Joko Waras, Balita Penderita Hidrosefalus Tanpa Sentuhan Kasih Sayang Bapak

Suara Bojonegoro     Rabu, November 16, 2016    

Reporter : Sasmito Anggoro


suarabojonegoro.com - (TUBAN) - Nasib, taqdir memang tidak bisa ditawar jika Tuhan sudah berkehendak, seperti yang dialami bayi yang berusia 14 bulan, yang seharusnya mendapatkan sentuhan dan kasih sayang dari kedua orang tua, apalagi sang bayi dalam kondisi yang tidak normal, seperti yang dialami Joko Waras ini.

Sebuah rumah yang berada di kaki bukit di Desa Sumberejo, Kecamatan Rengel, Tuban menyisakan sebuah kesedian buat keluarga Dwi Indah Setyowati. Pasalnya, buah hati yang masih berumur 14 bulan hanya bisa terbaring di tempat tidur lantaran penyakit hidrosefalus atau penyakit yang menyerang organ otak.

Balita kurang beruntung bernama Ahmad Sarul Mar'i ini, dilahirkan dengan cara ceasar tahun 2015 silam di rumah sakit Kabupaten Gresik. Lantaran sakit, maka keluarganya memanggil balita ini dengan panggilan Joko Waras. Penyakit yang diderita Joko Waras di ketahui oleh keluarganya ketika berusia dua bulan yang terdapat benjolan di bagian kepala. Setelah itu keluarga lalu membawa Joko ke rumah sakit Ibnu Sina Gresik untuk mendapatkan pertolongan secara medis.

Pihak rumah sakit menyarankan untuk operasi, tetapi suami Soleh Fatkur Rohman (22) asli Desa Pucung, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik tidak memperbolehkan. Karena suaminya merasa khawatir jika operasi itu akan mengakibatkan anaknya meninggal dunia.

“Awalnya mau di operasi, tetapi keluarga tidak mau karena takut meninggal,” ungkap Rini Eka Nur Hayati, bibi balita itu, Senin, (14/11).

Semakin hari benjolan di kepala balita itu semakin membesar. Hingga akhirnya suami dan istri sering berantem untuk merawat anaknya. Usai berantem dengan suaminya, Dwi Indah membawa pulang Joko Waras ke Tuban yang saat itu masih berusia tiga bulan.

Saat berada di Tuban, suaminya hanya satu kali menjenguk anaknya dan saat ini tidak ada kabar sama sekali. “Setelah bertengkar dengan suaminya, anaknya tidak pernah dijenguk dan ketika dihubungi lewat telepon tidak bisa,” cerita  bibi balita itu.

Sambil mengendong Joko Waras, Rini Eka bercerita bahwa saat ini Dwi Indah  telah mengajukan gugatan cerai kepada suaminya. Hal itu disebabkan bahwa suami tidak pernah memberikan nafkah selama dembilan bulan lebih. “Suaminya hanya sekali ke sini dan tidak mau kembali lagi, sekarang sudah pisah ranjang,” terang Rini Eka ini.

Saat ini, keluarga di Sumberejo yang dengan sabar merawat Joko Waras, tidak bisa membedakan apakah balita ini tidur atau bangun. Karena setiap hari hanya terbaling di atas kamar dengan kondisi yang terus memburuk. Bahkan sudah tiga bulan ini, Joko Waras tidak pernah menangis akibat penyakitnya. Mengetahui hal itu keluarga langsung melaportkan kepada pemerintah setempat untuk mendapatkan bantuan. “Sekarang Joko Waras hanya bisa berbaring di kamar,” sambung Rini Eka.

Sementara itu, Camat Rengel M. Mahmud yang saat itu menengok balita itu seketika itu segera mengurus administrasi kependudukan bersama denga Suhadi, Kades Sumberejo.  Hal itu dilakukan guna mendapatkan melengkapi persyaratan untuk berobat.

“Saat ini balita sudah kita rujuk ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, administrasi kependudukan sudah beres,” tegas M Mahmud. (Man/Ang/Lis)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .