Ketika Pahlawan dan Surabaya yang Berapi-api

Suara Bojonegoro     Jumat, November 11, 2016    

Refleksi Hari Pahlawan

Oleh: Moch Rahman Hakim (PMII Bojonegoro)

10 November tapak sejarah yang harus kian terkenang, sehingga menjadi suatu moment yang amat bisa menjadi sebuah teladan dan pematik semangat terhadap generasi ke generasi. Menjadikan kepemudaan ini selalu dapat berpartisipasi dalam setiap hal membangun dan memelihara rasa nasionalis serta rasa ke daerahan Bhineka Tunggal Eka. Keragaman yang harus terjaga demi indonesia, ketika kita mengerti kiyai adalah sebagai pewaris NABI. Maka kita pemuda adalah sebagai pewaris dari Pahlawan. Pemuda dan Pemudi, sahabat dan sahabati ku banyak hal yang harus kita jaga bersama banyak hal yang harus kita perbaiki bersama, jika dulu arek arek Surabaya bisa berapai api hanya dengan pidato Bung Tomo yang keras dan bersemangat. Maka kita pun seharus nya lebih semangat dan gigih dalam meneruskan Kemerdekaan.

Perlu kita ingat sahabat sahabati ku, 10 November 1945 indonesia pernah terbakar semangat dan surabaya menjadi bara api yang kian panas untuk memeprtahankan kemerdekaan pada saat itu. Ketika tanggal 15 September 1945  tentara inggris mendarat di kota jakarta , kemudian mendarat di surabaya tanggal 25 Oktober 1945. Tentara inggris atas nama blok sekutu datang dengan misi untuk melucuti tentara jepang serta memulangkan mereka kembali ke jepang pada saat itu dengan bergabung dalam AFNEI (allied force netherlands east indies). Namun selain dalam misi tugas blok sekutu, mereka datang juga membawa misi lain. Yaitu mengembalikan indonesia pada administrasi pemerintahan belanda sebagai negeri  jajahan Hindia Belanda dan NICA (netherlands indies civil administration) juga ikut membonceng pada inggris dengan maksud dan tujuan yang sama, untuk menguasai  administrasi pemerintahan.

Pada tanggal 27 Oktober 1945 meletus lah pertempuran pertempuran pertama anatara indonesia melawan tentara inggris, dari serangan serangan kecil berubah menjadi serangan yang besar yang memakan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Perang dan perang ini terus berlanjut sampai pada tanggal 29 Oktober 1945 di tandatangani gencatan senjata anatara pihak indonesia dan tentara Inggris, keadaan berangsur reda namun tetap saja bentrokan senjata antara rakyat dan tentara inggris itu berlangsung. 30 Oktober 1945 Dan ketika saat itu brigadir jendral mallaby (pimpinan tentara inggris bagian Jawa Timur) terbunuh dalam insiden bentrok baku tembak tersebut. Kematian Mallaby ini menyebabkan kembali marahnya inggris kepada pihak indonesia.

Namun peristiwa dari tanggal 15 Oktober sampai 30 Oktober ini tak lepas dari insiden di hotel yamato tunjungan surabaya. 1 September pengibaran bendera sang saka merah putih di seluruh pelosok kota surabaya dan indonesia. Namun sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan MR. W . V. CH . PLOEGMAN pada malam hari pukul 21.00 WIB 18 september 1945 dengan berani mengibarkan bendera belanda (merah putih biru) di tiang teratas hotel Yamato. Dan ke esokan harinya para Pemuda Surabaya melihat dan menjadi geram sehingga terjadilah insiden penyobekan bendera milik Belanda. Sahabat sahabati dari rangkain peristiwa tersebut sampailah pada ultimatume 10 November 1945 untuk meminta Indonesia menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA. Ketika pahlawan dan Surabaya yang berpai api karena imprealisme yang mencoba di bangun oleh penjajah saat itu.

Namun kenapa saat ini kita begitu nyaman dengan keadaan yang sama dengan penguasaan ekonomi, teknologi dan bahkan pertanian pun harus bergantung pada negara asing.  Mari pemuda kita rebut kembali simpul simpul kekuasaan itu, marilah kita merasa malu pemuda. Dan tutupi rasa malu itu dengan apa yang kau lakukan untuk Bangsamu, Pahlawanmu, Anakmu, Cucumu dan Generasi yang akan datang. Setiap masa ada orang nya dan setiap orang ada masa nya, dan ini lah pemuda. Ini adalah masa kita bersama untuk selalu bergerak dan bergerak dan berkontribusi penuh pada bangsa ini. Jangan sampai kita tergilas oleh sang waktu, mari kita gilas sang waktu oleh karya-karya besar kita, Pemuda. Sehingga bagaimana karya-karya itu dapat berdayaguna bagi Agama, Nusa dan Bangsa. SEKIAN !!

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .