Tradisi 1 Suro, Buang Sengkala Dengan Tradisi Ruwat Masal Di Khayangan Api

Suara Bojonegoro     Minggu, Oktober 02, 2016    

Reporter : Lina Nur Hidayah

suarabojonegoro.com - Membuang sengkala menjadi tradisi sebagian masyarakat Jawa yang dilakukan turun temurun sejak nenek moyang,  dalam adat Jawa yang dikenal dengan ruwatan umumnya dilaksanakan setiap satu Suro dengan tujuan akan diberi keselamatan baik kesehatan maupun rejeki setelah membuang sengkala pada tubuh manusia.

Dinas kebudayaan dan pariwisata atau DISBUDPAR Bojonegoro menggelar Agenda ruwatan masal yang menjadi kegiatan rutin tahunan setiap 1 Suro yang. Acara ruwatan masal ini dilaksanakan ditempat yang dianggap sakral yaitu di pendopo Khayangan Api tepatnya di Sesa Sendangharjo,  Kecamatan Ngasem,  Bojonegoro.

Menurut mbah Juli yang dikenal masyarakat sebagai juru kunci Khayangan Api ini bahwa inti dari peruwatan masal adalah membuang sengkala,  agar diberikan keselamatan,  rejeki dan kesehatan.

“Ruwatan ini dianjurkan Khususnya untuk ontang -anting atau anak tunggal,  kedono kedini (1 anak perempuan lahir kemudian punya adik laki-laki),  pendawa lima (anak 5 laki-laki)  dan anak yang lahir hari selasa kliwon," katanya kepada suarabojonegoro.com.

Menurut cerita Jawa anak ontang antik,  kedana dini,  pendowo limo dan anak lahir hari selasa kliwon harus diruwat dan bilamana tidak diruat menurut cerita akan dimakan betara kala.

Ruwatan dimulai dari  jam 09.00 WIB sampai jam 13.00 WIB, dengan dihadiri oleh Muspika kecamatan Ngasem, warga setempat dan para wisatawan Domestik.

Acara ini diawali dengan penyerahan sesaji kepada mbah Juli selaku juru kunci Khayangan Api, kemudian dilanjutkan prosesi sungkeman peserta ke orang tua, kemudian peserta berkumpul di pendopo Khayangan Api sesuai nomor urut untuk mendengarkan cerita wayang dengan judul Ruwat Kala dan mengikuti prosesi ruwatan hingga selesai.

Pihaknya menambahkan peruwatan atau ruwatan dapat dilakukan semua umur dan dalam kondisi apapun karena umumnya  ruwatan dilakukan untuk pasangan yang hendak menikah.

“Ruwatan bukan hanya untuk orang yang mau menikah saja namun dapat dilakukan untuk semua orang yang ingin diruat. “ jelas Mbah Juli.

Sementara peserta ruwatan pada tahun 2016 ini mencapai 39 pendaftar setiap pendaftar terdiri dari 2 sampai 3 orang.

“Ada 39 pendaftar yang bukan hanya berasal dari Wilayah Bojonegoro saja namun juga ada yang berasal dari Tuban,  Dili dan Bali," Jelas mbah Juli.

Para peserta ruwatan harus puasa sampai acara prosesi selesai. Prosesi peruwatan ini menggunakan wayang purwo atau kulit dengan dalang Ki Saemo dari Desa Ngasem,  Kec Ngasem Bojonegoro serta diiringi kesenian karawitan roso madu dari Ngasem.

“Setelah prosesi ruwat yang dilakukan dalang selesai,  akan dilakukan potong rekmo atau pangkas rambut serta akan mandi dengan kembang setaman, yang kemudian potongan rambut tersebut akan dilarung disungai atau bengawan oleh sesepuh. “tambahnya. (Ina/Red)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .