Tuesday, March 14, 2017

Sekolah Lapang Pertanian Pembekalan ke 6, Kupas Pemanenan dan Pengelolaan Pasca Panen

    Tuesday, March 14, 2017  

Reporter : Lina Nur Hidayah

suarabojonegoro.com -  Guna mengurangi dan memberikan solusi terhadap masalah pertanian di kecamatan Gayam, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) bekerja sama dengan ExxonMobile melaksanakan  sekolah lapang pertanian pembekalan ke 6 tentang pemanenan dan pengelolaan pascapanen dikediaman Sami’an Bonorejo.

Pembekalan ke-6 ini pengisi materi disampaikan oleh Darsan, dalam pembahasannya mengupas tentang
Penentuan saat panen, yang mana saat penentuan merupakan tahap awal dari kegiatan penanganan pasca panen padi. Selasa (14/3/17).

“Ketidaktepatan penentuan saat panen dapat mengakibatkan  kehilangan hasil yang tinggi dan mutu gabah yang rendah,”Katanya kepada suarabojonegoro.com.

Masih disampaikan Darsan bahwa
Penentuan saat panen dapat dilakukan berdasarkan pengamatan visual dan teoritis. Pengamatan visual dapat dikerjakan dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan lahan sawah sedangkan pengamatan teoristis dilakukan dengan melihat deskripsi varietas padi dan pengukuran kadar air dengan moisture tester.
“Berdasarkan kenampakan visual, umur optimal padi dicapai apabila 90 sampai 95 persen butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan,”Terangnya.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina Rahmawati bahwa guna meningkatkan kualitas panen maka dibutuhkan penanganan panen yang tepat, pemanenan padi harus dilakukan pada umur padi yang tepat, menggunakan alat dan mesin panen yang memenuhi standar,seperti  persyaratan teknis, kesehatan, ekonomi dan ergonomis serta menerapkan sistem panen yang tepat.

“Penanganan panen dan pascapanen secara tepat harus dilakukan  untuk menekan kehilangan hasil hingga 20%, sayangnya petani di Gayam agak susah untuk panen diwaktu yang tepat  karena petani desa setempat sering kesulitan mencari tenaga perontok,”Ungkap Dosen Fakultas Pertanian Unigoro.

Sementara, pada tahap pemanenan padi saja, kehilangan hasil dapat mencapai 9,52 % apabila pemanen padi dilakukan secara tidak tepat. Ketepatan waktu panen dapat ditentukan berdasarkan beberapa ciri antara lain 90 – 95 % gabah dari malai tampak kuning, malai berumur 30 – 35 hari setelah berbunga merata, kadar air gabah 22 – 26 % yang diukur dengan moisture tester.

Dalam pembekalan ini, Ketua Yayasan Suyitno, Arief Januarso juga menambahkan bahwa faktor lain untuk keberhasilan panen dengan menggunakan alat dan mesin pemanen padi yang tepat.

Alat dan mesin yang digunakan untuk memanen padi harus sesuai dengan jenis varietas padi yang akan dipanen.

“Alat pemanen padi telah berkembang dari ani-ani menjadi sabit biasa kemudian menjadi sabit bergerigi dengan bahan baja yang sangat tajam dan terakhir telah diintroduksikan reaper, stripper dan combine harvester,”Tambah Mas Ayik. (Lin/Red)

No comments:
Write comments