PERAN ORANG TUA TERHADAP ANAK DI LEMBAGA BOARDING SCHOOL

Suara Bojonegoro     Wednesday, January 11, 2017    

Oleh : Moh. Muhajir

suarabojonegoro.com - Pendidikan seringkali menjadi topik menarik untuk di perbincangkan atau di diskusikan, meski sudah lama ada, pendidikan akan terus menjadi pilihan bagi anak atau orang tua dalam memilih dan menentukan masa depan, peran orang tua dalam menentukan tempat pendidikan sesuai tingkatannya menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan anak.

Secara fitrah rasa cinta orang tua terhadap anak sangat tinggi, dengan fitrah yang ada, maka orang tua sangat berperan penting dalam psikologi anak saat menempuh pendidikan, menurut (Abdullah 302:2002) Sesungguhnya Islam telah membebani para pendidik dan orang tua dengan tanggung jawab yang besar di dalam mengajar anak-ank, menumbuhkan kesadaran mempelajari ilmu pengetahuan dan budaya, serta memusatkan seluruh pikiran untuk mencapai pemahaman secara mendalam.

Dengan demikian pendidikan anak tidak lepas dari peran orang tua.
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama, tetapi dengan berbagai kesibukan yang dimiliki oleh orang tua, orang tua biasanya menempatkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan dengan berbasis boarding school atau pendidikan  pesantren, hal tersebut dilakukan oleh orang tua  dengan harapan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan dan pengawasan selama 24 jam.

Konsep pendidikan berbasis boarding school merupakan salah satu bentuk pendidikan yang mangharuskan peserta didik tinggal di asrama yang telah di siapkan oleh pihak pengelola pendidikan.
Hasil yang tampak bagi anak-anak yang menempuh pendidikan di lembaga yang menerapkan pendidikan berbasis boarding school menjadi daya tarik bagi orang tua yang terkadang lalai dan hanya berharap penuh pada guru, pengurus atau pengelola pendidikan tersebut.

Kelalaian orang tua yang hanya menyerahkan sepenuhnya kepada guru atau pengurus menjadi salah faktor ketidak berhasilan anak dalam menempuh pendidikan, meski orang tua sudah menempatkan anak-anaknya di lembaga pendidikan yang berbasis boarding school atau pesantren orang tua harus tetap mengawasi dan memperhatikan perkembangan anak.

Dalam mencapai kebahagian dunia akhirat, proses pendidikan ilmu umum dan agama pasti akan dilakukan oleh para orang tua kepada anak. Tetapi sifat hubungan orang tua dan anak seringkali terlupakan, faktor ini penting sekali dalam menentukan kemajuan belajar anak (Dalyono 239:2010).

Pendidikan merupakan proses dalam membentuk anak didik untuk menuju perkembanagan kedewasaan jasmani atau rohani, proses ini merupakan usaha dari orang tua atau pendidik untuk membimbing anak dalam arti khusus misalnya memberikan dorongan atau motivasi dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak. Dalam dunia pendidikan merupakan faktor penunjang dalam menentukan intensitas usaha dari anak dalam proses belajar, disamping itu, motivasi juga dapat dipandang sebagai suatu usaha yang membawa anak kearah pengalaman belajar sehingga dapat menimbulkan tenaga dan aktivitas anak serta memusatkan perhatian anak pada suatu waktu tertentu untuk mencapai tujuan.
Motivasi bukan hanya menggerakkan tingkah laku, teapi juga dapat mengarahkan dan memperkuat tingkah laku.

Anak yang memiliki motivasi dalam pembelajaran akan menunjukkan minat, semangat dalam belajarannya, sehingga anak tidak bergantung terus pada guru.
Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas yaitu dalam hal menumbuhkan gairah dalam belajar, merasa senang dan mempunyai semangat untuk belajar sehingga proses belajar mengajar dapat berhasil secara optimal. Siswa akan ada semangat belajar jika ada motivasi, baik itu motivasi eksterinsik maupun interinsik (Rusman 111:2013).

Dengan memperhatikan fungsi motivasi yang sangat besar manfaatnya bagi anak dalam proses belajar, maka dengan jelas fungsi orang tua sebagai motivator sangat dibutuhkan, lantas dengan cara apa? Agar orang tua dapat berperan dan memberikan motivasi kepada anak yang selama 24 jam berada di lembaga pendidikan yang berbasis boarding school atau pesantren.

Pertama. Orang tua harus berperan aktif dengan selalu memberikan motivasi dan mengunjungi anak di lembaga tersebut, selain berkunjung orang tua harus mereview kegitan kegiatan selama satu bulan, hal tersebut bisa dilakukan dengan memberikan pertanyaan sekitar pelajaran yang paling berkesan selama satu bulan, bisa juga bertanya kepada anak tentang hubungan anak dengan teman-temannya, selain itu, jika ada kendala yang dihadapi anak, orang tua harus memberikan masukan dan arahan agar anak dapat menyelesaikan dengan sendiri, orang tua harus tahu peran sentral guru menempati urutan kedua setelah orang tua itu sendiri.

Kedua. Memanfaatkan alat komunikasi berupa handphone, usahakan orang tua selalu menanyakan kepada guru atau pengurus tentang perkembangan atau kabar anak, selain aktif berkomunisai dengan guru atau pengurus, permasalahan sekecil apapun yang dihadapi anak di lembaga pendidikan berbaasis boarding school orang tua harus mengharap informasi dari guru atau pengurus, dengan demikian pesan yang diharapkan dari orang tua dapat disampaikan langsung kepada anak, meski orang tua berada dirumah.

Ketiga. Ketika perilaku menyimpang tejadi pada anak orang tua harus siap 24 jam jika guru atau pengurus meminta kehadirannya di lembaga untuk menyelesaikan perilaku menyimpang  yang di alami anak, karena tidak bisa kita pungkiri, anak-anak tahu konsep pacaran juga dari sekolah, anak-anak tahu merokok juga bisa karena di sekolah. Karena di sekolah atau di lembaga pendidikan boarding school terdapat teman-teman sebaya yang mudah ditiru anak-anak ketika ada perilaku yang menyimpang.

Ketika anak-anak melakukan hal-hal yang menyimpang dan tahu tentang pornografi, rokok, pacaran dll, janganlah langsung menyalahkan pada anak atau lembaga, tetapi lihatlah dan intropeksi diri sendiri. “Like father like son” kepribadian seorang anak diharapkan mirip dengan ayahnya, dengan demikian jika orang tua atau ayah memiliki kepribadian baik, anakpun bisa diharapkan meniru kepribadian ayahnya, begitu juga sebaliknya jika perilaku ayah kurang baik, maka anak juga bisa meniru perilaku ayahnya. Hal tersebut juga ada dalam pepatah jawa “Kacang ora ninggal lanjaran” yang artinya  perilaku-perilaku yang dilakukan orang tua biasanya di tiru oleh anak.


*) Penulis adalah Santri  PP. Al Falah Pacul Bojonegoro, beralamat di Bangilan Tuban

Media Partner

Media Partner

Labels

Media Patner

Mitra

Mitra

© 2014 Suara Bojonegoro. Designed by Suara Bojonegoro. .