Ketua Dewan Sayangkan Ditutupnya PR 369, Karena Jadi Penopang Ekonomi Masyarakat

Suara Bojonegoro     Senin, November 14, 2016    

Reporter : Sasmito Anggoro

suarabojonegoro.com - Adanya pengambialihan PR 369 Tobaco oleh Kurator dan berdampak dengan berhentinya beroperasi Perusahaan Rokok 369 sejumlah lima pabrik Rokok, yang juga memperkerjakan ribuan warga masyarakat sekitar Pabrik dan luar wilayah pabrik harus berhenti mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang sebelumnya dilakukannya, hal itu disayangkan oleh Ketua DPRD Bojonegoro Mitroatin, Senin (14/11/16).

Dikatakan oleh Mitroatin bahwa dengan tidak beroperasinya pabrik rokok 369 sangat berdampak dengan karyawan yang ekonominya bertopang pada pabrik rokok 369, karena kehilangan pekerjaanya.

"Seharusnya sebelum ada putusan pengadilan dan pengambil alihan oleh kurator semestinya ada mediasi dan juga pembahasan soal permasalahan pabrik antara pemilik pabrik dan pihak kreditur," Kata Mitroatin.

Karena menurut perempuan yang juga menjabat ketua DPD Golkar Bojonegoro ini, harus ada dampak yang perlu dilihat dari permasalahan perusahaan rokok 369, yaitu karyawannya, dan hilangnya pekerjaan para karyawan yang sudah lama bekerja dan menopangkan ekonominya terhadap pabrik rokok 369.

"Kami akan mencoba memanggil pihak pemilik Pabrik 369, dan ingin mendengar permasalahannya, karena ada dampak soal ekonomi masyarakat dan berapa ribu orang yang harus menjadi pengangguran akibat berhentinya pabrik 369 karena tidak beroperasi," tambah Mitroatin.

Selain itu dengan adanya kebijakan investasi pabrik maupun perusahaan di Bojonegoro, yang dibuka seluas luasnya, justru sangat disayangkan ketika ada pabrik yang sudah lama berdiri dan memberikan sumber ekonomi banyak masyarakat harus berhenti beroperasi karena persoalan pailit yang diputuskan oleh pengadilan tata niaga.

"Saya berharap pemerintah dapat membantu persoalan ini, agar permasalahan pengangguran dari karyawan pabrik rokok 369 ini segera teratasi," Pungkasnya.

Sementara itu, pemilik tunggal Pabrik Rokok 369 berharap adanya bantuan dari pihak pemerintah agar persoalan yang menimpa pabriknya dapat terselesaikan, karena pihaknya mengaku sampai saat ini keputusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Tata Niaga telah merugikan dirinya.

Karena menurut Goenadi sampai saat ini pihaknya belum merasakan pailit akan tetapi divonis pailit dan ada pengambil alihan aset perusahaan.

"Say tidak pailit namun divonis pailit, dan saya kasihan pada ribuan karyawan yang terpaksa harus menganggur karena tidak beroperasinya pabrik," Jelas Goenadi. (Ang*)



© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .