Wednesday, February 15, 2017

Aroma Pilkada DKI Di Warung Kopi

    Wednesday, February 15, 2017  

Oleh : Intan Rohnawati

Hari ini nampaknya warung kopi mempunyai Identitas yang baru, dengan tidak mengurangi rasa egaliter yang selalu terjaga, pasalnya warung kopi adalah sarana gaul dari masa kemasa. Layaknya kisah Ken Arok yang disinyalir menggalang kekuatan Politiknya  melalui Kedai-Kedai yang biasa di pakai nongkrong para Begal (Perampok), sehingga menjadi medium pembelajaran Politik yang melahirkan perebutan kekuasaan yang sukses.

Seperti yang nampak di seputaran Jantung Ibu kota Bojonegoro sore hari ini, sejumlah anak muda berkumpul sembari menikmati seruputan kopi panas, dengan hanya bermodal secangkir kopi saja obrolan mereka berubah menjadi lebih berkelas, berdalih berbicara Politik, dan nasib Bangsa yang akhir-akhir ini semakin memanas khususnya suhu Politik di Ibu Kota.

"Nampaknya Pilgub DKI tahun ini lebih panas dari yang dulu-dulu ya brow", ujar Rianto (bukan nama sebenarnya) membuka obrolan.

Memang seperti yang di ketahui, Pilgub DKI yang di gelar hari ini (15/02/17) telah banyak menyita perhatian publik, persaingan untuk merebutkan orang nomor satu di DKI Jakarta ini banyak menguras tenaga dan fikiran Bangsa ini. Mulai dari isu Agama, isu Ras mewarnai dinamika Poltik Ibu kota kali ini.

"Namanya juga politik brow, yang halal nampak haram dan yang haram nampak halal", kata Sugik (bukan nama sebenarnya) membalas obrolan temannya.

Sebatang rokok dan secangkir kopi yang menemani obrolan mereka membuat suasana santai tapi serius semakin asik. Bak layaknya pengamat politik mereka berdua mencoba untuk mengkritisi politikus negri ini, walupun mereka sadar dari obrolan-obrolan mereka ini tidak akan mampu merubah nasib Bangsanya, namun paling tidak mereka berdua bisa menghabiskan waktu liburnya dengan suasana yang menyenagkan.

"Menurutmu calon gubernur DKI ini seberti apa, dan guburnur seperti apa pilihanmu", kata Rianto mencoba bertanya pada temannya.

Memang dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini ada tiga calon yang maju untuk merebutkan kekuasaan tertinggi di Kota yang di kenal macet dan banjir ini. Seperti Pendekar-Pendekar jawara Betawi mereka mengeluarkan jurus-jurus andalan untuk memikat hati para pemilihnya.

"Ketiga calon gubernur itu sama-sama mempunyai program yang baik untuk membenahi Jakarta, tapi di antara yang baik pasti ada yang terbaik diantaranya, pintar-pintarnya warga Jakarta yang harus dapat memilih yang terbaik", jawab Sugik yang sok bijak itu.

Disela-sela obrolan yang lagi panas-panasnya datang pedagang kopi yang memotong pembicaraan mereka, karena memang sudah waktunya pedagang ini berkemas untuk pulang dan menghitung laba hasil jualannya hari ini.

"Sudah-sudah waktunya pulang di lanjut besok saja, toh kalian juga nggak ikut milih to, ini Bojonegoro mas", katanya sambil menghitung harga kopi dan rokok berdua, yang harus menyudahi obrolan politik warung kopi. (*)

No comments:
Write comments