CIPG Paparkan Hasil Penelitian Terkait Keterbukaan Informasi di Bojonegoro

Suara Bojonegoro     Kamis, November 10, 2016    

Reporter : Iwan Zuhdi


suarabojonegoro.com - Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai media partisipasi publik diakui secara luas. Saat ini kementerian, lembaga, dan Pemerintah Daerah diwajibkan untuk menmberikan akses terhadap informasi publik.  Pemerintah pusat dan pemerintah daerah kini juga telah mengembangkan alat pengaduan publik. Layanan ini berperan sebagai sarana penghubung antara publik dengan pemerintah untuk menyampaikan pengaduan maupun keluhan atas ketidaksesuaian pelaksanaan dengan standar pelayanan publik.

Alat pengaduan publik kini menjadi salah satu tolok ukur dalam mengawasi dan mengevaluasi jalannya program dan kegiatan pemerintah pusat maupun daerah.

Centre for innovation policy and governance (cipg) telah melakukan penelitian berjudul ”mengkaji efektivitas alat pengaduan publik” untuk menilai kinerja alat pengaduan publik, baik di tingkat Nasional maupun Daerah. Pada level nasional LAPOR digunakan sebagai studi kasus, sedangkan di Kabupaten Bojonegoro, menjadi studi kasus di tingkat daerah.

Mona salah satu anggota tim riset CIPG mengatakan, alasan publik mengadu sangat bergantung pada konteks sosial dan politik. Motivaasi publik untuk mengadu di level Nasional maupun Daerah bisa saja berbeda. Di level Nasional, hasil surveri CIPG menyatakan bahwa publik mengadu karena ingin berpartisipasi dalam pembangunan.

"Bagi mereka, pengaduan ini akan membantu pemerintah menjalankan tugasnya. Selain itu, pengaduan juga mencerminkan harapan dan kepercayaan mereka terhadap pemerintah," katanya saat menggelar FGD di hotel GDK Bojonegoro. Kamis (10/11/16).

Pada konteks Daerah, di Bojonegoro, alasan warga melapor adalah untuk meminta tindak lanjut dari aduan yang telah disampaikan ke dinas atau instansi terkait.

Ia menjelaskan dalam policy briefnya, Warga memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan publik yang sesuai dengan standar pelayanan publik (pasal 15 undang-undang pelayanan publik no.25/2009) dan mengawasi pelaksanaan standar pelayanan sesuai dengan yang tertera pada pasal 18 UU pelayanan publik No 25/2009.

Berdasarkan riset 'mengkaji efektivitas alat pengaduan publik' yang telah CPIG lakukan antara september 2015-februari 2016, ada beberapa rekomendasi.

"Untuk menigkatkan efektivitas alat pengaduan, pemerintah perlu ubah cara pandang sosialiasi menjadi kampanye,
Mayoritas warga belum mengetahui adanya sistem untuk menyampaikan pengaduan terkait pelayanan publik, sehingga belum banyak warga yang memanfaatkan, mingkatkan pengetahuan warga akan keberadaan alat pengaduan publik dapat membantu alat pengaduan seperti.

Lanjut Mona, integrasikan alat pengaduan kedalam sistem pemantauan kinerja pemerintah. Alat pengaduan hanya dapat menigkatkan kinerja instansi pemerintah jika respon pelayanan dijadikan tolak ukur kinerja. Hal ini menigkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah. Pastikan integrasi alat pengaduan terjadi sampai ke tingkat paling bawah,seperti tingkat desa atau RT/RW. Sertakan kanal pengaduan lainnya seperti jejaring organisasi ke dalam sistem pengaduan kika ada.

Kemudian untuk menigkatkan keterjangkauan alat pengaduan, pemerintah perlu mengetahui teknologi dan medium yang paling optimal digunakan oleh warga. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih bukan jaminan bahwa perangkat tersebut akan digunakan oleh warga. Dalam banyak kasus, warga masih menginginkan dialog langsung sebagai kanal komunikasi.

"Kenali dan manfaatkan kearifan lokal yang ada untuk kemudian diintegrasikan ke dalam sistem pengaduan setempat.libatkan pemimpin lokal sampai ke tingkat desa atau RT/RW untuk mengoptimalkan alat pengaduan publik," jelasnya.

Ditambahi olehnya, Untuk menigkatkan dampak alat pengaduan, pemerintah perlu menghilangkan rasa takut, bangun rasa percaya warga.
Beragam cara dapat di lakukan tergantung pada kemauan politik tiap pemimpinnya. Namun, cara pertama adalah menghilangkan sifat intimidatif pemerintah dengan berupaya menjadi pemerintahan yang mendengar.

Acara berlangsung cukup hangat. Banyak beberapa masukan atau kritikan dari peserta. Peserta yang hadir dari berbagai lembaga tersebut sangat antusias mengikuti acara sampai berakhir.(Wan/Red).

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .