Program Penyediaan Air Bersih ExxonMobil Cepu Limited - Ada HIPPAM, Kini Air Bersih Tercukupi

Suara Bojonegoro     Kamis, Oktober 13, 2016    

Reporter : Iwan Zuhdi


suarabojonegoro.com - Air sebagai sumber kehidupan sangat penting bagi masyarakat. Selain mendukung terciptanya lingkungan sehat, juga menopang pengembangan ekonomi masyarakat. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menyadari hal ini dengan mewujudkannya dalam Program Penyediaan Fasilitas Air Bersih dan Jamban Sehat Berbasis Masyarakat, serta Penguatan Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum (HIPPAM). Program Pendukung Operasi (PPO) yang telah disetujui SKK Migas ini telah dilaksanakan sejak 2008 di kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Blora.

Suhadak masih ingat beberapa tahun yang lalu setiap menjelang pertengahan tahun, dirinya dan warga lain di Desa Campurejo, Bojonegoro selalu was-was. Pasalnya, setiap pertengahan tahun, kekeringan dan kekurangan air kerap melanda wilayahnya. “Beberapa tahun yang lalu kami sangat kesulitan untuk mendapatkan air bersih,” kenangnya.
Suhadak mengisahkan, ketika memasuki musim kemarau, sumur bor yang biasa mereka gunakan kering. Tidak ada air yang keluar. “Rata-rata warga mempunyai sumur dengan kedalaman sekitar 24 hingga 30 meter. Ketika kemarau, sudah tidak bisa mengeluarkan air,” tuturnya.
Kini suasana seperti itu telah sirna setelah adanya Program Pendukung Operasi EMCL di desa tersebut. EMCL bersama masyarakat dan mitra LSM telah melaksanakan Program Penyediaan Fasilitas Air Bersih dan Jamban Sehat Berbasis Masyarakat, serta penguatan bagi Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum (HIPPAM). Keberadaan HIPPAM sangat penting untuk menjamin kemandirian dan keberlanjutan program penyediaan air bersih bagi masyarakat desa tersebut.
Di Desa Campurejo dan 19 desa lain yang ada di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Blora, EMCL membangun fasilitas air bersih berupa sumur dan menara air serta salurannya ke setiap rumah. Sejak tahun 2008, program ini telah membantu masyarakat sekitar wilayah Blok Cepu mengatasi masalah kekeringan dan kekurangan air bersih.
Warga Desa Campurejo dan Suhadak mengaku sangat terbantu dengan adanya fasilitas air bersih tersebut, karena bisa mencukupi kebutuhan air sehari-hari selama musim kemarau. “Alhamdulillah sangat terbantu. Air itu kebutuhan utama dalam hidup, selain untuk memasak, juga untuk keperluan mandi dan mencuci,” kata warga dari RT 11 itu.
Dengan jenis pompa air lebih canggih, yang mampu mencapai sumber air lebih dalam, ketersediaan air di wilayahnya akan terus tercukupi. “Sistemnya otomatis. Jika airnya berkurang akan langsung mengisi dan jika sudah penuh akan mati sendiri,” jelas Suhadak.
Selain itu, dia memaparkan, dengan sumber lebih dalam, air yang dikeluarkan dari fasilitas itu lebih bersih. “Airnya jernih dan lebih aman untuk keperluan air minum dan memasak,” imbuhnya. Kini tidak ada lagi keluhan air berkapur.
Senada dengan Suhadak, Matraji mengaku juga sangat terbantu dengan adanya program EMCL ini. Rumahnya yang tidak jauh dari lokasi menara air, juga memanfaatkan fasilitas tersebut. Meski di rumahnya ada sumur dan pompa listrik sendiri, dia mengaku lebih memilih menggunakan air dari HIPPAM dengan alasan bisa menghemat biaya listrik.
“Alhamdulillah dengan adanya air dari program ini bisa mengurangi beban listrik di rumah saya,” ungkap Matraji.
Setali tiga uang dengan warga Kecamatan Gayam. Sukoco, warga Dusun Sumur Pandan, Desa Gayam, Kecamatan Gayam mengaku tidak pernah cemas dengan kebutuhan air bersih. Di Desa Gayam, kata dia, sudah ada 4 menara air dan lebih dari 400 Sambungan Rumah (SR) terpasang. Karena tergolong daerah rendah, Gayam mengambil sebagian sumber airnya dari desa tetangga, Ringin Tunggal. “Desa Gayam cukup luas, makanya kita sedang mengupayakan untuk memperluas jaringannya lagi,” ucap ketua HIPPAM Desa Gayam ini.
Hal yang sama dirasakan warga Mojodelik dan Bonorejo. Di Mojodelik, terdapat 2 menara penampungan air dengan 2 rumah pompa untuk mengalirkan air dengan jaringan pipa sepanjang 4.933 meter bagi 246 Sambungan Rumah. Di Desa ini juga telah dibangun 772 jamban sehat dan terdapat 70 kader sanitasi yang telah terlatih. Sedangkan di Desa Bonorejo, telah dibangun 2 menara tendon dengan satu rumah pompa yang menyalurkan air ke 246 rumah melalui jaringan pipa sepanjang 3.564 meter. Dalam program ini, 10 kader sanitasi bersama masyarakat Bonorejo membangun 287 jamban sehat.
Di Kecamatan Gayam sendiri, sudah dibangun 8 menara air, 24.275 meter saluran pipa, dan sudah digunakan oleh 1.334 rumah. Meliputi Desa Mojodelik, Gayam, Begadon, Ringin Tunggal, Beged, dan Bonorejo. Selain air bersih, di wilayah terdekat operasi EMCL ini, sudah dibangun 3.365 jamban sehat. Selain infrastruktur penunjang kesehatan, juga terdapat 220 kader sanitasi yang dilatih untuk mengkampanyekan perilaku hidup bersih dan sehat. Tak heran jika pada tahun 2015 lalu, Kecamatan Gayam mendapatkan penghargaan sebagai wilayah bebas dari buang air besar sembarangan atau Open Defecation Free (ODF) dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.  
Masyarakat Merasa Memiliki
Sejak tahun 2008, EMCL bersama-sama masyarakat telah membangun fasilitas air bersih dan jamban sehat di 20 desa yang ada di Kabupaten Bojonegoro, Tuban dan Blora. Fasilitas tersebut meliputi 27 menara air dengan jaringan pipa sepanjang lebih dari 64,7 km dan dimanfaatkan oleh 5.684 sambungan rumah.
Dalam pelaksanaannya EMCL bermitra dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang kompeten di bidangnya. Program yang telah disetujui SKK Migas serta mitra Blok Cepu: Pertamina EP Cepu dan Badan Kerjasama PI Blok Cepu ini dimulai dengan pembentukan Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum (HIPPAM). Beranggotakan masyarakat, HIPPAM berperan sebagai lembaga penggerak program, mulai dari pembentukan sampai pengelolaan jangka panjang.
Setelah terbentuk kepengurusan HIPPAM, dilanjutkan dengan penguatan kelembagaan dan peran HIPPAM dengan memberikan pelatihan manajemen organisasi dan keuangan, pembuatan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) lembaga, Peraturan Desa tentang air bersih, akta notaris lembaga, bantuan sarana dan prasarana berupa laptop dan perangkat lunak sistem keuangan, renovasi kantor serta pendirian koperasi.
Kepala Desa Campurejo, Edi Sampurno mengungkapkan rasa terima kasih atas program penyediaan fasilitas air bersih di desanya, tepatnya di Dusun Ploso Lanang. Selama ini saat musim kemarau warga sangat kesulitan air dan hanya mengandalkan persediaan air dari tangki. “Keberadaan program ini dengan adanyatower air di RT 11 mampu mencukupi kebutuhan air di 4 RT, yakni di RT 10, 11, 16 dan 29,” paparnya.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Bojonegoro, Setyo Yuliono mengapresiasi EMCL yang telah membantu mengatasi kekurangan air bersih di Bojonegoro.  “Dengan partisipasi dari EMCL, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro merasa terbantu dalam penanggulangan masalah kekeringan,” ujar dia.
Juru bicara dan humas EMCL, Rexy Mawardijaya mengatakan, program ini merupakan wujud dari gotong royong dengan didasari rasa saling percaya untuk bersama-sama menyelesaikan masalah warga. “Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan dilakukan warga. Program ini milik masyarakat,” katanya.
Program ini merupakan komitmen industri hulu migas untuk berkontribusi dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. EMCL sebagai Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) dibawah pengawasan SKK Migas mewujudkannya sebagai sebuah sinergi dengan semua pihak. Buktinya, dalam pelaksanaan program, EMCL bekerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten, yakni Dinas Kesehatan, BAPPEDA, dan Dinas Pekerjaan Umum.  “Kerja sama ini merupakan bentuk sinkronisasi dengan program pemerintah,” pungkas Rexy. (Adv*)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .