Thursday, April 13, 2017

Catatan Santri Untuk Mengenang Sang Kyai

    Thursday, April 13, 2017  

Oleh: Moh. Muhajir


suarabojonegoro.com -  Tujuh tahun yang lalu Rabu (30/6/2010) K.H.Masyhudi Hasan pendiri pondok pesantren Al Falah Pacul menghadap Sang Illahi Rabbi, bertepatan dengan tanggal 17 Rajab 1431 H. Sosok kiai sepuh ini meninggal setelah menjalani rawat inap di rumah sakit. K.H.Masyhudi Hasan merupakan salah satu tokoh yang ikut mengembangkan organisasi NU di Bojonegoro,  selain pernah aktif dipengurusan NU, beliau juga pernah menjadi pengurus MUI Bojonegoro dalam beberapa periode.

Jumat 14 April 2017 Haul ke-7 K.H.Masyhudi Hasan akan diperingati. K.H.Masyhudi Hasan lahir di Desa Pacul Kecamatan Bojonegoro, pada tahun 1932 Masehi. Beliau merupakan putra ke tiga dari sepuluh bersaudara, Ayah beliau seorang Kiai desa yang oleh masyarakat dipercaya sebagai guru ngaji Al-Quran, selain mengajar masyarakat sekitar, pada tahun 1930  K.Hasan juga memiliki santri yang berasal dari luar daerah, seperti; Jogja, Magelang, Cilacap dan Nganjuk. Meski rumah beliau ditempati santri dari luar daerah, beliau belum menamakan rumahnya sebagai pondok pesantren, namun hanya dijuluki padepokan.

Riwayat Pendidikan
Lahir dari pasangan K.Hasan dan Ibu Marfuah, Kiai Masyhudi sejak kecil sudah mendapat pendidikan agama dari kedua orang tuanya, selain belajar agama dari orang tuanya, beliau juga santri K.H.Abu Dzarrin Kendal, setelah menuntaskan ilmu nahwu dan shorof di pondok pesantren yang sekarang bernama “PP. Abu Dzarrin”, kemudian beliau melanjutkan pendidikan pesantren di Lasem Kabupaten Rembang, dibawah asuhan Syeh Masduqi beliau sangat lama belajar di Pondok Al Islah, tak heran jika dulu setiap haul Syeh Masduqi beliau pasti diminta panita untuk memimpin pembacaan tahlil.

Dalam mengarungi ilmu agama, K.H.Masyhudi Hasan nampaknya tidak cukup berguru kepada K.H.Abu Dzarrin dan Syeh Masduqi saja, beliau juga pernah berkelana guna memperdalam ilmu hadits  dengan menghhatamkan Shohih Bukhori dan Shohih Muslim kepada Kiai Hasan Asy’ari Poncol Bringin Salatiga. Selain itu juga pernah mengkhatamkan Kitab Ihya Ulumuddin kepada Kiai A. Siddiq Senori Tuban.

Berdirinya Pesantren
Pondok Pesantren Al Falah secara resmi didirikan pada tahun 1978 berdasarkan piagam dari Kementiran Agama Kabupaten Bojonegoro No:20/05.00/PP.00.7/168/2002. Peresmian secara ceremonial saat itu bersamaan acara pengajian ibu-ibu, akan tetapi sejak tahun 1968 K.H.Masyhudi Hasan sudah mengajar santri-santri dari desa pacul sendiri.

Awal mula Pondok Pondok Al Falah ditempati santri yang mukim adalah ketika K. Abdussalam Balen menitipkan putranya agar bisa belajar dari beliau, saat itu K.H. Masyhudi hasan belum percaya diri untuk mengajarkan ilmu agama yg telah didapatkan selama dipesantren, atas dorongan K.Abdussalam dan K.Mansur/Tohir Kapas beliau bertiga inilah yang kemudian bersama-sama menirakati berdirinya pondok, dengan sukarelawan ketiga orang ini iuran Rp.10.000 untuk membagun gotaan.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya santri yang mengaji dan mukim di Al Falah, maka K.H.Masyhudi Hasan yang saat itu sudah memiliki tanah waqof, dibangunlah gotaan/kamar untuk para santri, dalam pembangunannya, saat itu  beliau lakukan sendiri dengan dibantu para santri, pekerjaan tersebut selalu beliau lakukan setelah selesai mengaji. Salah satu bentuk bangunan yang sekarang masih ada adalah tempat wudhu dari genuk.

Meneladai Beliau

Bagi santri yang pernah mondok di Al Falah, semasa K.H.Masyhudi Hasan Sugeng (Hidup) pasti banyak memiliki kenangan yang InsyaAllah menjadi kenangan yang sulit untuk dilupakan, baik kenangan keistiqomahhan dalam mengaji atau saat beliau duka (marah).

Bagi penulis, beliau sosok Kiai yang memiliki keistimewan yang jarang diketahui santri, termasuk saya pribadi. Mengutip opini yang ditulis Ahmad Sunjani yang dimuat di Radar Bojonegoro pada edisi Ahad (4/7/2010) ketika beliau menjumpai kemuskilan dalam kitab, beliau pasti mengucap  “Qoolallahu ta’ala, wallahu asdaqul qooilin” berulang-berulang, dan kemusykilan itu pun tidak lama dapat ditemukan beliau, selait itu, beliau juga mengirikan Fatihah kepada pengarang kitab, ketika dalam kitab yang beliau kaji ada kemuskilan. Setelah selesai membaca fatihah telapak tangan beliau kemudian memukul dampar (meja), dan tak lama kalimat yang musykilpun mampu terjawab.

Penulis ingat, beberapa hari sebelum beliau kapundut, beliau memaksakan diri untuk pulang dari rumah sakit, keinginan beliau pulang karena beberapa hari tidak mengaji, keinginan pulang untuk mengaji bersama santri pun tidak dapat di cegah keluarga, karena kita tahu bagaimana karakter beliau. Meski saat itu Dr. Kholid Ubed yang sekarang menjadi ketua PCNU Bojonegoro mengizinkan pulang, Kiai Masyhudi saat di Ndalem (rumah) harus tetap menggunakan alat bantu oksigen dan dilakukan penguapan setiap hari. Dengan kondisi demikian, sama sekali tidak mengurungkan niat beliau untuk tetap mengaji bersama santri, tidak seperti biasa, saat itu beliau Ngaji dari dalam Ndalem (Rumah), santri putri di pendopo dan santri putra di mushola.

Penulis pribadi sangat mengagumi kesederhanaan beliau, apa yang saya ketahui tentang kiai/tokoh tidak saya temukan pada diri beliau, hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan sangat nampak pada diri beliau, tinggal di gotaan (kamar) yang sama dengan para santri, menunjukkan bagaimana hidup sederhana yang beliau contohkan. Meski terkadang ada sesuatu yang tidak bisa saya temukan jawabannya, seperti memadamkan lampu saat malam menjelang ujian nasional, hal tersebut selalu beliau lakukan setiap malam ujian dari tahun ke tahun.

Tahadduts bin ni’mah

Di sela-sela beliau ngaos (ngaji), penulis pernah mendengar bagaimana beliau memberikan motivasi kepada santrinya, beliau memberikan contoh keberhasilan dan kesuksesan para alumni Al Falah,  penulis ingat saat itu yang disampaikan adalah alumni perempuan yang saat itu terpilih menjadi salah satu kepala desa di Kec.Tambakrejo, beliau sangat bangga jika alumni Al Falah keberadaanya bisa diterima dan dipercaya masyarakat.

Perempuan yang dulu pernah diceritakan K.H. Masyhudi Hasan sebagai motivasi untuk para santri, sekarang menjabat sebagai ketua DPRD Bojonegoro, selain Ibu Mitroatin, ada Ahmad Sunjani dan Sahudi yang juga alumni Al Falah, mereka semua sekarang berkesempatan duduk di kursi legiselatif Bojonegoro, selain anggota dewan tersebut, ada Pak Sayfullah yang sekarang menjabat Rektor Universitas Yudharta Pasuruan.
Dalam polling  calon Bupati Bojonegoro versi pembaca Radar Bojonegoro ada beberapa calon yang muncul, dari sekian calon yang muncul, ada dua nama calon yang bernama Heru Suroso dan Mitroatin, keduanya merupakan politikus dan pengusaha yan pernah menjadi santri Al Falah. Setidaknya kesuksesan dan keberhasilan para alumni yang penulis sampaikan adalah bentuk tahadduts bin ni’mah yang perlu kita sukuri bersama.

Mungkin, hanya inilah sedikit catatan yang bisa penulis sampaikan, ibarat pepatah, tak ada gading yang tak retak, karena penulis sadar, catatan ini jauh dari kata sempurna, penulis menerima koreksi jika ada kesalahan atau keinginan pembaca untuk melengkapati tulisan tentang K.H.Masyhudi Hasan Rahimahullah.

Semoga tulisan ini menjadi cambuk penyemangat bagi para santri Al Falah. Bagi penulis, menjadi santri Al Falah merupakan kebanggan yang perlu di syukuri, dengan diiringi integritas yang tinggi, rasa mencintai dan memiliki harus benar-benar tertanam dalam diri santri Al Falah. Tidak perlu berfikir jauh besok mau jadi apa, yang terpenting adalah bagaimana kita berproses selama di Al Falah. Mengabdikan diri di Al Falah merupakan bekal yang kelak bisa kita jadikan modal untuk bermasyarakat. InsyaAllah.

Penulis: Moh.Muhajir (Santri AL Falah)
*Tulisan ini dipersembahkan untuk mengenang Haul ke-7 K.H.Masyhudi Hasan Rahimahullah *

No comments:
Write comments