PAHLAWAN YANG SEBENARNYA

Suara Bojonegoro     Kamis, November 10, 2016    

Oleh : Said Edy Wibowo


Sebuah Renungan Hari Pahlawan



Tahukah anda pada nama-nama berikut ? Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, I Gusti Ngurah Rai, dan Pattimura, Jenderal Sudirman Ir.Soekarno, Bung Tomo. Tentu saja anda akan menjawab ya, saya tahu. Mereka adalah para pahlawan Nasional Bangsa Indonesia. Tapi, apakah anda mengerti siapakah yang disebut pahlawan? Menurut kamus besar bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa (1988), pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.

Pahlawan berdasarkan arti tersebut adalah orang yang memiliki keberanian, rela berkorban dan membela kebenaran. Sedangkan pahlawan dalam bahasa sansekerta (phala-wan) berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama (sumber : wikipedia)  Pada peringatan Hari Pahlawan.

Pemerintah menetapkan hari Pahlawan jatuh pada tanggal 10 November setiap tahunnya. Latar belakang ditetapkannya Tanggal 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan  Karena sebuah Nilai Hirarki dari perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah.

Meskipun saat itu Bangsa Indonesia Telah merdeka dan  kemerdekaan telah berkumandang di bumi nusantara dan manca Negara. Perjuangan Arek –arek suroboyo dari penjuru Jawa Timur dan sekitarnya bersatu padu dan berjuang hingga titik darah penghabisan dengan semboyan Merdeka atau mati.

Kalimat AllohuAkbar adalah Pekik pembangkit semangat yang diucapkan Bung Tomo saat itu. Pahlawan di masa lalu adalah orang yang rela memperjuangkan kemerdekaannya. Rela menyerahkan harta dan  nyawanya. Berani membela kebenaran demi tegaknya negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat.  Berbeda dengan dulu dan sekarang saya mengartikan pahlawan di masa sekarang adalah orang yang rela mengorbankan kepentingannya demi orang lain. Orang yang memiliki keberanian.

Siapapun dapat menjadi pahlawan. Tak perlu harus membawa bambu runcing dan senjata api berperang meregang nyawa karena saat ini jamannya beda. Seseorang yang mau menolong orang lain juga dapat disebut pahlawan.


Ayah Adalah Sosok Pahlawan

Orangtua adalah pahlawan bagi anak-anaknya Siapa yang dapat menyangkal pernyataan di atas?  Orangtua terdiri dari ayah dan ibu. Ayah yang bekerja membanting tulang. Berjuang sekuat tenaga demi kehidupan dan keberlangsungan anak-anaknya. Lelah tak ia rasakan. Keringat yang mengucur tak perlu dihiraukan demi satu tujuan makan dan kelangsungan pendidikan bagi anak tercintanya.  Ada sebuah lagu dari Ebiet G. Ade mampu menggambarkan sosok sang ayah.

Lewat lirik lagu “Titip Rindu Buat Ayah”.  “Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa,Benturan dan hempasan terpahat di keningmu Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras namun kau tetap tabah hm... Meski nafasmu kadang tersengal memikul beban yang makin sarat kau tetap bertahan Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkuk hm... Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia”.

Lagu diatas adalah ungkapan betapa sosok ayah yang bekerja keras berusaha untuk menjamin kelangsungan anak tercintanya agar bisa hidup layak tanpa memperhatikan kondisi fisiknya, Ayah menurut Hemat saya adalah sosok Pahlawan bagi Keluarganya.

Ibu Sang Pahlawan Sebenarnya

Sedangkan ibu adalah sosok wanita yang tegar. Seorang wanita yang melahirkan anaknya. Berjuang sekuat tenaga demi sebuah kehidupan mungil. Bahkan rela mengorbankan nyawanya. Ibu rela berkorban apapun demi sang anak. Ibu akan menjadi sosok yang garang dan pemberani seperti singa, saat merasakan adanya ancaman bahaya bagi anaknya. Ketika anak mendapatkan luka pukulan, fitnahan dan cacian, ibulah yang akan maju membela anaknya. Meski untuk alasan terburuk sekalipun. Ibu adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sebenarnya Ibu adalah seorang pahlawan bagi saya.

Beliau ibu  adalah orang yang rela mengorbankan dirinya untuk orang lain dan anak-anaknya. Meski tidak pernah dinobatkan oleh pemerintah sebagai pahlawan, meski tidak pernah dipublikasikan oleh media sebagai seorang pahlawan, meski tidak pernah mendapatkan tanda penghargaan berupa lencana dan sejenisnya, saya sangat yakin, dan saya juga yakin, pembaca pasti setuju dengan keyakinan saya, bahwa “IBU ADALAH PAHLAWAN” iya, Ibu, mama, emak, ummi, mami, nyak, atau sebutan apa saja, yang melekat pada sosok seorang perempuan yang tak pernah capai, tak pernah bosan, tak pernah berhenti, terus mencurahkan cintanya kepada ‘anak’ buah hatinya. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, seorang ibu akan bersungguh-sungguh untuk selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Malam hari dalam kondisi lelah dan ngantuk, seorang ibu rela bangun untuk mengganti popok bayinya yang basah dengan kencing, rela begadang semalaman saat balitanya sakit panas dan rewel tidak bisa tidur. Menginjak anaknya usia 7-8 bulan, dengan keterbatasan tenaga mendampingi sang buah hati yang mulai aktif merangkak ke sana kemari.

Sampai 3 tahun usia anaknya, seorang ibu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan akan menuntun dan mengajarkan anaknya untuk lancar berbicara, mulai mengenal huruf-huruf hijaiyah dan huruf latin. Ditambah lagi harus mengeluarkan tenaga ekstra, karena biasanya anak usia 3 tahun secara fisik sedang sangat aktif bergerak ke sana kemari, sehingga nyaris rumah rapi/bersih hanya dalam hitungan menit.

Belum lagi seorang ibu harus membagi waktu dan tenaganya untuk kewajiban lain, sebagai seorang istri yang berbakti kepada suaminya, Memasuki usia dan dunia sekolah bagi anaknya, perjuangan seorang ibu di medan lain pun telah menanti. Hari-hari pertama anak memasuki dunia barunya di sekolah, bagi sebagian anak mungkin tidak menjadi masalah, dalam waktu yang cepat bisa langsung beradaptasi dengan teman-teman di kelasnya, dan gurunya. Tapi sebagian anak, masa awal adaptasi menjadi masa yang cukup menegangkan, adakah dirinya akan selalu aman, jika anamk jauh dari ibu. Dalam kondisi anak seperti ini, tentu bagi ibu butuh kesabaran untuk meyakinkan dan mendampingi anak, sampai anak siap lepas dari ibunya.

Ketika anak mulai besar, boleh jadi perhatian dan capai fisik sudah mulai berkurang dirasakan oleh seorang ibu, tapi bukan berarti perjuangan selesai. Perjalanan masih panjang. Ibu akan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah anak-anaknya, ia rela banting tulang bekerja tak kenal lelah, karena biaya pendidikan yang terus melangit, sementara penghasilan suaminya tak bisa mengejarnya. Belanja untuk konsumsi harian akan diakali sedemikian rupa, agar bisa menabung untuk pendidikan anaknya.

Saya jadi teringat dengan kisah di zaman Rasulullah, saat seorang ibu dengan dua anaknya telah menerima sedekah sebutir kurma, dibelahlah kurma tersebut menjadi dua bagian, kemudian diberikan kepada dua anaknya masing-masing satu bagian, sementara sang ibu tidak mendapatkan secuil pun, tapi dia bahagia, dia tersenyum, karena dia telah membahagiakan anaknya. Kebahagiaan anak, akan menjadi kebahagiaan dirinya.

Cintanya tak pernah pupus, kasih sayangnya tak pernah lekang, perjuangannya tak kenal lelah, doanya tak henti dipanjatkan, demi kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya. Menjadi semakin mudah bagi kita untuk memahami, mengapa Rasul Muhammad SAW,  menyampaikan kepada kita bahwa “al jannatu tahta aqdamil ummahat” surga ada di bawah telapak kaki ibu.

Semoga kita pandai mensyukuri, memberikan yang terbaik untuk ibu, meski kita sadar, jasa ibu tidak akan pernah dapat dibalas oleh anaknya. IBU, kaulah orang terbaik di dunia. IBU, pahlawanku  sepanjang masa. Teriring do,a untukmu Kedua Orang Tuaku “Rabbigfirlie waliiwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanie shaghiraa. Aamiin.”.

*) Penulis adalah Guru di MAN Padangan dan Pelatih Pembina Pramuka Bojonegoro

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .