agar senantiasa berpikir terhadap apa-apa yang  dilakukan dengan bertanya "Rida kah Allah jika saya melakukan ini dan itu?" Sebagai seorang muslim demi menggapai rida Ilahi maka harus senantiasa melapangkan dada untuk menerima nasihat dari siapa pun.

Yang unik dari kajian ini tak hanya menyentuh sisi religi saja. Namun mengaitkan dengan bidang yang dekat dengan masyarakat desa yakni bidang pertanian. Sebagai misal sebagaimana yang beliau sampaikan tentang cuaca. Cuaca yang tidak menentu diantaranya dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Seperti aktivitas membakar jerami (damen istilah Jawa). Saat jerami dibakar maka mengeluarkan gas yang mengandung CH4 atau istilah kimia metana. Hal ini menjadikan suhu udara semakin panas sehingga cuaca pun tidak menentu.

Sudah saatnya kita bersahabat dengan bumi. Tak perlu mengeluh atas apa yang telah Allah ciptakan. Karena setiap apa yang diciptakan memiliki hikmah dan keistimewaan masing-masing. Begitu juga dalam mengelola tanah pertanian agar tidak hanya mengandalkan obat semprot kimia. Menggunakan obat kimia (sintesis) haruslah secara bijak. Selama dapat diatasi dengan pemanfaatan tumbuhan (bahan alam) maka gunakanlah bahan dari alam seperti pelepah pisang. Pelepah ini kaya Kalium. Dan juga sangat baik menjaga ekosistem. Jerami sangat baik untuk menjaga kesuburan tanah. Namun jika tak mampu dikendalikan dengan obat dari alam, barulah menggunakan obat kimia (sintesis). Allahu A’lam. (Liy/JW)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .