Anak SD Belajar Energi Migas Bersama EMCL dan Pendongeng

Suara Bojonegoro     Rabu, November 02, 2016    

Rabu, 02 November 2016
Reporter : Iwan Zuhdi


suarabojonegoro.com - Siswa SD Negeri 2 Mojodelik, Desa Mojodelik Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro, merasakan pengalaman yang berbeda pagi itu. Mereka belajar bersama pendongeng kondang Bojonegoro, Kak Budi. Dengan gaya bercerita yang atraktif, Kak Budi menceritakan tentang bagaimana anak-anak mencintai lingkungan dengan menanam pohon. Gelak tawa dan sorak sorai siswa kelas 3 hingga 5 itu kerap meriuhkan suasana kelas. "Ini pengalaman baru bagi kami dan anak-anak," kata guru Lilik Muflikhah pada Selasa (1/11/2016).

Suasana belajar ini dirangkai dalam kegiatan Belajar Energi Migas bersama operator Lapangan Banyu Urip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Yayasan Kampung Ilmu (YKI) sebagai mitra EMCL dalam melaksanakan program ini menyusun kegiatan belajar yang menarik dan efektif. Selain dengan dongeng, sesekali YKI menghadirkan penampilan pantomim. "Mengajak anak berbuat kebaikan dengan cara yang lucu jadi seperti bermain. Menarik sekali," imbuh Lilik.

Materi yang disampaikan berupa pengenalan topik energi secara umum, industri minyak dan gas, serta tentang operasi EMCL di Lapangan Banyu Urip. Antusiasme anak-anak terlihat cukup tinggi. Tanya jawab dalam semua sesi sangat diminati. Selain karena memperoleh souvenir dari pembicara, anak-anak juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. "Suasana ini sengaja kita bangun untuk mengajak anak-anak belajar dengan nuansa yang berbeda, sekaligus refreshing buat mereka," ungkap koordinator YKI, Muhammad Roqib.

Materi migas disampaikan oleh insinyur teknik EMCL, Fakhrurradhi. Pria yang sudah lebih dari 20 tahun bekerja di industri migas itu menjelaskan tentang energi dengan bahasa lugas. “Energi itu penting bagi kehidupan kita sehari-hari. Lampu, listrik, dan elpiji yang setiap hari kita gunakan semuanya butuh energi,” ujar pria yang biasa disapa Razi itu.
Razi kemudian menerangkan tentang operasi EMCL. Dia mengatakan, dalam menjalankan kegiatannya EMCL selalu mengutamakan keselamatan, menekankan budaya pengenalan potensi celaka dan memakai peralatan penunjang keselamatan.

Razi juga menjelaskan tentang suar bakar (flare) yang sebenarnya merupakan salah satu alat penunjang keselamatan. Obor api itu, kata dia, fungsinya membakar gas hidrogen sisa yang tidak dapat dimanfaatkan.

“Gas sisa itu dibakar dengan cara pencampuran uap air dan udara sehingga lebih aman bagi lingkungan,” terang bapak asal Aceh tersebut.

Di akhir pemaparannya, dia juga menjelaskan tentang program kemasyarakatan yang selama ini sudah dijalankan oleh EMCL di bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi. Salah satu programnya misalnya fasilitas biogas di enam desa di Bojonegoro dengan total 126 penerima manfaat yang kini menggunakannya untuk memasak dan penerangan sehari-hari. "Program-program ini untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat kita," ucapnya bersemangat. (Wan/Red)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .