Teliti Jaringan Sosial Pencurian Kayu Jati, Raih Gelar Doktor

Suara Bojonegoro     Senin, September 05, 2016    

Reporter : Sasmito Anggoro


suarabojonegoro.com - Drs. H. Moh. Adib, MA., antropolog, dosen FISIP, meraih gelar Doktor dengan predikat Sangat Memuaskan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universias Airlangga atas penelitian jaringan sosial pencurian kayu Jati (Curyuti) di Perhutani Kabupaten Tuban, pada Sidang Diserasi Doktor Terbuka hari Jumat 2 September 2016. Disertasi dengan judul “Sedhakep Angawe-Awe: Kajian Jaringan Sosial Pencurian Kayu Jati di Perhutani Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur itu berlokasi di tiga KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) yaitu KPH Tuban, KPH Parengan, dan KPH Jatirogo. Di antara sepuluh penguji Penyanggah pada Promosi Doktor itu, adalah Ketua Dewan Pengawan Perum Perhutani Dr. Ir. H. Mustoha Iskandar, M.Sc.

Sembilan Penguji Penyanggah lainnya adalah Prof. Dr. Kacung Marijan, MA. (Dosen Ilmu Politik UNAIR, ketua Sidang), Prof. Dr. Mustain, M.Si. (Dosen Sosiologi UNAIR); 3. Prof. Heddy Ahimsa-Putra, Ph.D., MA. (Dosen FIB, Antropolog UGM); Prof. Dr. Budi Prasetyo, M.Si. (Dosen Ilmu Politik UNAIR); Dr. Suparto Wijoyo (Ahli Hukum Lingkungan, Dosen FH UNAIR), Prof. Dr. Soetoyo, dr. Sp.U. (Dekan FK UNAIR); PROF DR. Djoko Mursinto, Drs.Ec., MEc.  (Dosen Ilmu Menejemen FEB UNAIR). Hadir juga sebagai Penguji Akademik adalah Ir. H. Yahya Amin, MP. (Sekretaris Divisi Regional Perhutani Jawa Timur).

Menteri LHK RI, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc., memberikan ucapan selamat, kepada Doktor yang ke 182 di Program Doktor Ilmu Sosial UNAIR, dengan mengirimkan Papan Bungan dan pesan pendek, "sukses dan selamat ya atas capaian gekar akademik tertinggi," Katanya.

Diantara tamu undangan yang hadir pada acara tersebut adalah Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Timur (Ir. H. Andi Purwadi, MM.), Kepala Biro Perlindungan Sumber Daya Hutan (Ir. H. Kristomo, MM.), Administratur (Adm) Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Tuban (Riyanto Yudhotomo, S.Hut.), Waka Adm KPH Tuban Muchlishin Sabarna Sinsin, S.Hut., MM., Adm KPH Parengan, S.Hut.)

Hasil penelitian ini menemukan (i) Curyuti yang dilakukan oleh para aktornya pada dekade 2010-an merupakan bagian warisan aksi-aksi serupa pada tiga dekade sebelumnya yang memuncak pada dekade 2000-an; (ii) asal usul Curyuti itu dimotori oleh aktor dari dalam petugas lapangan dari Perum Perhutani yang disebut sebagai madun yang berkolaborasi dengan aparat keamanan yang dilaksanakan dengan pola budaya jaringan sosial sedhakep angawe-awe (SAA); (iii) para aktor dalam jaringan sosial Curyuti adalah oknum dari warga masyarakat, aparat keamanan, kepolisian, pegawai Perhutani, dan pengusaha industri pengolahan kayu; (iv) para aktor Curyuti telah memanfaatkan jaringan sosial bermuatan pertemanan (friendship), kekerabatan (kinship), gabungan antara pertemanan dan kekerabatan, kepentingan (interestship), dan kekuasaan (powership); (v) Curyuti telah dilakukan bersama dalam relasi sosial yang terhubung dalam keterlekatan (embeddedness) relasional dan struktural, transaksional, dan klientelisme. (Ang/Lis)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .