Produksi Migas Terlambat, Ketahanan Energi Terancam

Suara Bojonegoro     Selasa, November 01, 2016    

Selasa, 01 November 2016
Reporter : Tim Advetorial


suarabojonegoro.com - Keberhasilan eksplorasi yang ditandai dengan penemuan cadangan minyak dan gas bumi (migas) baru danlayak   untuk   dikomersialkan   tidak   serta-merta   mengurangi   kompleksitas   proses   di   industri   hulu   migas.   Pascapelaksanaan eksplorasi, ada beberapa tahapan kegiatan yang harus dilalui sebelum minyak atau gas bumi bisadiproduksikan. Sesuai   kesepakatan   dalam   kontrak   kerja   sama   (Production   Sharing   Contract/PSC),   tahap   pertama,Kontraktor   Hulu   Migas   menyusun   rencana   pengembangan   wilayah   kerja   migas   setelah   berhasil   menemukancadangan migas.

Perencanaan tersebut diperlukan agar cadangan migas yang terkandung di suatu wilayah kerjabisa diopmalkan hingga jangka panjang.Setelah pengajuan rencana pengembangan pertama atau  plan of development  (PoD) I disetujui MenteriEnergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kegiatan berlanjut pada pembangunan fasilitas produksi, seperti fasilitaspemrosesan sentral   (central processing   facility)   dan jaringan pipa.  Dalam   tahap  ini,  ketersediaan  infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan sangat mempengaruhi rentang waktu yang dibutuhkan untuk membangun fasilitasproduksi.

Tidak   jarang,   Kontraktor   Hulu   Migas   lebih   dulu   menyiapkan   infrastruktur   yang   dibutuhkan   sebelummembangun   fasilitas   produksi.   Langkah   itu   diambil   bila   lokasi   penemuan   cadangan   migas   berada   di   daerah terpencil. Hanya   saja,   upaya   tersebut   kerap   menghadapi   kendala   non   teknis.   Dalam   beberapa   kasus,   keterlambatan pembangunan   fasilitas   produksi   migas   terjadi   bukan   karena   alasan   teknis,   namun   lebih   banyak   disebabkanpermasalahan non teknis, seperti perizinan dan pembebasan lahan.

Efek   domino   pun   akan   terciptavbila   terjadi   keterlambatan   pembangunan   fasilitas   produksi. Temuan cadangan migas  yang  sedianya bisa  menahan  laju  penurunan  produksi, tidak  bisa diproduksikan sesuai  jadwal. Kondisi   tersebut   menyebabkan   hilangnya   potensi   penambahan   produksi   migas.   Imbasnya,   ketahanan   energyIndonesia   bakal   terancamkarena   produksi   migas   tidak   bertambah,   sementara   konsumsi   migas   kian membesar.

“Dukungan seluruh pihak sangat diperlukan agar kendala non teknis bisa lebih diminimalkan dan prosesproduksi migas bisa lebih cepat terlaksana,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas, Taslim Z. Yunus.

Proses   produksi   migas   yang   terlaksana   tepat   waktu   tidak   hanya   menjamin   ketersediaan   energi   diIndonesia. Kontraktor Hulu Migas atau investor pun bisa mengoptimalkan modal maupun sumber daya manusiayang dimiliki untuk melakukan kegiatan-kegiatan pengembangan. Seiring dilaksanakannya kegiatan pengembangan, Indonesia berpotensi memperbesar jumlah cadangan migas, sekaligus meningkatkan angka produksi migas. (Adv)

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .