Kenangan HJB 339: Naik Panggung Terima Penghargaan, Turun Panggung Sepatu Tersayang Hilang

Suara Bojonegoro     Rabu, Oktober 26, 2016    

Reporter : Iwan Zuhdi

suarabojonegoro.com - Kemeriahan puncak Hari Jadi Bojonegoro ke 339, Rabu (19/10/16) malam kemaren sangat luar biasa. Sore hari ribuan warga Bojonegoro dari berbagai penjuru kecamatan sudah membanjiri Alun-alun Kota Ledre, berharap mendapatkan berkah di acara malam puncak HJB tahun 2016. Disediakan ribuan tumpeng dan puluhan gunungan hasil pertanian dari bumi Bojonegoro.

Malam itu cuaca sangat cerah sekali, secerah suasana hati Pria asal Desa Bendo Kecamatan Kapas Bojonegoro, yang sebelumnya mendapat undangan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro atas diraihnya penghargaan sebagai pengusaha muda dengan trobosan kulinernya.

Pria tersebut biasa disapa Mas Eko. Pria yang mempunyai nama lengkap Eko Mad
Khoiri itu merupakan Perintis Warung Belut Pondok Salak di Bendo Kecamatan Kapas. Pria yang berprawakan kecil dan tinggi itu menceritakan kenangan-kenangan unik dibalik meriahnya acara HJB ke 339 tahun 2016 ini.

Dalam ceritanya, Eko setelah mendapat undangan dari Pemkab Bojonegoro, Ia bergegas berangkat ke pasar terdekat mencari pakaian yang bermotif batik Jonegoroan yang nantinya bakal dikenakan saat naik panggung bersama Bupati Bojonegoro Kang Yoto dan peraih penghargaan lainya.

Dengan mengenakan hem bermotif batik Jonegoroan Eko bersiap naik keatas panggung bersama orang-orang produktif se Bojonegoro. Mendapat panggilan urut ke tiga, Eko dengan Percaya diri melangkahkan kakinya naik panggung termegah pada acara puncak acara HJB ke 339 itu. Dengan kaki yang dilapisi sepatu kesayanganya, ia berniat memakai sepatu saat naik panggung. Tapi, langkah kakinya terhenti di tangga kecil sebelah barat panggung, ketika panitia menegurnya tidak boleh memaakai sepatu saat naik panggung.

"Maaf Mas, tolong sepatunya dilepas," kata salah satu panitia dengan dicampuri senyuman manis.

Eko pun spontan melepas sepatu kesayanganya itu dan menaruhnya dibalik tangga kecil panggung tersebut. Dalam ceritanya Eko melanjutkan, Ia sempat malu-malu kucing saat Kang Yoto menyapanya dengan berbagai pujian-pujian yang selama ini diraihnya.

Gemuruh tepuk tangan dari ribuan penonton malam itu membuat Eko semakin manciutkan wajahnya yang saat itu juga dizoom dalam tayangan layar proyektor.

"Malu banget Mas rasanya, baru itu naik panggung dan berhadapan langsung dengan lautan manusia," katanya saat ditemui di pondoknya (warung welut pondok salak).

Ia melanjutkan ceritanya, setelah ke 11 manusia produktif se Bojonegoro selesai di beri penghargaan oleh Kang Yoto, semua turun panggung dengan berurutan. Eko pun tak lupa demgan sepatu kesayanganya yang dari pagi sebelumnya sudah dibersihkan guna menghadiri acara yang dinilai cukup mewah itu.

Namun apa yang terjadi, sepatu kesayangan Eko yang disimpan dibalik tangga kecil dari panggung itu tidak ada. Keberadaan sepatu yang hanya ditinggal berdiri sekitar 2 jam itu lenyap tanpa jejak.

"Sepatu saya hilang, saat saya mau turun dari panggung," katanya sambil senyum.

Ia mencoba mencari disekeliling tangga kecil dan panggung. Namun, tetap tak diketemukan sepatu yang dalam ceritanya sepatu itu adalah sepatu kesayanganya.

Haru campur sedih Eko melangkahkan kaki polos tanpa lapisan sepatu menuju tempat parkir dimana ia menaruh sepeda motornya. Dengan memegang erat kenang-kenangan yang diberikan Kang Yoto ia siap mengabarkan kabar penghargaan yang diraihnya dengan keluarga dan teman-teman pegawai di Pondok Salak.

"Terpaksa dari Alun-alun sampai rumah saya delamak," ujar Eko dengan tertawa terbahak-bahak.

Kejadian hilangnya sepatu diacara puncak HJB ke-339 di Alun-alun Bojonegoro itu menjadi kenangan tersendiri bagi Eko. Banyak cerita hidup yang dilalui Eko bersama sepatu itu. "Sepatu itu Banyak kenangan, terutama kenangan manis saat masih bersama menjalin hidup dengan mantan istri saya dulu," pungkas Eko dengan nada haru.(Wan/Red).

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .